Semakin Dekat dengan Pembaca

Belasan ODGJ Masih Dipasung

KOTA BLITAR – Program nol pasung tahun ini belum bisa terealisasi di Bumi Penataran. Indikasinya, hingga kini masih tercatat belasan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) terpaksa dipasung. Itu karena pihak keluarga khawatir jika dibebaskan bakal mengganggu kondusivitas.

Subko Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Kesehatan Jiwa (Keswa) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, dr Hyndra Satria Cahyono mengungkapkan, hingga penghujung tahun ini tercatat 18 ODGJ dipasung. Jumlah tersebut sempat turun sekitar Juni hingga Juli lalu. Salah seorang penderita gangguan jiwa dari Kecamatan Sanankulon dibebaskan dari pasung lantaran sudah terkendali. “Setelah itu tambah satu lagi, jadi jumlanya masih tetap 18 orang yang dipasung,” ujarnya.

Hyndra mengatakan, fenomena pasung ini terjadi lantaran pertimbangan pihak keluarga. Menurutnya, salah satu pemicu pemasungan adalah latar belakang ODGJ. Misalnya, pernah mengamuk dan mengancam keselamatan masyarakat. Karena itu, pihak keluarga terpaksa membatasi gerak atau mengurung penderita tersebut.

Pihaknya mengaku, ODGJ yang dipasung tak bisa langsung dilepaskan. Itu harus melalui persetujuan keluarga dan banyak pihak. Meskipun pembebasan ini mempermudah proses pengobatan, tetapi ada konsekuensi jangka panjang di lingkungan masyarakat yang juga harus dipertimbangkan.

“Kalau yang dibebaskan masih membahayakan, otomatis tidak mungkin

Mungkin dulu biasanya melukai orang, bahkan mau membunuh orang, apa berani kalau dibebaskan?” jelasnya.

ODGJ yang masih dipasung, lanjut dia, tetap mendapatkan pengobatan. Itu melalui posyandu kesehatan jiwa yang tersebar di tiga puskesmas. Yakni, Puskesmas Srengat, Kademangan, dan Kesamben secara gratis. Namun, pelayanan ini hanya ada sekali dalam sebulan.

Terkait program zero pasung, pihaknya tetap melakukan upaya pendekatan dengan keluarga pasien. Itu melibatkan dinas sosial (dinsos) hingga kepolisian. Tujuannya melakukan observasi dan wawancara terkait pelepasan pasung, serta pemaparan kemungkinan terbaik dan terburuk pascapembebasan.

“Program ini bagus, tapi track record mereka beda-beda. Perlahan kami berusaha, memahami latar belakang. Kalau berbahaya, kami belum bisa memaksa,” tandasnya.

Untuk diketahui, kasus ODGJ di Kabupaten Blitar tahun ini sebanyak 2.146 pasien. Jumlah ini sedikit meningkat dibandingkan tahun lalu, yakni 2.127 pasien. Dari sisi usia, mayoritas diidap masyarakat di atas 45 tahun dan disebabkan oleh faktor ekonomi. (luk/c1/hai)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.