Semakin Dekat dengan Pembaca

11.107 Siswa Terima BKSM

Tak Boleh Masuk Rekening Sekolah

KABUPATEN BLITAR – Belasan ribu pelajar tidak mampu jenjang SD di Bumi Penataran bisa bernapas lega. Itu setelah nama mereka tercantum sebagai penerima bantuan khusus siswa miskin (BKSM). Dinas pendidikan (dindik) menegaskan bahwa bantuan ini tak boleh masuk ke rekening sekolah, melainkan langsung ke rekening siswa.

Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SD Dindik Kabupaten Blitar, Wiji Asrori mengungkapkan, sekolah hanya bertugas memberikan informasi terkait teknis penyaluran bantuan. Termasuk mengirimkan nomor rekening siswa ke dindik untuk proses transfer uang. Menurutnya, upaya ini agar bantuan bisa tepat sasaran.

“Jadi (bantuan) tidak boleh masuk sekolah. Makanya diterapkan sistem by name by addres (BNBA) biar langsung ke rekening siswa,” ujar Wiji kemarin (21/1).

Sama seperti tahun lalu, bantuan tersebut berbentuk uang tunai. Masing-masing siswa bakal menerima bantuan sebesar Rp 250 ribu tiap tahun. Mekanisme penyalurannya, lanjut dia, bantuan hanya bisa ditransfer saat siswa sudah melakukan verifikasi di sekolah dan bank penyalur.

“Hanya untuk siswa tidak mampu yang belum terdaftar sebagai penerima program Indonesia pintar (PIP). Tidak ditemukan penerima ganda, karena kalau sudah menerima bantuan lain tidak bisa dapat BKSM,” ungkapnya.

Wiji mengungkapkan, penerima BKSM tahun ini meningkat drastis. Yakni, sebanyak 11.107 sasaran. Data penerima tahun lalu hanya sekira 2.850 penerima. Pihaknya menilai naiknya jumlah itu tak lepas dari wabah pandemi yang terkendali. Karena itu, pos anggaran untuk bantuan siswa miskin lebih besar.

Bicara soal alokasi anggaran, imbuh dia, juga terjadi perbedaan. Misalnya, total alokasi BKSM 2022 lalu sekitar Rp 997 juta. Lalu, total dana BKSM tahun ini mencapai Rp 2,7 miliar yang bersumber dari dana alokasi umum (DAU). Kenaikan itu, kata dia, menyesuaikan dengan banyaknya penerima bantuan.

“Kami ajukan banyak sesuai data yang kami peroleh dari dinsos, bahwa memang masih ada siswa miskin yang belum dapat bantuan,” jelas pria tinggi semampai ini.

Bertambahnya jumlah penerima siswa miskin itu, jelasnya, bukan indikator naiknya angka kemiskinan. Namun, masih ada siswa yang belum ter-cover bantuan lantaran pandemi. “Karena dari dulu data kemiskinan itu sudah ada. Selain itu, lantaran tahun lalu puncak Covid-19, yang dapat hanya sedikit karena refocusing anggaran,” terangnya.

Penyaluran bantuan dilakukan awal tahun ini. Pihaknya meminta agar siswa yang sudah menerima bantuan bisa memanfaatkan sebagai penunjang belajar. Seperti membeli buku hingga perlengkapan lainnya. Dia juga menegaskan bahwa bantuan tersebut khusus untuk kebutuhan sekolah anak.

“Bukannya malah dipakai buat beli beras atau dipakai kebutuhan orang tua. Syukur kalau bantuan itu sisa, anak bisa menabung,” tandasnya. (luk/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.