Semakin Dekat dengan Pembaca

Begini Pengalaman Haqiarbi Darmabaktiar Menjadi Snake Handler di Trenggalek

TRENGGALEK – Haqiarbi Darmabaktiar, satu-satu warga Trenggalek yang telah lulus sertifikasi menjadi Snake Handler versi Sioux Ular Indonesia.

Satu harapan dari Haqi, bagaimana kita bisa aman ketika berhadapan dengan ular, tapi ular pun merasa tak terusik.

Banyak masyarakat yang geli atau takut ketika mengetahui ada ular di hadapan mereka.

Tak jarang mereka memilih menghindar ketimbang kepatuk ular karena bisa membahayakan nyawa.

Haqiarbi Darmabaktiar yang kini menjadi snake handler ternyata pernah trauma dengan ular. Bukan karena kepatuk atau terlilit, tapi karena rumahnya pernah kemasukan ular.

Peristiwa itu terjadi ketika Haqi duduk di bangku kelas IV SD. Ketika dia mengetahui rumahnya kemasukan ular, orang-orang dan termasuk keluarganya menganggap fenomena itu berbau mitos.

Sejak itu, mitos yang acapkali tak rasional itu mempengaruhi persepsi Haqi terhadap ular.

Tak ayal, sampai lulus SMP, Haqi memilih menjauhi binatang yang bernama ular.

Baru ketika Haqi duduk di bangku SMA, dia mulai belajar seluk-beluk ular.

Mulai dari anatomi tubuhnya, jenisnya, pancainderanya, dan sebagainya. Dengan mempelajari ular, efek traumatik Haqi berangsur sembuh.

Dalam benaknya, cerita rakyat mengenai mitos ular masuk rumah pun tak lagi rasional.

Haqi terus mengasah literatur tentang ular sampai ke jenjang Perguruan Tinggi (PT).

Di jenjang itu, Haqi benar-benar sudah terlepas dari belenggu traumatik semasa kecilnya.

Kini pria berambut keriting itu menjadi snake handler atau pengendali ular.

Warga Desa Ngetal, Kecamatan Trenggalek, mengatakan, di mata ular semua manusia itu sama.

Ular adalah hewan yang tidak bisa mendengar. Penglihatannya juga rabun. Tapi apa yang membedakan ular itu bisa takluk dengan manusia, itu adalah penanganan, dan pengendalian.

“Yang menarik dari ular, di mata ular semua manusia itu sama,” ujar Haqi saat ditemui di Kantor Satpol PP dan Damkar Trenggalek.

Melalui salah satu karakteristik ular, Haqi mengaku, sebetulnya dia bukanlah pawang ular yang mampu menjinakkan segala jenis ular. Yang dia kuasai adalah bagaimana mengendalikan ular agar bisa aman bagi dirinya, juga aman bagi ular.

Pria kelahiran tahun milenium baru itu melanjutkan, menjadi pengendali ular itu harus memiliki mental yang bagus. Sehingga mereka tidak akan panik ketika berhadapan dengan ular berbisa dan mematikan, misalnya King Cobra.

Dari pengalaman Haqi belum lama ini gabung di relawan Damkar, ternyata dia sudah dua kali mengendalikan ular berbisa (salah satunya King Cobra), dan sekali ular tak berbisa.

“Selama ini kepatuk ular berbisa mematikan belum. Kalau berbisa rendah itu beberapa kali, dan yang tidak berbisa itu sudah sering, sampai meninggalkan bekas luka,” kata Haqi.

Pengalaman itu bukan membuat Haqi menjadi kebal dari bisa ular. Haqi justru menyebut, tidak ada orang yang benar-benar kebal dengan bisa ular, karena yang berpengaruh adalah mental dan pertolongan pertama pasca dipatuk ular.

Berdasarkan dari penjelasan anggota Sioux Ular Indonesia itu, bisa ular tidak menjalar melalui peredaran darah, tapi melalui kelenjar getah bening.

Artinya, pertolongan pertama dengan cara menyedot bisa ular di bagian terpatuk, atau mengikat bagian terpatuk menggunakan tali itu adalah cara yang sia-sia.

“Pertolongan pertamanya adalah dengan tidak menggerakkan jaringan otot pada bagian yang terpatuk tadi,” ucapnya.

Semisal bagian yang terpatuk adalah jari tangan, maka syaraf-syaraf jari tangan sampai lengan jangan sampai digerakkan.

Kalau terlalu sering bergerak, bisa ular akan merembet naik ke pergelangan tangan, kemudian merembet ke bagian dada hingga ke seluruh tubuh.

“Apabila tidak digerakkan, bisa ular itu tetap bersifat lokal,” tambahnya. Sedangkan mengetahui sebarapa jauh perambatan bisa ular itu dengan cara mengenali pembengkakan.

Selanjutnya, ketika orang yang kepatuk ular berbisa berhasil mempertahankan peredaran bisa ular sebatas lokal selama 1×24 jam, maka tidak perlu mendapat suntikan antivenom.

Apabila sudah merembet ke organ, maka antivenom perlu disuntikkan. “Antivenom bisa merusak tubuh ketika tidak ada lawannya. Maka tidak ada serum atau vaksin anti ular berbisa (serum atau vaksin yang disuntikkan sebelum dipatuk ular, Red),” jelasnya. (*/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.