Semakin Dekat dengan Pembaca

30,92 Persen Bumil di Kota Blitar Berisiko

Nyawa menjadi pertaruhan untuk menjadi seorang ibu. Hal itu tidaklah berlebihan. Sebab, nyaris tiap tahun ada perempuan meninggal ketika proses persalinan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Blitar, Agus Sabtoni mengatakan, angka kematian ibu (AKI) risiko tinggi rata-rata disebabkan karena tekanan darah tinggi. Rata-rata ibu hamil sebanyak 1.900 orang per tahunnya. Pada 2020, angka kematian ibu hanya 4 orang. Namun, angka kematian ibu pada 2021 naik secara drastis yakni mencapai 17 orang. “Per hari ini (kemarin, Red) angka kematian ibu pada 2022 sebanyak 3 orang,” terangnya.

Ibu hamil risiko tinggi per November 2022 sebanyak 505 orang. Yakni, sebanyak 30,92 persen dari seluruh ibu hamil di Kota Blitar. Ada beberapa faktor penyebab ibu hamil risiko tinggi. Di antaranya, usia ibu saat mengandung lebih dari 40 tahun, tinggi badan ibu kurang dari 150 sentimeter, dan kurang gizi. “Hal tersebut bisa diantisipasi dengan pemenuhan gizi yang seimbang,” katanya.

Ibu hamil risiko tinggi harus segera memenuhi kebutuhan gizi seimbang. Sebab, itu akan berdampak pada kondisi kesehatan ibu dan anak. Jika ibu tidak dapat memenuhi kebutuhan gizinya dan janin, maka ibu bisa terjangkit kurang energi kronis. “Kalau ibu hamil kurang energi kronis, maka dapat melahirkan bayi badan lahir rendah (BBLR) dan bayi stunting,” paparnya.

Pihaknya mengaku telah melakukan pendampingan kepada ibu hamil risiko tinggi. Namun, belum semua bisa terpantau oleh dinkes. “Banyak ibu hamil yang berdomisili di luar Kota Blitar sehingga kami sulit memantau perkembangan kesehatannya,” akunya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Blitar Dharma Setiawan mengatakan, pemerintah terus berupaya untuk menurunkan AKI. Intervensi pada ibu hamil menjadi salah satu alternatifnya. Sebab, kondisi ibu hamil menentukan kondisi bayi. Jika ibu sehat, maka resiko lahir bayi stunting kecil. “Pencegahan bayi lahir stunting dilakukan pada 1.000 hari pertama. Jadi, sejak masih janin hingga berumur dua tahun,” terangnya.

Ibu hamil risiko tinggi dapat berujung kematian jika tidak ditangani dengan tepat. Artinya, calon ibu harus memperhatikan gizi pada makanan yang dikonsumsi. Ibu hamil risiko tinggi dipastikan dengan dua parameter. Yakni, ibu hamil tidak mengalami anemia dan ibu hamil memiliki lingkar lengan atas minimal 23,5 aentimeter. “Jika kedua hal tersebut ada yang tidak terpenuhi, maka ibu masuk dalam kategori ibu hamil risiko tinggi,” tandasnya. (mg1/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.