Retribusi Pasar Burung “Kurang Merdu”
TULUNGAGUNG – Merdunya kicauan burung di Pasar Burung Beji, belum semerdu setoran retribusi ke kas Pemkab Tulungagung. Indikasinya, per tahun hanya ditarget Rp 18 juta.
Padahal, potensi pasar yang dulu berupa sub terminal tersebut, cukup besar. Terdapat 50 kios plus 2 los bango. Sayang, karena pengelolaan yang dianggap kurang maksimal, sehingga setoran ke pendapatan asli daerah (PAD) juga masih minim.
Berdasarkan pantauan RaTu, setidaknya 10 kios di pasar tersebut yang mangkrak.
Kondisi itu salah satu penyebab setoran retribusi yang kurang. “Kios itu sejatinya bukan mangkrak. Sudah ada yang mengkontrak namun tak digunakan,” ujar salah satu pedagang di Pasar Burung yang enggan disebutkan namanya.
Pria berkumis tebal ini mengatakan, beberapa pedagang enggan menempati kios di Pasar Burung. Penyebabnya, keuntungan berbisnis burung berkicau masih belum menjanjikan.
“Padahal, biaya sewa kios di Pasar Burung tergolong murah. Per kios yang belum ada listriknya Rp 5 juta. Sedangkan yang sudah memiliki fasilitas listrik biasa mencapai Rp 7 juta hingga Rp 19 juta per tahun,” katanya.
Ayah dua putra ini mengatakan, retribusi kios per bulan dari Dinas UMKM dan Pasar Tulungagung, tergolong rendah. Hanya Rp 22 ribu per kios. “Sebenarnya, nilai kontraknya sangat murah. Tapi entah kenapa pedagang enggan menempati,” paparnya.
Kepala Dinas Koperasi UMKM dan Pasar Tulungagung Edy Suyanto mengatakan, saat ini pihaknya masih mengevaluasi retribusi Pasar Burung. Menurut dia, PAD yang diperoleh dari retribusi pasara burung masih tergolong rendah alias jauh dari harapan. “Kami masih membahas berapa target yang tepat untuk retribusi pasar burung mulai tahun depan,” terangnya.
Menurut dia, saat ini, dalam satu tahun pasar burung ditarget menyumbang PAD Rp 18 juta. Terhitung hingga Juni ini sudah mencapai Rp 9 juta. “Jika melihat hingga Juni saja mencapai Rp 9 juta. Maka, target PAD dari Pasar Burung dinaikkan sepertinya juga sangat mampu,” pungkasnya. (tri/her)

