Semakin Dekat dengan Pembaca

54 Persen ABK di Tulungagung Belum Mengenyam Pendidikan

TULUNGAGUNG– Banyak anak dengan kebutuhan khusus (ABK) di Tulungagung belum mengenyam pendidikan. Banyak faktor yang memengaruhi hal tersebut, utamanya kesadaran dari orang tua tentang pentingnya pendidikan bagi mereka.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur (Jatim) wilayah Tulungagung, Sindu Widyabadra mengatakan masih terdapat ABK atau disabilitas di Tulungagung belum mengenyam pendidikan. Dengan begitu, diharapkan agar orang tua dapat menyekolahkan anaknya meski dengan kebutuhan khusus. “Semoga para orang tua yang belum menyekolahkan anaknya, mohon segera mau menyekolahkan anaknya,” jelasnya kemarin (6/12).

Sementara itu, Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) C Negeri Tulungagung, Suroto mengatkan, berdasarkan data dari provinsi, ada sebanyak 54 persen ABK di Jatim yang belum mengenyam pendidikan. Banyak faktor penyebab hal tersebut, salah satunya yakni tingkat kesadaran orang tua. “Sebenarnya faktornya itu macam-macam, tetapi paling dominan di sini yaitu faktor kesadaran orang tua. Itu karena ABK itu kan butuh perhatian lebih, maka perlu diantar, dijemput, atau bahkan ditemani saat sekolah. Jadi, tingkat kesadaran orang tua bisa saja karena ekonomi dan jarak antara rumah dan sekolah,” ucapnya.

Hingga kini belum ada data secara spesifik berapa jumlah ABK di Tulungagung. Berdasarkan pengamatan, banyak ABK di Tulungagung juga belum mengenyam pendidikan. Utamanya ABK di wilayah-wilayah pinggiran. Selain itu, jumlah SLB di Tulungagung tergolong masih sedikit atau sekitar 12 sekolah. “Masih banyak betul. Mungkin karena akses dan jaraknya ke SLB juga jauh. Orang tua yang belum sadar pentingnya pendidikan bagi ABK ini yang perlu kita ingatkan dan edukasi. Apalagi, sekolah untuk ABK ini gratis,” paparnya.

Disinggung perihal stigma negatif ketika memiliki anak disabitilias, dia mengaku masih ada beberapa keluarga yang berpandangan seperti itu. Namun, mindset tersebut merupakan hal keliru, karena memiliki ABK itu merupakan anugerah tersendiri bagi orang tua. “Dengan begitu akhirnya tidak di sekolahkan, tidak diperlihatkan ke orang lain. itu keliru. ABK itu merupakan anugerah yang tidak semua orang tua dapat merasakannya,” ungkapnya.

Untuk meminimalkan ABK yang belum mengenyam pendidikan, pihaknya melakukan sosialisasi baik itu secara online dengan mengunggah ke internet maupun offline dengan cara tutur tinular. Sama halnya dengan anak lain, pendidikan untuk ABK tersebut juga tak kalah penting. “Jika punya keluarga, tetangga, ataupun kenalan yang memiliki ABK, kita sosialisasikan bahwa pendidikan bagi ABK itu penting. Tidak usah takut dengan biaya pendidikan,” tutupnya. (mg2/c1/din)

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.