Semakin Dekat dengan Pembaca

Berawal Dari Hinaan di Status Facebook, Herlina Bakal Gugat Balik Carolyn

Tulungagung – Konflik dua perempuan asal Kelurahan Kutoanyar, Kecamatan Tulungagung, berujung pelaporan perkara identitas ganda, kini menemukan titik terang. Perkara ini sudah sejak pertengahan tahun 2022, tetapi beberapa mediasi yang dilalui tidak membuahkan hasil.

Hasilnya, Pengadilan Negeri (PN) Tulungagung memutuskan tidak memeriksa perkaranya. “Putusan sidang perdata di PN Tulungagung telah keluar pada 12 Januari lalu melalui e-court. Dari putusan itu mengabulkan eksepsi kewenangan relatif tergugat dan  menyatakan Pengadilan Negeri Tulungagung tidak berwenang mengadili perkara a quo,” ujar kuasa hukum tergugat Herlina, Nanianto.

Dia menceritakan, konflik yang melibatkan kliennya yakni Herlina dengan Carolyn berawal dari status Facebook yang dibuat penggugat beberapa bulan lalu. Posting-an di media sosial (medsos) itu berisi kata-kata hinaan terhadap kliennya. Jadi, Herlina melaporkan Carolyn ke Polres Tulungagung atas dugaan tindak pidana UU ITE terkait pencemaran nama baik.

Namun, sejak laporan dilayangkan pada 14 April 2022, prosesnya belum dinaikkan ke tahap penyidikan oleh Polres Tulungagung. Herlina telah mengirim surat perkembangan perkara, hingga dibalas polisi dengan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan (SP2HP), dengan harapan proses hukumnya segera ditangani atau ditingkatkan.

“Ternyata juga muncul laporan di Polres Tulungagung dari saudara Carolyn terhadap Herlina tentang administrasi kependudukan. Setelah itu dilanjutkan gugatan ke PN Tulungagung. Itu awal mula adanya sidang ke PN,” terangnya.

Selama proses hukum berlangsung, tentu melewati beberapa mediasi dari polres dan PN Tulungagung. Mediasi di polres dilakukan dua kali dan mediasi di PN hanya sekali. Selain itu, ada sidang PN Jakarta Pusat yang memutuskan Suprihatin dan Herlina adalah orang yang sama. Kemudian, ada kewajiban untuk menghapus salah satu nomor induk kependudukan (NIK). Kini perkara itu dilanjutkan di Mahkamah Agung (MA) untuk permohonan penetapan nama.

Mediasi bertujuan untuk perdamaian dan syaratnya harus menghadirkan keluarga pelaku dan korban. Namun, dalam tahap itu tidak ada titik temu. Sampai melangkah perkara perdata juga melalui mediasi, tetapi tetap tidak ada titik temu yang dihasilkan. “Saudara Carolyn bersedia damai, tapi dengan syarat tertentu. Syaratnya harus minta maaf di sosmed selama tujuh hari, padahal laporan saya belum ditindak lanjuti. Selain itu, saya yang dihina-hina. Dan parahnya, selama proses hukum berjalan, Carolyn sering membuat status menghina saya,” ungkap Herlina.

Dia menyatakan telah memberikan pemberitahuan kepada dinas kependudukan dan pencatatan sipil (dispendukcapil) untuk penghapusan identitas agar tidak terjadi identitas ganda. Padahal, penetapan nama ini sudah diurusnya sejak beberapa tahun lalu. Namun, masih ada berkas nama lamanya di kantor Kelurahan Kutoanyar dan dispendukcapil.
Apalagi, Herlina di Jakarta Pusat sudah mendapatkan penetapan tetapi masih di kasasi. Dia menyampaikan bahwa sudah pindah. Seharusnya dispendukcapil memiliki data perpindahan, tetapi dia justru masih tercatat warga Kelurahan Kutoanyar.

Menurut dia, proses perkaranya ini lama, tetapi dia tetap mengapresiasi kepolisian yang tidak terburu-buru memutuskan. Namun, dia juga dirugikan karena harus bolak-balik dari luar negeri ke Tulungagung.
Jika ditelusuri, lanjut dia, pihaknya tidak merasa bersaing arisan online (arisol). “Arisol itu milik teman dan saya hanya membantu untuk mempertahankan arisannya. Sehingga itu bukan arisan saya,” ungkapnya.
Dia menegaskan, kini proses hukumnya sudah jauh dan namanya tercemar sehingga harus dilanjutkan hingga tuntas. “Saya mengikuti proses hukum saja. Jelas saya gugat balik kepada yang bersangkutan. Lantaran di PN kemarin belum ke materi karena tidak berwenang untuk memeriksa,” pungkasnya. (jar/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.