Semakin Dekat dengan Pembaca

343 Mahasiswa UNTAG Surabaya KKN di Blitar, Berupaya Kenalkan Digitalisasi Pemdes hingga Kembangkan Potensi Lokal

KABUPATEN BLITAR – Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya dikenal sebagai salah satu eco kampus di Indonesia. Ini dibuktikan dengan sejumlah produk hasil karya mahasiswa yang peduli alam dan lingkungan. Di samping itu, transformasi digitalisasi menjadi program unggulan pada kuliah kerja nyata (KKN) di Kecamatan Kanigoro.

Kemarin (12/1), suasana di Pendapa Sasana Adhi Praja Kabupaten Blitar terlihat ramai. Ratusan mahasiswa berjas merah memadati kantor bupati dan wakil bupati tersebut.

Mereka adalah mahasiswa dari Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya. Beberapa tampak menata meja dengan pola seperti huruf “U”. Mereka membentuk 11 kelompok dan berkumpul dengan kelompoknya masing-masing.

Didatangi Koran ini, sebagian mahasiswa tampak sibuk mempersiapkan hasil produk untuk dipresentasikan. Sebagian lainnya ada yang sibuk menyiapkan alat, menata, dan membersihkan, serta ada yang mendokumentasikan kegiatan tersebut. Tak hanya mahasiswa, para dosen pembimbing dan tim supervisi juga tampak antusias menilai hasil produk mahasiswa. Sebab, hasil karya inilah yang selama ini dinantikan.

KKN yang berlangsung di beberapa desa di Kecamatan Kanigoro ini bertujuan untuk melakukan pemberdayaan potensi lokal masyarakat setempat. Jika melirik potensi desa, pasti terdapat perbedaan potensi, baik dari sumber daya alam maupun sumber daya manusia. “Salah satu tujuan pengembangan potensi desa yang dilakukan pada program KKN ini adalah menjadikan desa mandiri. Artinya, potensi desa dapat dikembangkan dan digerakkan oleh masyarakat sendiri,” ujar Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNTAG Surabaya, Aris Heriandriawan.

Dia menuturkan, program One Village One Product (OVOP) dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar menjadi acuan pada kegiatan KKN ini. Pemberdayaan masyarakat berdasarkan potensi lokal menjadi sarana untuk mendorong agar desa mampu memiliki satu produk sebagai ciri khasnya. “Terkadang masyarakat itu punya potensi, tapi tidak merasa bahwa itu merupakan sebuah potensi,” paparnya.

 

(TITANIA NOOR SHOLEHA/RADAR BLITAR)

 

UNTAG Surabaya telah menjalin kerja sama dengan Pemkab Blitar. Tidak hanya kerja sama tertulis, tetapi juga diimplementasikan melalui berbagai program pemberdayaan. Kegiatan KKN ini menjadi salah satu bentuk implementasi dari kerja sama yang sudah berlangsung selama dua tahun, yakni sejak 2020 lalu. Tentunya, inovasi dan pengembangan potensi selalu terbukti nyata.

Di lokasi yang sama, koordinator lapangan (korlap) KKN di Kabupaten Blitar, Eko April Arianto mengaku, Kecamatan Kanigoro adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Blitar yang mampu menjadi pusat ekonomi. Sebab, banyak potensi yang dapat dikembangkan, misalnya pertanian, perdagangan, dan wisata. “Kami telah beberapa kali mengoptimalkan potensi ketahanan pangan di Desa Papungan, potensi pariwisata di Minggirsari, dan akan berlanjut ke Desa Sawentar,” aku pria ramah ini.

Ari -sapaan akrabnya- berharap kontribusi pada kegiatan KKN yang telah dilakukan secara maksimal oleh para mahasiswa dapat menunjang percepatan ekonomi masyarakat. Setiap desa memiliki kekuatan, baik sektor wisata, peternakan, pertanian, maupun kelembagaan. “Pastinya, jika potensi masing-masing desa bisa berkembang akan terjadi peningkatan ekonomi di desa tersebut,” jelasnya.

Potensi di Kabupaten Blitar, baik dari sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun potensi lain perlu mendapat support dari perguruan tinggi. Kehadiran UNTAG Surabaya membantu masyarakat dalam menghadapi pergulatan ekonomi. Sebab, para mahasiswa melakukan pendampingan di berbagai sektor secara masif. “Harapan saya, selain peningkatan ekonomi yang baik, nantinya ada peningkatan sumber daya manusia dan kualitas produk yang dihasilkan,” harap Asisten Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Blitar, Tuti Komaryati.

Di tengah aktivitasnya, mahasiswa UNTAG Surabaya, Nidya Aini Putri mengaku sangat senang melaksanakan KKN di Kecamatan Kanigoro ini. Baginya, kegiatan KKN ini seru dan menyenangkan, sebab banyak hal yang dapat dipelajari dan berbaur dengan masyarakat desa. Utamanya dengan budaya dan kondisi yang berbeda. Mahasiswa semester tujuh asal Kota Surabaya ini terlihat antusias dalam menjalankan kegiatan KKN. “Bisa belajar banyak hal, baik dari segi budaya, kebiasaan, maupun pekerjaan masyarakat desa,” terangnya.

Pada KKN ini, program utama yang dijalankan adalah dengan melakukan transformasi digitalisasi di bidang pemerintahan. Sebab, di desa tersebut, pengelolaan database masih menggunakan cara manual.

“Harapan saya, kedatangan kami bisa memberikan banyak manfaat untuk masyarakat. Terutama masalah database, pengembangan UMKM, sosial, dan organisasi,” harapnya. (*/c1/ady)

Leave A Reply

Your email address will not be published.