Semakin Dekat dengan Pembaca

Bahaya Minum Air Dam Majan, Miliki Fosfat Tinggi, Sampah Menggunung

TULUNGAGUNG – Melihat warna air dan sampah di Dam Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, membuat komunitas pecinta lingkungan dan Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton) melakukan pengujian. Hasilnya ditemukan kandungan fosfat tinggi, mikropastik, dan tergolong tercemar.

Ecoton langsung terjun ke pintu air Dam Majan untuk mengambil sampel air dan menyaring serangga-serangga air serta biota. Pengambilan sampel sebagai langkah menguji air sungai secara indikator biologis, serangga untuk mengetahui jenis-jenis makhluk hidup yang ada bertahan hidup di sungai tersebut. Suasana hujan gerimis membuat mereka kesulitan untuk menemukan serangga air, namun akhirnya bisa tertangkap beberapa jenis.

“Penelitian belum bisa disimpulkan, ketika kami menguji kadar fosfat dalam air sungai mencapai 10. Jadi itu melebihi baku mutu ditetapkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yakni standarnya 0,1 part per million (ppm),” ujar Koordinator Citizen Science Ecoton, Eka Chlara Budiarti, Minggu (25/12).

Maka bisa diartikan sebagian besar sungai di Tulungagung miliki kadar fosfat tinggi, sehingga bisa saja ada efek samping bila air dikonsumsi makhluk hidup. Hasil lainnya, kualitas air anak Sungai Brantas ini diperoleh total dissolved solid (TDS) sebesar 100 ppm, suhu 26 C. Nitrat 0.5, nitrit 0, fosfat 10, Ph 7,34. Dari hasil itu, diketahui nitrat dan nitrit masih di bawah baku mutu ditetapkan.

Bagaimana dengan mikroplastik di Dam Majan ? Chlara menyebut, terdapat beberapa jenis mikroplastik terindentifikasi. Di antaranya, ada filamen, fiber, foam karena ada banyak ditemukan sterofoam yang ikut arus sungai. Apalagi ketiga jenis mikroplastik itu ketika dilihat memakai mikroskop, terlihat terpecah-pecah.

Berdasarkan hasil mikroplastik tentu, sungai Dam Majan ini tercemar. Namun dilihat dari bioindikator, sebagian besar biota yang diuji hasilnya toleran terhadap polutan. Dengan demikian kualitas air di DAM Majan ini tercemar katagori sedang. “Dari kualitas air, fosfatnya tinggi dan TDS masih di bawah baku mutu. Dari pengujian biota, tergolong tercemar sedang, belum tercemar berat. Lantaran organisme yang diuji memiliki karakter toleransi terhadap pencemaran,” jelasnya.

Dia yang mewakili Ecoton ingin uji kualitas air tidak hanya sekali ini saja, lantaran harus intens. Agar bisa memantau secara fisik dengan bantuan alat portable. Nanti juga bisa menjadi informasi dan edukasi bagi masyarakat, terutama pemerintah, agar melindungi dan meminimalkan pencemaran dalam sungai. “Hasil penelitian bisa untuk advokasi, agar pemerintah bisa merubah kebijakan dan pengendalian pencemaran, salah satunya mengurangi membuang sampah di sungai,” pungkasnya.(jar/din)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.