Semakin Dekat dengan Pembaca

Antisipasi Lonjakan Covid-19, Perlukah Batasi Penumpang Bus Sekolah?

KOTA BLITAR – Tren penularan Covid-19 di Bumi Bung Karno tak boleh dipandang sebelah mata. Pasalnya, dalam kurun waktu dua bulan terakhir, grafik kasus mengalami peningkatan. Legislatif meminta dinas memantau mobilitas bus sekolah guna mengantisipasi jangkitan virus tersebut.

Ketua Komisi I DPRD Kota Blitar Nuhan Eko Wahyudi menilai, bus sekolah sebagai salah satu fasilitas yang diberikan Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar harus terus dimonitor. Jika lalai, sarana tersebut bisa menambah jumlah kasus baru. Minimal, lanjut dia, kuota penumpang harus dibatasi sehingga meminimalkan potensi penularan.

“Kalau memang tiap bus padat, bisa dibatasi penumpangnya biar tidak berjubel. Belum lagi jika ada yang lepas masker dan berdempetan,” ujarnya kemarin (7/12).

Nuhan, sapaan karibnya, tak menampik bahwa sebelumnya para siswa dan orang tua cukup semringah kala bus sekolah kembali beroperasi. Itu setelah kasus Korona menurun drastis pada awal tahun lalu. Namun, dengan peningkatan kasus secara perlahan ini, sambung dia, masyarakat harus menambah kewaspadaan serta kembali mematuhi protokol kesehatan (prokes).

Dinas pendidikan (dispendik) bersama dinas kesehatan (dinkes), kata dia, perlu berkoordinasi untuk mencegah adanya klaster sekolah. Lalu, melakukan sosialisasi bahwa wabah Covid-19 belum tuntas. Pemahaman ini bisa memantik kedisiplinan siswa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

“Fasilitas ini bagus, tapi harus melihat situasi. Tidak ada salahnya dibatasi jumlah penumpangnya atau diwajibkan pakai masker dan berjarak,” jelasnya.

Kabid Pembinaan SD Dispendik Kota Blitar Jais Alwi Mashuri memastikan pihaknya tak luput mengamati situasi pendidikan. Termasuk antusiasme penumpang bus sekolah. Menurutnya, jumlahnya masih wajar dan mayoritas penumpang menggunakan masker.

Meski begitu, tidak menutup kemungkinan jika dilakukan pembatasan. Itu pun mengacu koordinasi dengan dinkes dan satgas. Sementara soal sistem pembelajaran, jenjang PAUD hingga SMP sudah dilengkapi sarana prasarana (sarpras) penunjang kesehatan. Seperti wastafel hingga cairan pembersih tangan.

“Meski belum ada pembahasan terkait itu, tapi pembatasan bisa jadi ada. Itu tergantung regulasi dan mengacu level PPKM,” ungkapnya.

 

Salah satu titik paling ramai penumpang bus pelajar, yakni di Jalan Sudanco Supriyadi, Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan. Di lokasi ini, penumpang mayoritas berasal dari SMP Negeri 5 dan SMP Negeri 6.

Jais memastikan, dalam jangka waktu dekat lokasi tersebut tidak akan jadi titik kepadatan penumpang. Itu karena SMP Negeri 5 bakal direlokasi ke eks gedung SMP Negeri 10. Dengan begitu, hanya pelajar dari SMP Negeri 6 yang berada di lokasi tersebut, sembari menunggu relokasi di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan.

“Secara tidak langsung, relokasi nanti akan mengurai kepadatan di dalam bus. Bisa lebih longgar karena ada trayek yang pindah,” tandasnya. (luk/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.