Semakin Dekat dengan Pembaca

2022 Panen Kasus Panjang Tangan, Kriminalitas di Tulungagung Tiap Tahun Meningkat

Tulungagung – Kota Marmer masih belum aman dari tindakan kriminalitas. Bahkan, kasusnya meningkat tiap tahun. Dari catatan Polres Tulungagung selama tahun 2022, terdapat 681 kasus yang ditangani. Namun, kasus yang melibatkan oknum pencak silat juga cukup tinggi. “Baik reserse kriminal umum dan khusus, jumlah total kasus yang kami ditangani selama 2022 sebesar 681 kasus. Dari jumlah itu, ada penyelesaian kasus 107 persen yaitu sebanyak 686 perkara, karena ada kasus 2021 yang belum selesai,” ujar Kapolres Tulungagung AKBP Eko Hartanto.

Angka kriminalitas jika dibandingkan dengan tahun 2021 mengalami kenaikan mencapai 138 kasus atau sekitar 25 persen. Lalu, jumlah tersangka selama 2022 mencapai 203 orang. Jumlah ini juga meningkat daripada tahun lalu yang berkisar 140 tersangka dari 543 kasus. Kasus yang mendominasi yaitu pencurian, penipuan, dan pengeroyokan.

Eko menceritakan bahwa ada lima kasus yang menonjol selama 2022. Di antaranya, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hingga korban meninggal dunia yang berlokasi di Desa Tenggong, Kecamatan Rejotangan. Kejadian tersebut terjadi pada akhir Maret, dengan akar masalah perebutan warisan. “Kasus KDRT hingga meninggal dunia juga terjadi di Desa Besole, Kecamatan Besuki. November lalu, pelaku divonis 8 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Tulungagung,” jelasnya.

Kasus menonjol lainnya yakni kasus persetubuhan korban meninggal dunia dengan tempat kejadian perkara (TKP) di Desa Panjerejo, Kecamatan Rejotangan. Bahkan, pertengahan Desember 2022 lalu, pelaku telah divonis hukuman penjara selama 5 tahun. Hal itu setelah terbukti menyetubuhi hingga lalai dalam merawat korban usai kecelakaan.

Kasus penggeroyokan korban anggota TNI dengan tersangka oknum perguruan silat TKP Desa Pakel, Kecamatan Ngantru. Lalu, temu mayat bayi TKP kantor Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dispendikpora) Tulungagung juga termasuk yang menonjol pada 2022. “Ini ada peningkatan cukup signifikan dari kasus oknum pencak silat, dari 2021 ada sebanyak 26 kasus. Pada 2022 lalu, kasus tersebut meningkat hingga menjadi 39 kasus. Ada peningkatan 13 kasus,” ujar polisi dua melati di pundak ini.

Dia melanjutkan, pihaknya terus menjadikan kasus yang melibatkan pencak silat menjadi atensi, terlebih pengeroyokan yang biasa dilakukan mereka. Apalagi, jika di jalan melihat orang lain menggunakan atribut yang beda darinya hingga terpancing emosi. “Kekerasan ini mulai dari pengeroyokan, penganiayaan, hingga pengrusakan,” ungkap.

Namun, dalam pengungkapan kasus tersebut, polisi juga mengalami kesulitan. Di antaranya bila ada kasus yang minim saksi yang melihat langsung kejadian, seperti di area persawahan, penerangan yang kurang dan tidak ada hilir mudik masyarakat. Kesulitan lainnya, minimnya sarana CCTV dan terkendala mencari petunjuk tambahan dari kasus. “Selain itu, kurangnya sarana dan prasarana yang memadai sehingga harus meminta bantuan kepada Polda atau Mabes Polri. Kami juga menemui pelaku yang menggunakan identitas palsu, yang membuat pengungkapan kasus lama,” pungkasnya.(jar/c1/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.