Semakin Dekat dengan Pembaca

Bapak Dua anak Nekat Gandir

KABUPATEN BLITAR – Tewasnya Sukaji, warga Desa Jimbe, Kecamatan Kademangan, membuat keluarga terpukul. Mereka tak menyangka, nyawa bapak dua anak itu harus berakhir pada seutas tambang biru. Dia ditemukan menggantung dalam kondisi tak bernyawa, kemarin (27/7).

Kejadian itu awalnya diketahui Suprihatin, istri korban, sekitar pukul 05.30. Saat itu, dia sedang menyiapkan masakan di warung. Kaget lantaran tak melihat suaminya di rumah, dia kemudian mencari korban di rumah saudaranya yang terletak di samping rumah. Namun, hasilnya nihil.

“Saya bingung, kan tadi (kemarin, Red) pagi saya masih masak untuk warung. Bapak (korban, Red) tidak ada. Lalu, saya coba ke belakang rumah, itu pintu kelihatan sedikit terbuka,” ujar Suprihatin.

Merasa tak curiga, perempuan 53 tahun itu lalu mencari korban di belakang rumah. Di sana terdapat kandang ternak. Namun, belum melihat adanya korban. Ketika memasuki area bangunan belakang rumah, Suprihatin terkejut mendapati suaminya sudah menggantung pada seutas tambang sepanjang 1,5 meter. Dia pun segera meminta tolong kepada warga sekitar untuk mengecek kondisi suaminya. “Saat dicek, ternyata sudah meninggal,” lanjutnya.

Dalam upaya gantung diri (gandir) itu, korban diketahui menggunakan kursi dan tangga. Dua alat tersebut dipakai untuk naik dan mengaitkan tambang ke kayu penopang genting. Saat ditemukan tewas dengan leher terjerat tali, korban masih menggunakan busana lengkap. Yakni, kaus biru dan celana panjang. Kuat dugaan, korban nekat meregang nyawa lantaran depresi sakit asma yang tak kunjung sembuh. Padahal, korban sudah sering minum obat.

Menurut Suprihatin, tak ada tanda-tanda suaminya itu bakal mengakhiri hidup. Sebab, hubungannya dengan korban cukup harmonis. Akan tetapi, kata dia, korban memang sedikit susah bila diajak berobat ke dokter. “Kalau berobat di rumah sakit atau puskesmas, Bapak (korban) takut disuntik. Jadinya beli obat di toko-toko,” lanjutnya.

Informasi yang dihimpun di lapangan, korban juga sempat menderita depresi. Perangkat Desa Jimbe, Kecamatan Kademangan, Suyarno mengatakan bahwa stres yang diderita korban lantaran impitan ekonomi. Dia menyebut, korban dulu berasal dari keluarga yang kaya. Namun, karena kebutuhan yang kian banyak, keuangan keluarga korban semakin menipis.

“Stres juga karena mungkin selama diajak reuni, teman-temannya sudah sukses semua. Biasanya kalau sudah begitu, agak renggang dengan keluarga,” ungkapnya.

Kasubag Humas Polres Blitar Iptu Udiyono mengatakan, dari hasil olah TKP tidak ada senjata tajam di sekitar lokasi kejadian. Pada tubuh korban juga tak ada bekas luka penganiayaan. Diduga, korban sengaja bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Kepada polisi, keluarga meminta agar tidak dilakukan otopsi yang dibuktikan dengan surat pernyataan. “Tidak diotopsi. Setelah dievakuasi, kami olah TKP. Korban langsung dimandikan untuk proses pemakaman,” tandasnya. (mg2/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.