Semakin Dekat dengan Pembaca

Bertahan 24 Tahun: PAN Menjadi Partai Politik Yang Inklusif

⁰TULUNGAGUNG – Gagasan reformasi memberikan perubahan terhadap sistem politik kita hari ini. Terwujudlah sistem politik pemilu yang terlembagakan secara sistematis yang memungkinkan untuk membuka kran-kran demokrasi di Indonesia. Demokrasi menyaratkan adanya partai politik, oleh sebab itu keberhasilan dalam menerapkan sistem demokrasi salah satunya dapat dinilai dari keberadaan partai politiknya. Terciptanya sistem pemilihan umum membuka peluang bagi partai politik dan personal untuk berkompetisi secara terbuka, sehat dan berkeadilan.

Demokratisasi yang terjadi pada sistem politik Indonesia tentu tidak akan bisa bertahan secara mandiri, apabila institusi politik yang berada di dalamnya tidak juga melakukan perubahan. Oleh karena itu, dibutuhkan fondasi yang kuat untuk menopang gagasan reformasi tersebut yakni dengan keberadaan partai politik itu sendiri, dengan kata lain, sistem politik sekarang memiliki resonansi yang cukup kuat bagi kelangsungan partai politik.

Sebagai fondasi yang selalu menopang gagasan reformasi, PAN terus konsisten dalam mengawal amanah tersebut. PAN yang lahir dari rahim reformasi tentu memiliki semangat guna menciptakan sistem pemerintahan yang baik (good governance), demi menciptakan kesejahteraan rakyat dan kepentingan nasional (Zulkifli Hasan, 2020).

Hari ini (23/8), PAN telah memasuki usia 24 tahun, tidak banyak partai yang dapat bertahan di usia tersebut, berbagai partai politik yang lahir dari rahim reformasi telah berguguran satu per satu, terdapat partai yang gagal mengelola organisasi politik secara manajerial. Selain dari pada itu juga ditandai oleh tingginya ketidakpercayaan masyarakat terhadap partai yang dibuktikan dengan perolehan suara pemilu rendah, tetapi, PAN menjadi suatu partai politik yang berbeda.

PAN dapat bertahan terus-menerus di tengah ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi partai politik. Tiga kali mengikuti pemilihan umum PAN selalu lolos dalam ambang batas parlemen. Dalam analisa saya, terdapat dua komponen penting yang berkontribusi terhadap eksistensi PAN hingga saat ini; Pertama, penguatan kelembagaan partai melalui demokratisasi di internal partai. Kedua, menciptakan kultur politik yang inklusif dengan cara memberikan akses selebar-lebarnya bagi kelompok manapun termasuk kelompok anak muda yang merupakan salah satu trend politik di Indonesia.

Upaya PAN Mewujudkan Demokratisasi Internal Partai

Demokrasi internal partai menjadi salah satu komponen penting dalam melihat pola relasi-kuasa yang terbentuk antar aktor di dalam tubuh partai (Sukmajati, 2020). Karena di dalamnya terdapat distribusi kekuasaan dalam pengambilan keputusan baik antara anggota partai, elite partai maupun anggota-elite partai.

Pentingnya demokrasi internal partai juga melihat bagaimana karakteristik partai terbentuk, apakah partai bersifat oligarkis yang cenderung melakukan pengambilan keputusan di bawah meja dan tertutup.

Ataupun  bersifat demokratis yang melibatkan banyak elemen dalam pengambilan keputusan. Selain itu, aspek kandidasi menjadi melihat demokrasi internal partai. Mengapa demikian? Pertama, kandidasi merupakan sebuah alat yang memungkinkan dapat menggambarkan peta elemen utama dalam struktur kekuasaan internal partai (Rahat & Hazan, 2001: 297).

Kedua, proses seleksi kandidasi dapat melihat perilaku individu politisi dalam struktur internal partai, hal tersebut bertolak belakang dengan anggapan bahwa perilaku partai hanya dapat diukur melalui bekerjanya sistem pemilu (Sartori, 1979; Taagepera, 2007).

Di samping itu, kandidasi merupakan suatu event politik yang paling kerasa di antara masyarakat, sehingga masyarakat dapat menilai apakah partai tersebut demokratis atau oligarkis.

Dalam konteks PAN sekarang, dapat dilihat bagaimana PAN memberikan ruang selebar-lebarnya bagi para anggotanya terutama dalam agenda proses pengambilan keputusan internal partai. Partai berlambang matahari ini telah melewati banyak gejolak dalam setiap momen-momen pengambilan keputusan yang bersifat krusial, misalnya, dinamika internal partai khususnya pengambilan keputusan penting seperti Kongres maupun Rakernas.

Banyak yang beranggapan dinamika kongres mengakibatan  prospek buruk bagi partai ini. Hal ini seolah-olah membuat dinamika yang terjadi di internal partai memiliki konsekuensi terhadap perubahan konstelasi politik yang akan dijalankan oleh PAN. Padahal, saya memiliki pandangan yang justru menolak anggapan tersebut, dinamika yang terjadi di internal PAN justru memberikan nuansa yang positif bagi perkembangan partai terutama kedewasaan politik di antara para anggota dan pengurus partai.

Bahkan, Ketua Umum Zulkifli Hasan menyebut bahwa proses ini sebagai perwujudan dari demokrasi internal partai politik yang memberikan dampak baik bagi kelangsungan hidup suatu partai. Selain itu, agenda pengambilan keputusan krusial di internal PAN selalu menjadi konsumsi publik, semua proses di balik pengambilan keputusan dapat disaksikan melalui media-media nasional maupun lokal.

Hal ini menandakan bahwa kehadiran PAN justru mendobrak anggapan bahwa pengambilan keputusan hanya bersifat elitis, tertutup, dan bersifat transaksional. Oleh karena itu, konsistensi PAN selama pasca reformasi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi perubahan sistem politik Indonesia yang bersifat jujur, adil dan terbuka.

Demokrasi internal PAN juga dapat dilihat melalui proses kandidasi internal partainya. PAN dalam menentukan kandidatnya terutama calon-calon legislatif tidak pernah memberikan privilege kepada anggota internal partai saja.

PAN melakukan rekrutmen politik secara terbuka, sehingga masyarakat umum mampu berpartisipasi serta menjadi aktor politik langsung yang berkontestasi dalam arena pemilu. PAN juga memberikan kebebasan bagi calegnya terutama dalam laku politiknya namun tanpa melakukan pengabaian terhadap kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, dalam pengambilan keputusan internal PAN terkait penentuan kandidat dilakukan melalui skema desentralisasi (Sukmajati, 2020). Artinya, PAN menjadi salah satu partai yang terus konsisten mengemban amanah reformasi yakni desentralisasi politik dengan memberikan kewenangan dalam pengambilan keputusan kepada pengurus partai di tingkat daerah sesuai dengan wilayah kerjanya.

PAN Sebagai Partai Politik Yang Inklusif Terhadap Anak Muda

Eksistensi PAN tidak hanya didukung melalui penguatan pelembagaan partai melalui demokratisasi internal partai melainkan juga didukung oleh kultur politik yang inklusif bagi semua kalangan. Secara umum, PAN hadir sebagai partai yang adaptif terhadap kelompok manapun khususnya kelompok anak muda.

PAN tidak pernah membedakan kadernya dari segi usia, status sosial maupun ekonomi terutama dalam proses rekrutmen politik. Dalam hal ini PAN terus konsisten memberikan peluang terbuka bagi kelompok anak muda yang ingin mengajukan diri melalui PAN, salah satunya yang terjadi di wilayah Jawa Timur, di mana terdapat kader PAN yakni Slamet Ariyadi yang mampu terpilih menjadi anggota parlemen tanpa privilege yang melatarbelakanginya seperti kekayaan, popularitas maupun kemapananan orang tuanya (Pamungkas, 2020).

Hal ini merupakan sebagai langkah PAN dalam memecahkan mitos tentang tingginya cost politik dan popularitas sebagai modal melenggang ke senayan. Sampai saat ini terdapat 6 kader PAN yang berada di parlemen dengan usia di bawah 32 tahun.

Kultur inklusi yang paling kentara di tubuh PAN adalah upaya memberikan ruang yang luas bagi kelompok muda. Hal ini diucapkan oleh Ketua PAN Jawa Timur, Ahmad Rizki Sadig mengatakan PAN sudah menyiapkan beberapa strategi untuk merangkul generasi muda dengan cara membuka pintu selebar-lebarnya peluang bagi generasi muda.

Mereka akan diprioritaskan untuk bergabung sebagai anggota aktif di kepengurusan PAN. Selain itu juga menyiapkan ambang batas minimal kuota 30% untuk caleg usia muda.

Dengan cara ini, ia berharap banyak generasi muda asal PAN yang mampu menjadi wakil rakyat, baik di tingkat pusat (DPR) dan di tingkat daerah (DPRD). Hal ini memberikan sesuatu yang krusial dalam penjelasan bahwa keterlibatan anak muda tidak semata-mata dapat dilakukan melalui jargon politik saja, namun perlunya perluasan akses bagi kelompok muda salah satunya dengan memberikan porsi di struktural kepengurusan.

PAN Menuju 2024: Anak Muda Sebagai Entitas Penting

Yang menjadi pertanyaan besar, sejauh manakah peranan penting dari anak muda di internal partai terutama persiapan menjelang Pemilu 2024 mendatang. Banyak yang menilai bahwa peranan anak muda di dalam partai politik sebatas pada urusan perhitungan suara yang lebih banyak.

Akan tetapi, saya melihat tidak sebatas pada titik tersebut, peranan anak muda dalam partai justru memberikan pengaruh yang baik bagi masyarakat dan partai itu sendiri. Anak muda dapat berkontribusi bagi pendidikan politik terutama bagi kalangan seusianya untuk memberikan kesadaran tentang pentingnya politik bagi kehidupan manusia.

Hal ini yang kemudian lantas dijawab langsung oleh PAN melalui pembentukan Kaukus Milenial PAN, Juru Bicara Muda PAN dan penguatan ortom partai Barisan Muda PAN. Ketiga aspek ini terdiri dari anggota DPR RI milenial, anggota DPRD Provinsi/Kabupaten milenial dan pengurus DPP, DPW serta DPD milenial. Seperti Barisan Muda PAN dibentuk secara terstruktur dari pusat hingga daerah.

Selain menyerap aspirasi anak muda,ketiganya dibentuk sebagai wadah dari kreativitas anak muda seperti bidang kewirausahaan, industri musik dan video, content creator, dsb. Upaya ini dianggap sebagai salah satu strategi yang mampu memberikan atensi positif terutama pada anak muda.

Juga keseriusan PAN dalam menciptakan kultur politik yang inklusif. Selain mendapatkan atensi yang positif, hal ini juga dapat meningkatkan marwah anak muda sebagai pelaku nyata dalam dunia politik, dan ini berawal dari gagasan cemerlang PAN. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.