Semakin Dekat dengan Pembaca

Aurea Shifra Zahra Tekuni Tari Tradisional Raih Medali karena Menari

KOTA BLITAR – Keseriusan Aurea Shifa Zahra dalam dunia seni tak perlu diragukan. Utamanya seni tari tradisional. Wanita berparas cantik itu sudah cukup lama menggelutinya. Bahkan, dia berhasil menyabet medali dari sebuah kompetisi yang diikuti. Tentu saja, apa yang diraihnya selama ini tak semudah mengedipkan mata. Ada proses panjang yang harus dilalui.

Rere, begitu biasa disapa, sudah cukup dikenal di kalangan rekan-rekan penari. Saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu, dia ternyata sudah mulai menari sejak masih belia. Awalnya, Rere hanya melihat video beragam tari tradisional di YouTube. Ternyata itu membuatnya kepincut. Dia lantas menirukan gerakan penari dalam video tersebut.

Hal itu terus berlanjut. Sampai akhirnya, saat berusia sembilan tahun, Rere ikut menimba ilmu di sebuah sanggar tari. Sekitar empat tahun mengasah diri di sanggar, warga Desa Bence, Kecamatan Garum, itu lantas memilih mengembangkan dirinya sendiri. “Awalnya, saya iseng ikut sanggar tari. Setelah kelas 3, saya keluar dan mengajak teman untuk belajar tari di rumah,” ujarnya.

Meski kala itu usianya masih belia, tetapi tidak demikian dengan tekadnya. Dia lantas memiliki Paramesti, sanggar tari yang dibangunnya bersama beberapa orang terdekatnya. Paramesti lantas dijadikan sebagai tempat latihan tiap hari. “Setiap hari saya latihan, kadang kalau mau ada event, latihan bersama tim. Pernah juga ada yang minta diajarin,” terangnya.

Basic tari tradisional yang dimiliki Rere menjadikannya berani berbagi ilmu. Dia kerap diminta mengajari rekan sebayanya. Bahkan, penari lain yang sudah dewasa. “Saat kelas 5 SD saya mulai berani mengajari anak SMP dan SMA,” akunya.

Karena skill menarinya, wanita ramah itu kerap tampil dalam berbagai acara. Termasuk event bergengsi tingkat daerah hingga nasional. Begitu juga untuk mewakili sekolah. Puluhan piala telah dia peroleh. Salah satu yang berkesan yakni medali perak. Itu diperoleh dalam Olimpiade Seni dan Bahasa Bidang Seni Tari tingkat nasional yang digelar belum lama ini. “Saya pernah mengikuti lomba ini pada 2021, tapi saya gagal. Alhamdulillah, saya berhasil mendapatkan juara 2 di tahun 2022,”ungkapnya.

Meskipun cukup banyak pengalaman, Rere mengaku menjadi penari bukanlah cita-cita baginya. Sebab, dia hanya sekadar suka. Karena itulah, dia juga berusaha menjaga daya tahan tubuh. “Cukup istirahat dan jaga pola makan,” tandasnya. (mg1/c1/wen)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.