Radar Tulungagung, Jawa Pos Group, Jl. Panglima Sudirman 50A Tulungagung, Jawa Timur Indonesia

Belajar dari AFF

0107ratu1Uforia sepak bola Indonesia seakan terhenti sejak sekuat merah putih ditaklukan oleh Harimau Malaya Malaysia pada leg pertama partai final AFF di Stadion Bukit Jalil Kuala Lumpur, 26 Desember 2010. Setelah beberapa hari bahkan bebe­rapa minggu sejak dimulainya event sepak bola AFF digelar, masyarakat pecinta bola tanah air terhipnotis oleh prestasi luar biasa kesebelasan Indonesia pada babak penyisihan grup.
Dengan catatan statistik pertandingan “tak pernah terkalahkan”, mengantarkan mimpi indah pu­blik bola di tanah air pada keberhasilan kita pada partai final, de­ngan membawa piala AFF yang sudah 19 tahun kita idam-idamkan.
Namun seakan mimpi buruk menjadi kenyataan, berjuta-juta pasang mata terbelalak, hati terhenyak, rasa tak percaya, menyaksikan timnas asuhan Alfred Ridle itu bertekuk lutut atas timnas Malaysia, meskipun pada leg kedua, tim Garuda mampu unggul dengan skor 2 – 1, dan akhirnya piala AFFpun diboyong ke negeri Jiran Malaysia.
Tak sepadan memang, dengan hiruk pikuk dan dukungan luar biasa dari hampir seluruh lapisan masyarakat. Tetapi itulah sepak bola, penuh misteri dan unpredictable. Terlepas dari hasil akhir itu, bagaimanapun juga AFF menyisakan banyak hal untuk kita ambil hikmahnya.
Setidaknya ada tiga pelajaran berharga yang kita peroleh dari ajang AFF 2010 ini bagi kita sebagai sebuah bangsa, lebih-lebih sebagai umat beragama. Pertama, sebuah tujuan hanya dapat dicapai melalui proses panjang dengan perjuangan, pengorbanan, kerja keras, dan kerja sama seluruh komponen. Terjadinya gol dalam pertandingan sepak bola adalah hasil dari proses kerja sama seluruh pemain, akumulatif dari sekian banyak skill individu, ketahanan fisik, mental, stamina dan strategi yang diterapkan. Seperti pernah diungkapkan oleh Christian Gonzalles, bahwa gol yang diciptakannya bukan semata-mata karena dirinya sendiri, melainkan keberhasilan tim. Ini mengajarkan pada kita, untuk mencapai tujuan mulia diperlukan kerja sama dari seluruh unsur, kompetensi individual sangat diperlukan, serta harus didukung oleh strategi jitu menuju puncak keberhasilan.
Tentu kita semua pasti memahami, bagaimana keberhasilan dakwah Rosululloh SAW dalam menyebarluaskan ajaran Islam, Beliau mempunyai tim tangguh empat sahabat, Abu Bakar seorang saudagar dermawan, Umar bin Khatab panglima perang singa padang pasir, Usman bin Afan seorang ahli strategi dan peme­rintahan, dan Ali seorang tokoh muda cerdas dan pekerja keras. Dengan dukungan, pengorbanan, kerja keras, dan semangat pantang menyerah Hasbunallaah Wani’mal Wakil, ni’amalmaula wa ni’mal natsir, keberhasilan gemilang itu dapat tercapai. Sing tekun bakal ketekan, sing temen bakal tinemu, demikian nenek moyang kita mengajarkan.
Lebih lanjut tedapat ungka­pan,”man jadda wa jadda” siapa yang bersungguh-sungguh akan memperoleh hasil dari kesungguhannya. Tidak ada tujuan mulia yang dapat dicapai dengan cara instant, di dunia ini tidak ada yang gratis, kata mbok Ti,”kencing aja harus bayar”. Semua harus diupayakan dengan kerja keras, membanting tulang memeras keringat, dan bahkan cucuran air mata. Bukankah Allah berfir­man,”sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum mereka merubah nasib dirinya sendiri”.
Kedua, Kita sering kali merasa cepat puas dan sedikit nggege mangsa, takabur dan sombong. Timnas belum apa-apa, kita belum juara, tetapi publik sudah menempatkannya seakan-akan kita sudah meraih Piala. Mari kita ingat kembali, bagaimana kesibukan timnas menjelang laga final. Mereka disibukkan oleh kegiatan-kegiatan non teknis sepak bola. Mereka disibukkan dengan urusan-urusan protokoler upacara kenegaraan, undangan pejabat, wawancara di televisi, dan bahkan banyak pers, terutama media elektronik yang menempatkan para pemain bak seorang selebritis yang harus diwawancarai, diajak foto bareng, dimintai tanda tangan, yamg kesemuanya itu justru merugikan dan merusak konsentrasi para pemain.
Cara menempatkan dan pemberian penghargaan yang kurang proporsional seperti inilah yang membuat sikap mental para pemain kita agak lengah. Seperti diungkapkan oleh salah seorang pemain, Ahmad Bustomi melalui tweeter, ”Kekalahan kita mungkin peri­ngatan dari Allah SWT, karena banyak diantara kita yang merasa takabur. Kita belum apa-apa, namun banyak diantara kita sudah merasa juara”.
Untuk yang satu ini, penulis menjadi ingat akan hitung-hitu­ngan berbau klenik. Bangsa ini sudah terlalu banyak menerima peringatan Tuhan, sadar atau tidak, musibah-musibah besar di negeri ini terjadi pada setiap tanggal 26. Meletusnya Krakatau 26 Agustus 1883, Tsunami Aceh 26 Desember 2004, Gempa Jogja 26 Mei 2006, Gempa Tasikmalaya 26 Juni 2010, Meletusnya Gunung Merapi, dan Tsunami Mentawai 26 Oktober 2010. Dan anehnya kekalahan Timnas Indonesia atas Malaysia dengan skor telak 0 - 3 juga terjadi pada tanggal 26, tepatnya 26 Desember 2010, persis enam tahun setelah tsunami Aceh. Mengapa selalu tanggal 26? Ada apa dengan angka 26? Barangkali Allah telah menegur kita dengan ayat-ayatNya, cobalah kita buka surah ke 26, yakni Surah Asy Syu’araa’.yang pada ayat ke 5 Allah berfirman,” Dan sekali-kali tidak datang kepada mereka suatu peringatan baru dari Tuhan Yang Maha Pemurah, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya. Semoga dapat menambah iman dan rasa tunduk kita atas kekuasaan Allah SWT. “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”. (QS: Al Isro’: 37)
Ketiga, apapun kata orang, bagaimanapun analisis para pe­ngamat, seberapun besar duku­ngan publik, bolehlah kita bermimpi, berangan-angan terhadap timnas, namun inilah kenyataannya, inilah hasil akhir yang harus kita terima. Alhamdulillah, kita telah memiliki timnas yang cukup tangguh. Kerja keras timnas dan PSSI secara keseluruhan pantas mendapatkan apresiasi positif. Tawakal dan berserah diri, merupakan cara bijak menghadapi sebuah kenyataan. Jauhi sikap saling menyalahkan, apalagi mengkritisi tanpa memberikan solusi. Sembari di masa mendatang menata kembali strategi persepakbolaan di tanah air, yang steril dari kepentingan-kepentingan politik dan uang. Agar kita bisa bernyanyi:

Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
Yakinlah hari ini, pasti menang…

Kalau toh tidak hari ini, dengan kerja keras, pantang menyerah, kerja sama semua komponen, di masa mendatang kita pasti bisa. Kegagalan adalah sukses yang tertunda.
“Jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah me­reka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku.” Kepada- Nyalah ber­tawakkal orang-orang yang berserah diri (QS: Az Zumar: 38).
“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku, kepada ibu bapakku, kepada para guru, para pemimpinku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Penulis adalah Guru IPA di MTs Negeri Pucanglaban Tulungagung.
>