Semakin Dekat dengan Pembaca

Bermula Menjadi Eeseller, Hasilnya Gunakan Untuk Uang Kuliah

Setiap pagi Vingky Dwi Marta, selalu pergi ke green house yang terletak di samping rumahnya yang berada di wilayah Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo. Kepergiannya tersebut bukannya tanpa alasan sebab dirinya selalu memeriksa tanaman berbagai jenis anggrek yang ada di lokasi tersebut. Ya, hal tersebut yang telah dilakukannya sejak 2017 lalu, sebab dengan telaten memelihara tanaman dengan nama latin Orchidaceae tersebut berbagai keuntungan diraihnya.

Ketika Jawa Pos Radar Trenggalek berkunjung di area green house miliknya tersebut kemarin (16/1). Ternyata awal mula dari dirinya kuliah dan mendapatkan kesempatan magang di salah satu tempat pembudidayaan anggrek di Kota Malang. Setelah beberapa kali merawat tanaman tersebut dia menjadi suka untuk mengikutinya. Sebab dibutuhkan ketelatenan agar tanaman tersebut dapat menghasilkan bunga yang indah. Dari situ akhirnya suatu saat tanaman yang dipelihara berhasil berbunga. “Bersama itu saya juga belajar menjadi reseller, atau memasarkannya yang pertama secara online. Kendati saat itu pasar online di media sosial dan sebagainya tak secanggih saat ini,” ungkap Vingky Dwi Marta kepada koran ini.

Berkat transaksi jual-beli anggrek tersebut, Vingky mendapatkan kesempatan keuntungan yang lumayan banyak. Karena banyak yang berminat akan anggrek yang dipasarkan tersebut, bahkan keuntungan yang diraih bisa digunakan sebagai uang jajan dan biaya sisa kuliah. Sehingga keahlian dalam merawat dan menjual anggrek tersebut menjadi modal yang berharga ketika lulus kuliah. “Seperti yang diketahui, setelah lulus cari pekerjaan sangat sulit, karenanya dengan kemampuan yang dimiliki saya nekat membuka bisnis budidaya anggrek ini,” katanya.

Sehingga dengan modal sisa dari berjualan magang tersebut dirinya mulai usaha tersebut, hingga bisa mengumpulkan sekitar Rp 30 juta untuk membangun green house. Setelah memiliki green house, tekadnya dalam menekuni usaha tersebut semakin tinggi, hingga dirinya lebih telaten dalam membudidaya anggrek. Dengan ketekunan dan ketelatenannya tersebut kendati beberapa kali sempat merugi karena anggrek yang ditanamnya tidak berbunga, namun Vingky terus berusaha membudidayakannya.

Usaha tersebut dilakukan dengan menggandeng para reseller anggrek lain untuk membantu proses pemasaran. Sebab jika hal tersebut dilakukannya sendiri, pastinya konsentrasi budidaya akan terpecah, dan tidak bisa cepat berkembang. Akhirnya dengan jerih payahnya tersebut, sekitar dua tiga tahun berselang atau di antara tahun 2019- 2020 kemarin dirinya memiliki tambahan modal sekitar Rp 100 juta. Tambahan modal tersebut digunakan untuk memperluas green house miliknya dan membeli tambahan koleksi berbagai jenis anggrek.

Dari situ sejauh ini transaksi tertinggi dalam satu hari yang diraihnya bisa mencapai Rp 5 juta, hingga Rp 6 juta. Transaksi tersebut didapat dengan modal sekitar Rp 3 juta. Sedangkan untuk keuntungan setiap bulannya dirinya tidak bisa merinci, pastinya bisa mencapai sekitar puluhan juta rupiah

Dengan seiring berjalannya waktu semula bisnis anggrek yang dikenal hanya lewat dunia maya, beberapa customer yang berada di daerah sekitar seperti Tulungagung, Kediri, dan sebagainya ingin berkunjung. Setelah berkunjung ternyata mereka takjub, dan mempromosikan bisnisnya tersebut dari mulut ke mulut hingga bertambah besar seperti saat ini hingga ke luar pulau. “Terpenting adalah menjaga kepercayaan customer, seperti ada customer saya dari Balikpapan yang memesan benih anggrek. Setelah saya memberikan benih yang sesuai keinginan, dia ketagihan dan menjadi langganan,” tandasnya.(*/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.