Semakin Dekat dengan Pembaca

45 Rumah di Tulungagung Terdampak Tanah Gerak, Terancam Dipindah

TULUNGAGUNG- Dari hasil identifikasi di sembilan lokasi daerah longsor di Tulungagung, terungkap bahwa selain 13 rumah terdampak ternyata terdapat 45 rumah potensial terdampak. Setiap lokasi yang diidentifikasi mempunyai karakteristik masing-masing.

Plt Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Tulungagung Erwin Novianto menjelaskan, Kajian Identifikasi Daerah Longsor Kabupaten Tulungagung oleh Tim Survei Teknik Geologi UPN “Veteran” Jogjakarta rampung dilaksanakan. Setidaknya terdapat sembilan lokasi di tiga wilayah Kecamatan Tanggunggunung, Campurdarat, dan Besuki.

Dari kajian yang dilakukan, hasilnya adalah pada lokasi pertama di Desa Pakisrejo, Kecamatan Tanggunggunung (koordinat x:598919, y:9096755) teridentifikasi jalan longsor akibat proses pelapukan masif batu gamping menjadi tanah, dan mengalami penurunan 20-50 sentimeter (cm) dengan lebar rekahan 5-40 cm. Pada bagian kaki longsoran terdapat material tanah jenuh air yang menjadi salah satu penyebab tejadinya longsoran.

Kemudian, pada lokasi kedua di Desa Pakisrejo Kecamatan Tanggunggunung (koordinat x:598638, y:9097146) terjadi longsoran batu gamping yang dipicu tebalnya tanah pelapukan. Itu dibuktikan adanya kontak antara tanah pelapukan dan batu gamping segar yang berada lebih rendah.

Pada lokasi ketiga di Desa Pakisrejo, Kecamatan Tanggunggunung (koordinat x:598716, y:9097110 merupakan lokasi permukiman penduduk yang mengalami retakan. Terdapat 2 rumah terdampak dan 8 rumah potensial terdampak. Ditemukan juga perbukitan dengan intensitas pelapukan batu gamping yang tinggi. Longsoran sangat dipengaruhi material proses pelapukan batuan, serta kejenuhan air yang dibuktikan dengan muka air tanah kurang lebih 30 cm di bawah permukaan tanah, dan kedalaman kurang lebih 1,6 m. “Pengukuran data yang dilakukan menunjukkan lebar rekahan 3-15 cm,” katanya.

Lokasi keempat di Desa Pakisrejo, Kecamatan Tanggunggunung (koordinat x:597872, y:9094881) terjadi longsoran akibat proses pelapukan masif batu gamping menjadi tanah, dan mengalami penurunan 5-45 cm dengan lebar rekahan 5-40 cm. Pada bagian tubuh longsoran terdapat material tanah jenuh air yang menjadi salah satu penyebab tejadinya longsoran. Di sana terdapat 2 rumah terdampak, 3 rumah potensial terkena dampak, dan 8 rumah risiko ringan terkena dampak. “Pada lokasi rumah terdampak longsor terdapat kerusakan berupa longsoran pada pekarangan rumah warga dan keretakan pada dinding tembok rumah,” jelasnya.

Dia melanjutkan, lokasi kelima di Desa/Kecamatan Tanggunggunung (koordinat x:596267, y:9091869) dijumpai longsoran dengan jenis material pelapukan batu pasir tuffan pada lereng landai yang memiliki lebar rekahan 5-40 cm. pada bagian timur terdapat rumah, jalan, sawah, dan tanah yang mengalami rekahan intens. Terdapat 1 rumah terdampak dan 10 rumah potensial terkena dampak. “Pada lokasi rumah terdampak longsor terdapat kerusakan pada tembok bagian luar dan dalam rumah yang retak,” sebutnya.

Lokasi keenam di Desa Campurdarat, Kecamatan Campurdarat (koordinat x:-8.171356, 111.851936) ditemukan longsoran dengan jenis material pelapukan batu gamping dengan luasan gerakan tanah 200 m dengan lebar 50 m. Terdapat saluran air berupa tanah di sebelah timur dan jalan pertanian yang berpotensi menjadi alur air ketika hujan. Juga dijumpai mata air pada kaki bukit dan beberapa pohon telah mengalami kemiringan, serta pada bagian bawah kondisi tanah jenuh air.

Sekitar 60 tahun yang lalu pernah dilakukan kegiatan penambangan batu gamping. Hal itu mengakibatkan lapisan tanah tebal yang tidak terpadatkan sehingga tanah di sekitar bekas tambang menjadi tidak stabil. “Kalau di sana terdapat  13 rumah potensial terkena dampak,” ungkapnya.

Pada lokasi ketujuh di Dusun Nguluh, Desa Sedayugunung, Kecamatan Besuki (koordinat x:-8.204294, 111.744386) terjadi longsoran dengan jenis material pelapukan lava andesit dan rekahan pada jalan dengan lebar 3-10 cm. Terdapat 2  rumah terdampak dan 1 rumah potensial terdampak. Kerusakan yang terjadi pada rumah yang terdampak yaitu dijumpai retakan pada dinding rumah dan lantai bervariasi 2-6 cm, selain itu ditemukan tiang rumah yang tertarik sepanjang 8 cm.

Lokasi kedelapan di Dusun Sawentar Desa Sedayugunung, Kecamatan Besuki (koordinat x:-8.222978, 111.750603) ditemukan longsoran dengan jenis material pelapukan batuan beku dan tuff. Kerusakan yang terjadi pada rumah yang terdampak yaitu dijumpai retakan pada dinding rumah dan lantai bervariasi antara 3-5 cm, selain itu ditemukan rekahan paving rumah 1-3 cm. “Terdapat 6 rumah terdampak,” ungkapnya.

Lalu, lokasi terakhir di Dusun Jirak, Desa Sedayugunung, Kecamatan Besuki (koordinat x:-8.231589, 111.731522) ditemukan longsoran dengan jenis material pelapukan batuan beku lava andesit dengan lebar 30 m dan tinggi 11 m. Terjadinya gerakan tanah dimungkinkan karena kesalahan teknis pemotongan singkapan yang curam, tanah pelapukan yang tebal, sampai curah hujan yang tinggi.

“Terdapat 2 rumah potensial terdampak. Penanganan dapat dilakukan dengan membuat terasering dangkal sekitar 0,5 m,” katanya.

 

Dari hal yang dipaparkan di atas, diakumulasikan terdapat 13  rumah terdampak dan 45 rumah potensial terdampak. Sehubungan dengan hal tersebut, berdasarkan hasil identifikasi lapangan dan analisis tim ahli geologi terdapat beberapa rekomendasi penanganan.

Pada lokasi penelitian satu di Desa Pakisrejo, terdapat 2 usulan rekayasa dan cara perbaikan, antara lain memperkuat dinding talutnya. Fondasinya harus mengikat sampai ke batuan alasnya (bedrock). Selain itu juga mengupas jalan sehingga permukaannya mengikuti relief atau topografi batuan alasnya yang keras agar tidak akan bergerak atau longsor kembali.

Sementara itu, pada zona pemukiman pada lokasi penelitian tiga, empat, dan lima direkomendasikan  penanganan sebagai berikut. Permukiman sudah tidak aman lagi di dekat titik-titik pecah atau zona rekahan. Itu karena terdapat tanda-tanda dan struktur geologi yang berkembang sudah sistematis sehingga penduduk atau penghuninya perlu dipindahkan atau direlokasi ke tempat yang aman. “Kalau untuk mendapatkan data secara menyeluruh pada daerah rawan longsor, maka diperlukan pengamatan dan lebih luas pada daerah-daerah tersebut,” tutupnya. (mg1/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.