Semakin Dekat dengan Pembaca

Begini Kegiatan di Panti Jompo Griya Sakinah Khusus Perempuan

KABUPATEN BLITAR – Di panti jompo, mereka sengaja dititipkan oleh keluarga karena sudah tak sanggup lagi merawat. Bahkan, ada yang diterlantarkan. Pun yang hingga akhir hayatnya harus dikebumikan di pemakaman umum panti jompo itu berada.

Jarum jam menunjukkan tepat pukul 12.00. Saatnya persiapan makan siang bagi para penghuni Panti Jompo Griya Sakinah. Beberapa menu makan siang tinggal diantar ke masing-masing penghuni kamar.

Ada dua jenis menu yang disiapkan. Yakni, menu pedas dan tidak pedas. Sebab, tidak semua lansia di panti menyukai makanan pedas. Terlebih bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu.

Di tengah menyiapkan makan siang, kabar duka datang cukup mengagetkan. Salah satu lansia di panti tersebut menghembuskan napas terakhirnya. ”Itu tadi (kemarin, Red) yang saya bilang kondisinya sudah memburuk. Barusan saja meninggal dunia,” ujar Anis Sa’diyah kepada koran ini kemarin (21/12).

Saat itu juga, perempuan paro baya ini langsung menghubungi anggota keluarga dari lansia tersebut. Dia berasal dari Ngawi. ”Maaf ya, Mas. Saya tinggal dulu untuk mengurus jenazahnya,” lanjutnya.

Anis merupakan pendiri sekaligus pengelola panti yang terletak di Dusun Mungkung, Desa Wonorejo, Kecamatan Talun tersebut. Sudah bukan hal baru bagi perempuan 55 tahun ini menghadapi orang jompo yang meninggal dunia, apalagi orang jompo yang masuk kategori terlantar. ”Mereka ini kan sudah tidak ada keluarga. Jadi, kematiannya kami urus sendiri hingga pemakamannya,” terangnya.

Karena tidak jelas asal-usul keluarganya, mau tidak mau Anis harus menguburkan jasad lansia terlantar itu di pemakaman umum desa setempat. Namun, dia juga merasa berat hati jika terus memakamkan lansia terlantar itu di pemakaman desa setempat. “Lahan pemakamannya kan terbatas. Jadi sebisa mungkin kami cari info terkait asal daerah lansia tersebut agar bisa dimakamkan di sana,” tutur ibu tiga anak ini.

Saat ini di Panti jompo Griya Sakinah terdapat 16 orang yang dirawat. Tidak semua masuk kategori jompo. Hanya ada delapan orang yang lansia. Sisanya masuk kategori berkebutuhan khusus atau difabel. Rata-rata adalah perempuan. “Dulu pernah juga merawat lansia ODGJ (orang dengan gangguan jiwa, Red) di sini, tapi sekarang sudah tidak. Ternyata sulit untuk merawat mereka. Memang harus ada tempat khusus bagi mereka,” ungkapnya.

Sejak didirikan pada 2016 lalu, sudah banyak penghuni berganti. Entah itu karena pulang atau meninggal dunia. Selama ini, Anis merawat sendiri orang-orang jompo di pantinya. Ada satu rekannya yang membantu, tetapi tugasnya adalah memasak dan menyiapkan menu makanan mulai pagi, siang, hingga malam.

Sebenarnya ada keinginan untuk merekrut orang lain, membantu Anis dalam merawat orang-orang jompo setiap harinya. Namun, lagi-lagi dia terkendala masalah keuangan. ”Mereka kan juga butuh upah. Upah yang diberikan pun juga harus sebanding dengan beban tugas mereka. Apalagi, mereka yang tidak memiliki jiwa sosial,” ujar perempuan yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia sosial ini.

Mengurus ataupun merawat orang-orang jompo tidaklah semudah yang dibayangkan. Terlebih ketika menghadapi orang jompo yang agak rewel seperti “kenakan-kanakan”. Emosi diuji, pun kesabaran. ”Saya sendiri juga pernah sampai marah, tapi berusaha saya redam. Namanya juga orang tua, pasti begitu tingkahnya. Terutama menghadapi lansia yang terlantar dan pikun, harus ekstra sabar,” ungkapnya.

Mayoritas orang jompo yang dirawat di panti tersebut merupakan warga Blitar. Ada juga dari luar daerah, bahkan luar pulau. Terjauh ada yang dari Papua. “Karena di sana (Papua, Red) sudah tidak ada yang merawat, akhirnya dikembalikan ke Blitar,” ujarnya.

Tidak ada aktivitas khusus untuk lansia di Panti Jompo Griya Sakinah. Sebab, mayoritas dari mereka sudah dalam kondisi lemah secara fisik. Beda dengan panti-panti jompo yang dikelola pemerintah yang mayoritas merawat orang jompo yang masih sehat.

Anis memang sengaja merawat orang-orang lansia yang terlantar serta disabilitas. Terkadang, ketika ada keluarga yang ingin menitipkan nenek ataupun ibunya yang sudah sepuh, Anis melihat dulu kondisinya. “Jika kondisi masih sehat, saya arahkan ke panti jompo milik pemerintah,” terangnya.

Rutinitas yang dilakukan Anis setiap harinya mulai dari memandikan, kemudian memakaikan pakaian. Dalam merawat satu orang jompo bisa menghabiskan waktu sekitar 30 menit. Setelah itu menyiapkan menu makan pagi, siang, dan malam.

Mayoritas orang-orang jompo tersebut menghabiskan waktunya hanya di kamar tidur. Maklum, kondisi fisiknya memang lemah. Seperti yang dialami Samsilah, salah satu jompo. Perempuan 80 tahun itu sudah tidak bisa lagi jalan.

Kalau jalan pun harus ngesot. Setiap hari menghabiskan waktu di dalam kamar. “Biasanya seusai salat Subuh, saya mengaji,” ujar lansia yang mengaku asal Lodoyo ini.

Sudah dua tahun dia berada di panti jompo tersebut. Dia merasa kerasan tinggal di panti. “Ini memang keinginan saya sendiri. Biasanya dua minggu sekali, anak saya menjenguk ke sini,” tandasnya. (*)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.