Euforia Kelulusan & Pelanggaran Etika
Pemandangan tidak etis yang sama dari tahun ke tahun selalu kita temui setelah hasil Ujian Nasional diumumkan. Ungkapan kegembiraan yang melewati batas etika dan moral bisa dijumpai setiap daerah dan kota, aksi corat-coret seragam sekolah, kebut-kebutan di jalan, di beberapa tempat malah diwarnai pula dengan kericuhan, tawuran dan aksi brutal, termasuk juga menjarah. Perilaku tak terpelajar dilakukan para pelajar. Kita belum menemukan sekelompok pelajar yang sujud syukur karena lulus ujian. Kalau yang tepergok pesta minuman keras di objek wisata banyak.
Nampaknya saat ini diperlukan usaha serius untuk mengantisipasi pelanggaran etika saat euphoria lulusan sekolah. Sosok generasi yang diinginkan oleh semua warga negeri ini adalah pribadi terpelajar yang memiliki budi pekerti mulia. Untuk mengatisipasi pelanggaran etika oleh para pelajar, tidak cukup hanya dengan himbauan dari orangtua, guru, maupun kepala dinas pendidikan. Melainkan edukasi yang intensif dan komprehensif.
Pendidikan kita yang semakin sekulerisme-materialistik menjadikan etika dan budi pekerti tidak lagi sebagai standar kelulusan, pendidikan agama yang hanya dua jam pelajaran per minggu di sekolah, sedikitnya orang tua yang serius menanamkan etika dan budi pekerti di rumah, barangkali menjadi penyebab paling dominan kasus ini.
Solusi komprehensif jangka panjang untuk pelanggaran etika saat perayaan lulusan agar tidak berulang dari tahun ke tahun adalah merombak system pendidikan yang sekulerisme-materialistik menjadi lebih ethical-based dan lebih religious. Orang tua juga harus mempunyai komitmen total untuk lebuh care terhadap etika, moralitas dan akhlak anak-anaknya. Keluarga adalah ruang utama dan pertama bagi pendidikan generasi bangsa. Keluargalah yang akan bisa menanamkan sikap syukur atas kelulusan. Kemudian mewujudkan rasa syukur tersebut dengan melakukan amal kebaikan seperti bersedekah, semakin giat belajar, semakin taat kepada orang tua yang telah mendoakan, mendatangi guru untuk berterimakasih atas bimbingannya tak lupa juga minta maaf dan sebagainya. Hal ini jelas tidak mudah untuk dilakukan. Dibutuhkan perjuangan, kesabaran dan energi untuk jangka panjang.
Disamping usaha preventif, tindakan instan juga harus dilakukan seperti perbaikan mekanisme penyampaian pengumuman kelulusan yang tidak member peluang untuk pembentukan gerombolan masa di luar sekolah. Pemanfaatan teknologi informasi bisa menjadi solusi pengiriman informasi kelulusan kepada para siswa.
Antisipasi konvoi di jalan raya yang jelas akan menganggu lalu-lintas bisa dilakukan secara berkolaborasi para pemegang kebijakan dan aparat keamanan. Buat kebijakan dan kontrol untuk meniadakan atau minimal membatasi pesta hura-hura lulusan sekolah. Beberapa kabupaten telah berhasil mengisolir ruang gerak konvoi dengan memblokir beberapa ruas jalan. Pemantauan terhadap tempat-temapat wisata oleh aparat keamanan perlu diperketat pada hari pengumuman kelulusan. Sweeping untuk anak-anak sekolah mungkin perlu dilakukan. Bukankan mencegah lebih murah dan lebih baik dari pada mengobati.
Sekaranglah saatnya kita semua bergerak untuk menyelamatkan generasi negeri ini. Kita berpacu dengan waktu tidak perlu menunggu untuk memformulasikan tindakan. Banyak upaya dan pemikiran dibutuhkan agar kita bisa menjadi bangsa yang lebih baik. Tidak ada salahnya kita menggencarkan kembali kegiatan pembinaan akhlak, etika dan moral baik di tempat-tempat ibadah, sekolah maupun dalam keluarga. Generasi muda adalah asset bangsa yang sangat tinggi nilainya. Yang bertanggung jawab atas perbaikan etika dan moral generasi adalah semua pihak, mulai dari individu, keluarga, pihak sekolah, aparat hingga institusi negara.
Penulis adalah: Guru SMPN 1 Kedungwaru yang sedang studi S2 di MM-UGM Yogyakartav

