Semakin Dekat dengan Pembaca

3.308 Perempuan Menjanda di 2022

KOTA BLITAR – Kasus perceraian di Blitar Raya masih relatif tinggi. Buktinya, tahun ini Pengadilan Agama (PA) Blitar Kelas 1A menerima ribuan perkara cerai gugat maupun talak. Umumnya, perpisahan itu disebabkan karena faktor ekonomi dan ketidakcocokan.

Juru bicara PA Blitar Kelas 1A, Edi Marsis menyebut, selama periode Januari hingga Desember tahun lalu, pihaknya menerima 4.096 perkara cerai. Dari jumlah itu, 2.971 perkara cerai gugat diajukan pihak istri, sedangkan dari pihak suami tercatat ada sekitar 1.125 perkara cerai talak yang ditangani.

“Paling banyak diajukan gugatan cerai istri terhadap suami. Hampir setiap tahun kondisinya seperti ini. Gugatan sangat tinggi jika dibandingkan dengan cerai talak,” ujarnya.

Meski ribuan perkara itu sudah terdata, tetapi tidak semua permohonan cerai dikabulkan. Menurutnya, pasangan suami istri (pasutri) tetap difasilitasi untuk mediasi. Itu sesuai regulasi yang berlaku, merujuk produk hukum Peraturan Mahkamah Agung (Perma) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Mediasi. Utamanya dalam menangani perkara kontensius.

Edi -sapaan akrabnya- menambahkan, hasil dari mediasi itu diklasifikasikan sesuai dengan keputusan hakim dan pasutri. Misalnya, bisa saja permohonan cerai itu dikabulkan, dicabut, hingga ditolak.

Nah, tahun lalu paling banyak pengajuan cerai yang dikabulkan. Itu karena pihak pria dan perempuan sudah merasa tidak cocok.

Fenomena perceraian ini disebabkan sejumlah faktor. Di antaranya, impitan ekonomi, perselingkuhan, dan pertengkaran terus-menerus. Menurutnya, beberapa penyebab ini paling mendominasi sejak beberapa tahun terakhir.

“Mediasi wajib dilakukan di setiap alur perceraian. Syukur-syukur tidak jadi bercerai dan memperbaiki hubungan rumah tangga. Tapi, fakta di lapangan memang angka perceraian masih lumayan tinggi,” terang pria berkacamata ini.

Untuk diketahui, dari total 2.971 perkara gugatan cerai, sebanyak 2.428 perkara diputus untuk dikabulkan. Lalu, cerai talak yang dikabulkan sebanyak 880 dari total perkara 1.125 yang diajukan. Artinya, status ribuan pria dan perempuan berubah, dari suami dan istri menjadi duda dan janda.

Pihaknya menambahkan bahwa masih ada sejumlah perkara yang belum tuntas pada 2022 dan bakal berlanjut tahun ini. Sisa cerai talak masih ada sekitar 110 perkara dan sedikitnya 262 perkara. “Yang sudah diputus untuk cerai total ada 3.308,” tandasnya.

Untuk diketahui, pada 2021 lalu perkara perceraian di Blitar Raya mencapai 4.353. Rinciannya, cerai gugat yang diajukan pihak istri 3.108 perkara, sedangkan sisanya dilayangkan oleh pihak suami. (luk/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.