Semakin Dekat dengan Pembaca

Belajar Otodidak, Kini Pengrajin Gendang Asal Blitar Bisa Ekspor ke Cina

KOTA BLITAR – Hasil kreasi dari kayu telah menjadi sumber penghasilan Gideon Kariyanto. Warga Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, ini mampu menyulap kayu menjadi produk kendang. Bahkan, produk buatanya tersebut laku hingga ke negeri seberang.

Anto, sapaan akrabnya, memulai usaha kendang sejak 1989 lalu. Pria yang semula berprofesi sebagai sales ini tertarik mengembangkan usaha kendang. Dia terinspirasi setelah beberapa kali mengikuti adik kandungnya yang sudah memproduksi kendang terlebih dulu di Pulau Dewata. Awalnya, dia hanya membuat kendang sebagai pekerjaan sampingan. “Setelah saya pikir, lebih enak mempunyai usaha sendiri daripada kerja ikut orang,” ujarnya kemarin (6/1).

Dia mengaku tidak memiliki keahlian dalam membuat kendang. Awalnya, dia hanya membantu adiknya dengan mengirimkan kendang setengah jadi. Artinya, dia hanya membuat bentuk kendang. Proses gambar hingga finishing dilakukan di Bali.

Tidak berguru, apalagi kursus membuat kendang. Anto belajar secara otodidak. Meski begitu, kegigihanya membuahkan hasil positif. Bahkan, kini dia mampu memberdayakan masyarakat sekitar dan memberikan mereka penghasilan tambahan. “Saat ini ada beberapa karyawan. Karyawan yang bekerja di sini hanya 20 orang, ada beberapa juga yang membawa pekerjaan ke rumah. Karena kami pakai sistem borongan,” terang pria 53 tahun ini.

 

MENTAH: Seorang perajin sedang membubut kayu untuk dijadikan kendang. (TITANIA NOOR SHOLEHA/RADAR BLITAR)

 

Tiap hari, dia mampu menghasilkan 100-300 kendang. Menyesuaikan jumlah permintaan pembeli. Proses pembuatan kendang ini dilakukan secara manual. Mulai dari proses bubut, pengecatan, pemasangan kulit kambing, hingga finishing. Menurut Anto, hasil kendang dengan proses manual lebih bagus. “Kalau menggunakan mesin memang lebih cepat, tapi secara estetika lebih bagus dengan manual,” paparnya.

Anto menyebutkan, dia memproduksi kendang dengan ukuran yang beragam. Ukuran kendang paling kecil berdiameter 10 sentimeter dengan harga Rp 5 ribu. Sementara ukuran paling besar dibanderol dengan harga Rp 350-400 ribu.

Selama ini, Anto jarang memasarkan produknya ke lokalan Blitar. Biasanya, kendang produksinya langsung dikirim ke pelanggannya di Cina. Meskipun begitu, dia tetap menerima pesanan dari warga setempat. “Saya hanya mengirimkan produk ke Cina, karena di Blitar sudah banyak produk sejenis yang beredar,” tandasnya. (mg1/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.