Semakin Dekat dengan Pembaca

Aduh, Begini Hasil Assesmen Kemananan Stadion Soepriadi Kota Blitar

KOTA BLITAR – Risk Assesment alias asesmen risiko di Stadion Soepriadi rampung digelar pekan lalu. Hasilnya, banyak elemen yang harus dipenuhi oleh Askot PSSI Blitar selaku panitia penyelenggara (panpel) Stadion Soepriadi. Poin yang disorot tentu soal ketersediaan personil pengamanan dan pengadaan fasilitas fisik.

Dalam draf berita acara, tim asesmen yang terdiri dari perwakilan mabes polri, polda, dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) itu meminta jajaran Askot untuk memastikan faktor keamanan. Baik keamanan bagi perangkat pertandingan, kesebelasan, hingga bagi para supporter. Dalam hal ini, dibagi dua sektor pengamanan. “Yang diutamakan itu pengamanan di ring 1 dan ring 2. Jadi, ruang ganti pemain harus steril dari kegiatan supporter. Karena itu termasuk ring 1,” ujar Ketua Panpel Stadion Soepriadi, Heri Sugianto.

Itu soal poin pengamanan. Selanjutnya, poin fasilitas fisik yang kudu dipenuhi adalah pengadaan pintu darurat. Di stadion yang berlokasi di Kelurahan Kepanjenlor, Kecamatan Kepanjenkidul itu, sementara ini hanya ada tiga pintu yang digunakan sebagai akses keluar-masuk.

Padahal, berdasar keterangan tim asesmen, stadion penyelenggara pertandingan wajib mengoperasikan minimal lima akses pintu keluar-masuk. Itu sebagai langkah preventif jika sewaktu-waktu terjadi kejadian tidak terduga saat pertandingan digelar. “Berarti kita akan tambah dua pintu darurat,” sambungnya.

Itu berarti, Askot kudu segera berembug satu meja bersama jajaran terkait. Yang dalam hal ini Polri, TNI, dan Pemkot Blitar. informasinya, pertemuan bakal dilangsungkan paling lambat di akhir bulan ini. “Betul. Kalau ada pengadaan yang bersifat fisik, berarti kita akan libatkan dinas terkait. Termasuk Dinas PUPR, Dispora, dan Dinkes,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Askot PSSI Blitar ini.

Perlu diingat, gelaran Liga 1, Liga 2, dan Liga 3 bakal kembali diputar mulai Maret mendatang. Maka, jajaran Askot dan Pemkot harus bergegas. Sisa waktu 1,5 bulan harusnya bisa dimanfaatkan untuk melakukan pengadaan sejumlah item yang diperlukan. “Apalagi kita jadi salah satu tuan rumah Liga 2 dan Liga 3,” imbuhnya lagi.

Untuk diketahui, risk assesment menjadi salah satu agenda dari pengambil kebijakan di tingkat pusat. Yang dalam hal ini adalah pemerintah pusat, PSSI, Mabes Polri, dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator liga. Menyusul adanya tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang yang menewaskan ratusan supporter, pengamanan di masing-masing stadion penyelenggara liga nasional kiat diperketat. Termasuk Stadion Soepriadi. (dit/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.