Semakin Dekat dengan Pembaca

Aida Widyasari Basyah, Mahir MUA Sekaligus Kuasai Catwalk

KOTA BLITAR – Bagi Aida Widyasari Basyah, memoles wajah dengan alat make-up membutuhkan keberanian. Saat ini, dia telah mahir memoles wajah dengan konsep natural hingga make-up karakter.

Perempuan asal Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, ini tertarik untuk menekuni make-up sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Itu setelah melihat banyak karya dari seni merias wajah tersebut. Karena penasaran, dia memberanikan diri untuk memoles wajahnya sendiri.

“Make-up pertama yang saya gunakan adalah milik almarhum kakak saya. Saat itu, ada banyak alat-alat riasnya dan jarang terpakai, sayang kalau expired,” ujar perempuan 21 tahun ini.

Dalam tata rias wajah, eyeliner bisa dikatakan dapat memberikan nyawa dalam karya seni rias. Meskipun tidak memakai peralatan lengkap, goresan eyeliner bisa membuat wajah terlihat cantik.

Ini pula yang menjadi bagian tersulit. Bahkan, hingga kini dia mengaku masih kesulitan membuat eyeliner yang pas. “Kadang masih sering tidak seimbang antara kanan dan kiri,” jelas anak tunggal ini.

Tidak hanya belajar konsep natural, dia juga belajar make-up karakter karena dirasa unik. Setelah berkali-kali mencoba secara otodidak, Aida kini bisa membuat beberapa make-up karakter.

Baginya, make-up karakter itu gampang-gampang susah. Ada beberapa karakter yang menurutnya mudah, misalnya konsep Hallowen. Namun, ada banyak yang menurutnya sulit untuk dipraktikkan, seperti karakter tengkorak.

Tantangan lain yang dihadapi Aida adalah bujet alias anggaran. Sebab, peralatan yang dibutuhkan untuk mewujudkan seni rias ini tidak murah.

Selain seni rias, Aida juga sering menapaki catwalk. Bahkan, jauh sebelum suka make-up, dia sudah tertarik dengan dunia modeling. Tepatnya sejak dia duduk di bangku sekolah dasar (SD). Namun, dia pesimistis dengan mimpinya itu.

Tak beda dengan kegemarannya bermain make-up, Aida juga tidak mendapat dukungan dari orang terdekatnya di dunia modeling, termasuk orang tua. “Saya menutup harapan untuk terjun ke dunia model. Sebab, dunia modeling itu jauh lebih mahal,” katanya.

Pada 2019, dia diminta salah satu agensi untuk mengikuti kelas model. Namun, dia ragu. Takut kalau kelas tersebut berbayar. Pada akhirnya, dia masuk setelah memastikan bahwa kelas tersebut tidak ada kewajiban setor uang pembinaan. “Saya tidak pernah mengikuti lomba model, karena tidak ada bujet,” paparnya.

Usaha ektra harus dilakukan oleh Aida. Terutama untuk meyakinkan orang-orang terdekatnya. Satu per satu tantangan mampu dia jawab dengan karya dan penampilan yang cemerlang. Begitu juga kekhawatiran sang ibu yang takut masa depan anaknya suram jika bergelut dengan modeling dan make-up. “Meski hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan, saya bersyukur sekarang ibu saya selalu mendukung apa pun yang saya lakukan, selagi itu hal positif,” tututurnya. (mg1/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.