Semakin Dekat dengan Pembaca

Awas Predator Seks Mengintai, DP2KBP3A Kabupaten Blitar: Pelaku Bisa Orang Terdekat

KOTA BLITAR – Terungkapnya kasus pemerkosaan yang dilakukan bapak terhadap putri kandungnya di Kecamatan Kanigoro harus menjadi perhatian serius bagi para orang tua (ortu) maupun anak. Pasalnya, predator seks bisa muncul dari mana pun. Bahkan, dari lingkup keluarga sekalipun.

Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Blitar, Lyes Setyaningrum. “Ini seolah membuktikan bahwa jangan mudah memberikan kepercayaan kepada orang lain, bahkan di lingkungan keluarga sendiri,” ujarnya kepada Koran ini, kemarin (18/1).

Dari sejumlah laporan kasus yang ditanganinya, kasus pemerkosaan ortu terhadap anak kandung sendiri merupakan suatu peristiwa yang miris. Ortu semestinya menjaga dan membimbing buah hatinya, bukan merusak masa depannya. Kondisi tersebut tentu berdampak fatal pada psikis anak di masa mendatang. “Sayangnya masih sedikit masyarakat yang melapor karena malu dan menilai ini aib. Kami meyakini ada kasus yang belum terungkap,” katanya.

Anak yang jadi korban cabul atau kekerasan seksual berpotensi mengalami trauma secara psikis. Misalnya, emosi tidak terkontrol, merasa selalu tidak aman, mengalami gangguan tidur, ketakutan, rasa malu yang besar, frustasi, menyalahkan atau mengisolasi diri sendiri, hingga depresi. “Pemulihan ini harus melibatkan orang-orang yang berdampak positif pada korban. Seperti ibu atau psikolog anak,” terangnya.

Pemerkosaan terhadap anak, lanjut dia, merupakan tindakan menyimpang. Ironisnya, sejumlah kasus yang selama ini terungkap, pelakunya merupakan sosok terdekat korban. Bahkan, ada yang masih memiliki hubungan darah. Di antaranya, ayah tiri, paman, kakek, hingga tetangga. Mayoritas korban berasal dari anak-anak usia belia.

Dalam memuluskan praktik cabul, tak jarang predator seks beraksi mendekati korban dengan berbagai cara. Misalnya, menyentuh beberapa bagian tubuh, hingga memberikan iming-iming uang atau barang tertentu. Korban pun teperdaya hingga pelecehan seksual itu terjadi. Apalagi, aksinya dilakukan di rumah sendiri. “Ini tugas kami dan orang tua untuk memberikan pemahaman pada anak. Mereka harus berani teriak kalau disentuh di area yang sensitif,” tegasnya.

Ada sejumlah bagian tubuh anak yang tidak boleh disentuh. Di antaranya, mulut, dada, kemaluan, dan pantat. Bagian tubuh itu, lanjut dia, hanya boleh disentuh pribadi. Sebab, dari sejumlah laporan kasus, pelaku kerap memulai aksi bejat dengan menyentuh area sensitif tersebut.

Menyikapi fenomena pemerkosaan pada anak yang dilakukan ayah kandung, Lyes meminta para orang tua lebih serius membentengi anak dengan bekal pengetahuan agama. Itu demi menjaga masa depan agar tetap terjaga. Selain itu, mengimbau agar anak juga diberikan edukasi seks sejak dini. Terutama tentang menjaga organ vital dari oknum tak bertanggung jawab.”Mempertebal ilmu keagamaan dan lebih dekat dengan Tuhan. Karena lingkungan yang positif juga berdampak pada perilaku dan psikis anak,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Y, 44, pria asal Kecamatan Kanigoro dilaporkan ke polisi usai memperkosa anak kandungnya yang masih berusia 12 tahun. Pelaku melakukan aksi bejat sebanyak lima kali sejak Juli hingga Agustus 2022 lalu. Kasus ini masih dalam penanganan Unit PPA Satreskrim Polres Blitar. (luk/c1/sub)

Leave A Reply

Your email address will not be published.