Semakin Dekat dengan Pembaca

Ada Peran Aktor Intelektual di Kasus Perampokan Rumdin Wali Kota Blitar?

Kriminolog: Otak Perampokan Harus Diselidiki

KOTA BLITAR – Motif peristiwa perampokan yang menyasar rumah dinas (rumdin) Wali Kota Santoso beberapa waktu lalu masih misterius. Meski tiga dari lima pelaku sudah diringkus, polisi masih harus bekerja keras memburu dua pelaku lainnya. Termasuk menyelidiki indikasi adanya skenario yang diduga dirancang aktor intelektual di balik aksi perampokan di rumdin wali kota itu.

Kejadian ini menuai tanggapan serius dari Krimonolog Universitas Surabaya (Ubaya), Dr Elfina L. Sahetapy. Dia menduga perampokan itu terjadi bukan tanpa sebab. Terlebih, kelima pelaku berasal dari daerah yang berbeda-beda, serta bukan warga Blitar. Kuat dugaan bahwa lima perampok ini merupakan eksekutor yang mendapat instruksi dari seseorang yang paham kondisi rumdin.

“Saya menduga ada peran aktor intelektual. Ini perlu digali. Kalau kroco-kroco saja yang ditangkap, sementara aktor intelektualnya tidak, masih bisa melakukan kejahatan menggunakan tangan berbeda,” ujarnya kepada Koran ini kemarin (15/1).

Secara umum, perempuan yang akrab disapa Ina ini mendeskripsikan bahwa pejabat publik memang kerap dipandang memiliki strata sosial lebih mampu ketimbang masyarakat lainnya. Utamanya dalam hal materi. Otomatis pejabat selalu mendapat penjagaan ketat, termasuk dalam menjalankan tugasnya.

Meski erat kaitannya dengan keuangan yang lebih matang, faktanya, kekayaan tak hanya dimiliki seorang pejabat. Mengamati kondisi kehidupan di Kota Blitar, dia mengaku tak sedikit warga yang juga berstatus menengah ke atas alias kaya. “Kenapa kok harus di rumah wali kota yang memang saat itu ada uang di sana. Ini bagi saya jadi tanda tanya besar, kok tahu saat itu ada uang banyak di sana,” jelas Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Ubaya ini.

Dia menilai kawanan perampok yang menjarah rumdin cenderung nekat. Padahal, rumdin tersebut notabene berada di pusat kota dan dekat dari Mapolres Blitar Kota. Kondisi ini berbanding terbalik dengan daerah terisolasi yang secara ilmu kriminologi lebih berpotensi menjadi sasaran perampokan.

Lantas dari lingkup mana aktor intelektual itu? Ina mensinyalir ada orang dalam dan sosok yang merasa dendam dengan wali kota. Terpenting, sosok ini diduga paham betul dengan situasi rumdin. Buktinya, kawanan perampok ini masuk saat banpol dalam kondisi tidur. “Pasti salah satu dari mereka (pelaku) dihubungi dan sudah punya kenalan yang bisa diajak untuk melakukan ini karena pernah bersama-sama,” ungkapnya.

Meski begitu, sosok orang dalam bisa datang dari siapa saja di lingkungan rumdin. Sebab, mengacu kasus-kasus lain yang dia teliti, ada pelaku yang berkamuflase menjadi korban. Termasuk rela menerima tindak kekerasan, seperti dipukul, hingga disekap demi lancarnya praktik kriminalitas. “Padahal sebetulnya mereka adalah salah satu informan. Ini biasanya rencana yang dilakukan untuk menghindari adanya pemikiran bahwa ini hasil informasi dari dalam,” tegasnya.

Menurut dia, apabila tidak ada informan dalam kasus ini, justru memantik tanda tanya besar. Pasalnya, para pelaku dari luar daerah itu tidak mungkin paham bahwa terdapat uang ratusan juta di dalam rumdin. “Buat saya ini aneh. Apa iya orang bisa menerawang rumah orang lain dan tahu ada uang? Pasti ada informasi yang diberikan kepada mereka,” terang perempuan ramah ini.

Berdasarkan ilmu kriminologi yang dia dalami, seseorang yang hendak melakukan tindak kriminalitas pasti memiliki perhitungan. Yakni, menyangkut risiko yang bakal dihadapi, serta besaran hasil yang didapat. Menurut dia, pelaku tindak kejahatan tidak mau ambil risiko apabila hasil yang didapat cenderung sedikit. Prinsip ini praktis tidak masuk dalam hitung-hitungan penjahat kelas kakap.

Fenomena perampokan dengan kekerasan (curas) ini (di rumdin wali kota, Red), jelas dia, berdampak besar pada pola pikir masyarakat dalam hal keamanan. Untuk itu, pihaknya meminta kepolisian agar secepatnya menangkap dua pelaku yang masih berkeliaran dan segera diproses hukum. Sebab, tujuan pemidanaan tak lain supaya masyarakat bisa hidup tanpa rasa takut.

“Otak perampokan yang sudah merencanakan sejak di lapas harus diselidiki. Polisi harus bisa mengetahui itu atas perintah siapa? Permintaan siapa? Kalau itu inisiatif sendiri, pasti orang akan bertanya-tanya. Karena mereka warga luar kota,” tandasnya.

Sebelumnya, rumdin Wali Kota Blitar disatroni kawanan perampok pada 12 Desember 2022 lalu. Pelaku berjumlah lima orang itu melancarkan aksinya dengan menyekap Santoso dan istri, serta tiga banpol di pos penjaga. Mereka lalu kabur mengendarai Toyota Innova dan membawa uang sekitar Rp 400 juta.

Nyaris satu bulan, tiga pelaku akhirnya ditangkap. Masing-masing berinisial MJ, 54, asal Kabupaten Lumajang; ASM, 54, asal Jakarta Barat; dan AJ, 57, asal Kabupaten Jombang. Mereka merencanakan aksi ini sejak menghuni lembaga pemasyarakatan (Lapas) Sragen pada 2019 lalu. Ini berdasarkan pengakuan otak pelaku perampokan sekaligus residivis spesialis curas, MJ saat konferensi pers di Mapolda Jatim, Kamis (12/1) lalu. Dua tersangka lainnya yang juga residivis dan masuk daftar pencarian orang (DPO) yakni berinisal OS, 35, dan MA, 35. (luk/c1/ady)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.