Semakin Dekat dengan Pembaca

Atlet Tinju “Kalah Tulang”, Mengapa?

KOTA BLITAR – Hasil kurang memuaskan dipetik Persatuan Tinju Amatir (Pertina) Kabupaten Blitar di porprov tahun ini. Hanya turun di dua kategori dan lima kelas, petinju Bumi Penataran belum bisa berbicara banyak di ajang yang digelar di Jember, pekan lalu.

Untuk diketahui, Pertina Kabupaten Blitar menurunkan tiga atlet di kategori senior. Yakni, kelas 54, 60, 63 kilogram (kg). Ditambah dengan dua atlet naik ring di kategori junior yang bertanding di kelas 48 dan 54 kg. “Hasilnya, satu atlet di kategori junior kelas 54 kg menyumbang medali perunggu. Lalu, satu atlet di kategori junior kelas 54 kg menyumbang medali perak,” ujar pelatih kepala Pertina Kabupaten Blitar, Yuli Purnomo.

Banyaknya atlet yang mengundurkan diri selama pelaksanaan TC, ditambah dengan persiapan yang minim membuat induk cabor “adu jotos” itu harus puas dengan raihan dua medali, tanpa adanya medali emas. Padahal, sebagai salah satu cabor bela diri, Pertina menjadi salah satu induk cabor yang diproyeksikan untuk mendulang banyak medali di gelaran tahun ini.

“Sejak awal memang ada banyak kendala yang harus kami hadapi. Persiapan sudah kami lakukan sejak pertengahan tahu lalu. Seiring berjalannya waktu, satu per satu atlet memutuskan untuk mundur dari program TC jelang porprov,” terangnya.

Kendala yang paling kentara, lanjut Yuli, adalah soal minimnya program latihan bersama (latber). Pemilihan spot latber yang dinilai sulit dijangkau oleh atlet dari wilayah pelosok disebut menjadi alasan kenapa program itu sulit dijalankan. Akibatnya, induk cabor terpaksa menggelar TC dengan “menitipkan” atlet di masing-masing camp atau sasana dia biasa berlatih. “Iya. Persiapan kami tahun ini alakadarnya. Hasilnya pun juga demikian,” katanya lagi.

Pelatih asli Kabupaten Blitar ini menambahkan, anak asuhnya tampil jauh di bawah standar di gelaran Porprov ke-VII Jatim. Itu cukup jadi bukti bahwa persiapan di internal induk cabor sangat minim. Sebab, tanpa adanya gelaran latber secara kolektif, jajaran induk cabor tak bisa memantau secara langsung pola latihan yang dilakoni oleh para atlet. Selain itu, progres latihan juga tidak bisa dilihat secara gamblang. “Kalau di tinju, istilahnya kami ‘kalah tulang’ di porprov kemarin. Dampaknya, minimnya pembinaan secara kolektif sangat terlihat. Sangat berbeda jauh dari atlet lain yang bisa dibilang sangat matang,” tandasnya. (dit/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.