Semakin Dekat dengan Pembaca

201 ODHA Trenggalek Enggan Berobat Rutin, Pindah Domisili Mempersulit Pemantauan

TRENGGALEK – Bumi Menak Sopal tampaknya memerlukan relawan khusus untuk melakukan pembinaan juga pendampingan terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Hal tersebut dilakukan agar para ODHA tersebut rutin melakukan pengobatan. Pasalnya, sejauh ini tidak semua ODHA rutin melakukan pengobatan untuk minum Antiretroviral (ARV).

Itu terlihat berdasarkan data yang ada di Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkesdalduk KB) Trenggalek saat ini, tercatat ada 349 orang warga Trenggalek yang positif HIV/AIDS. Dari jumlah tersebut, hanya 148 orang yang rutin berobat dan minum ARV. Tak ayal, hal tersebut sangat disesalkan lantaran ARV merupakan bagian dari pengobatan HIV/AIDS untuk mengurangi risiko penularan HIV, menghambat perburukan infeksi oportunistik, meningkatkan kualitas hidup penderita HIV, dan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam darah sampai tidak terdeteksi. “Karena itu kami selalu mendorong mereka agar selalu rutin berobat,” ungkap Kepala Dinkesdalduk KB Trenggalek dr Saeroni.

Dia menambahkan, untuk tahun ini ada 43 pasien baru HIV/AIDS. Jumlah tersebut merupakan hasil skrining HIV/AIDS yang dilakukan dinkesdalduk KB terhadap 10.407 orang yang berasal dari kelompok berisiko. “Karena itu pasien baru juga terus tetap kami dorong untuk rutin berobat dan minum ARV,” katanya.

Sementara untuk kaum berisiko yang menjalani skrining HIV/AIDS tersebut meliputi pekerja seks, pasangan berisiko, lapas, penderita tuberkulosis (TB), hingga ibu hamil. Khusus seluruh ibu hamil dilakukan pemeriksaan agar bayi dalam kandungannya tersebut tidak tertular virus. Cara itu dilakukan untuk menekan angka penyebaran virus tersebut di Trenggalek, juga untuk memberikan sosialisasi kepada penderita agar rutin menjalani pengobatan.

Rutin dalam menjalani pengobatan dilakukan agar virus yang ada dalam tubuh pasien tersebut bisa menurun, hingga bisa memutus mata rantai penularannya. Sementara bagi pasien yang putus berobat tersebut, rata-rata mereka pindah domisili ke daerah lain, hingga luput pemantauan juga ada yang meninggal. “Sebenarnya khusus pasien yang mau pindah ke daerah lain tidak perlu meninggalkan pengobatan, sebab ada cara lain agar bisa rutin berobat ke daerah yang dituju. Sehingga untuk proses itu, kami ada sistem pencatatan, dan pasien itu tinggal melapor, lalu untuk pengobatannya ada sistem pencatatan,” jelas mantan Direktur RSUD dr Soedomo Trenggalek ini. (jaz/c1/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.