Semakin Dekat dengan Pembaca

Banjir Trenggalek Menelan Korban Nyawa, Berikut Cerita Ahli Warisnya

TRENGGALEK – Bencana banjir yang terjadi di Bumi Menak Sopal pada Selasa (18/10) membawa duka bagi keluarga Safrodin. Pasalnya, warga Desa Ngadisuko, Kecamatan Durenan tersebut harus kehilangan sang ayah, Sayuti, ketika air masuk ke rumahnya. Kini jenazah Sayuti telah dimakamkan di tempat pemakaman umum setempat.

Rasa sedih dan duka mendalam akibat ditinggal sang ayah tidak bisa dielakkan pada kisah hidup Safrodin. Hal ini tergambar ketika ditemui Jawa Pos Radar Trenggalek di area RSUD dr Soedomo Trenggalek pagi kemarin (19/10). Benar saja, saat ini dirinya sedang mengurus berbagai keperluan untuk membawa jenazah sang ayah, Sayuti, untuk dikebumikan. Kendati sesekali tersenyum, beberapa detik berselang, wajahnya kembali terlihat murung.

Akhirnya, setelah beberapa saat, pengurusan pemulangan jenazah tersebut selesai. Jenazah Sayuti langsung dinaikkan ke mobil jenazah yang sebelumnya telah terparkir. “Mungkin ayah saya ini meninggal karena kedinginan (hipotermia, Red) setelah air masuk ke rumah,” ungkap Safrodin kepada koran ini.

Benar saja, masih terngiang dalam benaknya ketika ada hujan lebat yang mengguyur area rumahnya seharian penuh pada Selasa (18/9) lalu. Melihat situasi di luar rumah seperti itu, dirinya dan kerabat yang lain menjaga agar kondisi sang ayah tetap terjaga, dengan terus memberikannya selimut. “Sejak dua hari sebelumnya, di area rumah kami seperti tidak ada sinar matahari karena terus-menerus turun hujan,” katanya.

Namun, situasi berubah ketika malam hari dan telah memasuki sekitar pukul 22.00. Saat itu air mulai masuk ke rumah dan secara berangsur terus meninggi. Melihat kejadian tersebut, para anggota keluarga tetap mencoba melindungi sang ayah dari banjir dan agar tubuhnya tidak menyentuh air. Ketika air masuk, anggota keluarga terus mendampingi Sayuti dan memindahkannya ke tempat yang aman.

Sedikitnya, para anggota keluarga tiga kali memindahkan Sayuti dari tempat tidurnya semula. Karena setelah masuk rumah, air tiba-tiba membesar. Itu mulai dari ruang tidurnya, semula di depan lalu dipindah ke dipan di ruang pertama. Tidak cukup sampai di situ, Sayuti kembali dipindah ke ruang kedua (yang lebih tinggi), lalu di atas meja. Sedikitnya selama 3,5 jam, keluarga berjuang dalam menjaga agar Sayuti tetap berada di tempat aman. Namun ternyata, Tuhan berkehendak lain, sekitar pukul 01.30, Sayuti tidak sadarkan diri. Sayuti tidak merespons saat diajak bicara oleh keluarganya.

Tak ayal, kondisi tersebut membuat pihak keluarga panik. Sebab, saat itu ketinggian air di dalam rumah sudah sekitar 70 sentimeter (cm) dan kemungkinan lebih dalam ketika berada di luar rumah. Akhirnya, ketika kondisi air sudah berangsur surut, dengan bantuan petugas kebencanaan, keluarga langsung membawanya ke RSUD. “Apa mau dikata, kami sudah berusaha, tapi akhirnya bapak sudah tidak tertolong,” jelas Safrodin.

Di tempat yang sama, Humas RSUD dr Soedomo Trenggalek Sujiono membenarkan hal tersebut. Dia menambahkan, Sayuti tiba di RSUD sudah dalam keadaan meninggal. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap jenazahnya, Sayuti meninggal setelah kedinginan akibat banjir. “Jadi ketika sampai, kami hanya melakukan pemeriksaan luar saja, dan saat ini jenazah telah dimakamkan pihak keluarga,” imbuhnya.

Di tempat lain, ditemukan mayat berjenis kelaman laki-laki tanpa identitas. Saat itu kondisi mayat tersebut telah melepuh dan mengapung di Sungai Blengok, Desa Wonocoyo, Kecamatan Pogalan sekitar pukul 08.30. Melihat hal tersebut, tim gabungan langsung mengevakuasi mayat tersebut yang kemudian dibawa ke ruang jenazah RSUD hingga keluarganya ditemukan. “Saat ini kami masih berupaya untuk mencari identitas mayat tersebut. Dan, bagi masyarakat yang merasa ada anggota keluarganya yang hilang, silakan melapor. Kemungkinan mayat tersebut meninggal sekitar empat hari,” imbuh Kapolsek Pogalan, AKP Kaelani.(*/c1/rka)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.