Semakin Dekat dengan Pembaca

Atlet Barongsai Minim, Penjaringan Terkendala

KOTA BLITAR – Jajaran pengurus Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Kota Blitar sedang galau. Penyebabnya, jumlah atlet yang bergabung di induk cabor tersebut masih minim.

Sementara itu, rekrutmen atlet terbilang sulit terealisasi. Saat ini hanya ada satu klub barongsai yang tergabung dalam FOBI Kota Blitar. Klub yang dimaksud berbasis di Kelenteng Poo An Kiong yang beralamat di Jalan Merdeka Barat. Saat ini, jumlah atlet yang terdata sebagai atlet barongsai sebanyak 15 orang. “Ya hanya satu klub ini saja yang terdaftar di KONI sebagai anggota FOBI,” ujar ketua FOBI Kota Blitar Daniel.

Sejak dilantik pada Juni tahun lalu, lanjut Daniel, jajaran pengurus menerima informasi terkait adanya beberapa klub barongsai baru di wilayah kota. Tapi, FOBI kesulitan untuk menjangkau beberapa klub baru yang dimaksud. “Alasannya, mereka tidak mau ribet dengan peraturan yang ada di FOBI dan KONI. Jadi, kami kesulitan menambah jumlah atlet atau klub,” keluhnya.

Kondisi itupun membuat penjaringan atlet sulit terlaksana. Problem lainnya, adanya anggapan bahwa kegiatan barongsai hanya identik dengan satu golongan etnis tertentu. Padahal, selama ini atlet yang bergabung datang dari berbagai golongan dan latar belakang. “Dari 15 atlet yang ada, masing-masing atlet berlatang belakang berbeda. Perbandingannya juga berimbang. Jadi, tidak hanya didominasi satu etnis atau kepercayaan saja,” tuturnya.

Dengan jumlah atlet yang minim, tentu membuat FOBI harus berpikir lebih keras. Apalagi, ada banyak nomor yang dilombakan dalam cabor FOBI. Diantaranya, nomor barongsai taolu bebas, barongsai halang rintang, barongsai kecepatan, naga taolu bebas, naga halang rintang, naga kecepatan, pekingsai bebas, pekingsai kecepatan, hingga pekingsai halang rintang. “Itu belum termasuk kategori. Sebab, ada juga kategori putra-putri dan kategori usia dalam kejuaraan barongsai,” sambungnya.

Untuk sementara, FOBI harus menanggalkan wacana untuk menggelar penjaringan atlet melalui gelaran seleksi atau kompetisi. Sebagai gantinya, rekrutmen atlet dilakukan secara terbuka guna meningkatkan kans menjaring atlet anyar. “Kami masifkan sosialisasi secara online dan offline. Kami juga sampaikan tidak ada seleksi atau kompetisi,” tandasnya. (dit/sub)

Leave A Reply

Your email address will not be published.