Semakin Dekat dengan Pembaca

Boleh Main Lato-lato asal Diawasi, Ortu: Wajib Dimainkan Sepulang Sekolah

TRENGGALEK – Fenomena bermain lato-lato tengah digandrungi sebagian anak-anak. Tidak terkecuali di Bumi Menak Sopal. Itu terlihat di beberapa lokasi, tidak sedikit kelompok anak-anak yang memainkannya.

Tak ayal, hal tersebut dapat menjadi kegiatan baru bagi anak-anak sepulang sekolah agar bisa terlepas dari ketergantungan gawai. Melalui permainan itu dapat membangun interaksi sosial karena akan lebih menyenangkan untuk dimainkan bersama-sama. “Jika main sendiri pasti akan sepi, dari situ lebih enak bareng-bareng teman agar lebih seru,” ungkap salah satu anak asal Kecamatan Karangan yang bermain lato-lato, Summa Pratama.

Dia bersama teman-temannya biasa bermain lato-lato sepulang sekolah. Lokasi bermainnya selalu berubah-ubah, berdasarkan kesepakatan semula. Namun, dia biasanya bermain di salah satu rumah teman atau di poskamling dekat rumah ketika sepi. “Jadi, ketika di sekolah, kami membuat janji bertemu untuk bermain lato-lato,” katanya.

Di sisi lain, salah satu orang tua di Trenggalek, Sumarmi mengatakan, memang dari bermain-main lato-lato ada perubahan pada diri anak. Yaitu, yang biasanya bermain gawai sepulang sekolah, kini menjadi menjadi lebih aktif. Namun, dalam proses bermain lato-lato, dia dan orang tua lain harus menambah pengawasan untuk proses pembatasan. Sebab, jika dimainkan terus-terusan, maka ditakutkan akan mengganggu aktivitas belajar anak-anak. Termasuk di sekolah. “Jadi, saat ini saya hanya memberi izin bermain lato-lato sepulang sekolah, sedangkan malamnya wajib belajar,” imbuhnya.

Disinggung terkait hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Trenggalek Agoes Setiyono mengimbau agar kepala sekolah dan para guru mengawasi peserta didiknya ketika di sekolah. Hal tersebut bertujuan agar tidak ada peserta didik yang bermain lato-lato di sekolah. Sebab, jika hal tersebut terjadi pastinya akan mengganggu proses kegiatan belajar mengajar (KBM). “Karena itu kami mengimbau agar anak-anak tidak membawa mainan lato-lato atau mainan yang lain di sekolah. Sebab, jika itu terjadi akan mengganggu konsentrasi mereka dalam menerima pembelajaran dari guru,” jlentrehnya.

Namun, jika peserta didik terlanjur membawanya ke sekolah, disdikpora menekankan agar peserta tidak memainkannya di waktu-waktu tertentu. Itu seperti di sela pelajaran ketika ditinggal gurunya sebentar untuk keperluan tertentu dan sebagainya. Dengan begitu, hal tersebut hanya boleh dimainkan ketika istirahat atau sepulang sekolah, tetapi dengan catatan tetap dalam pengawasan guru.

Sejatinya, disdikpora tidak melarang anak-anak untuk bermain lato-lato karena permainan tersebut bisa melatih ketangkasan dan motorik anak-anak. Selain itu, lato-lato juga diharapkan bisa mengurangi tingkat kecanduan anak pada gawai. Karena itu, disdikpora meminta baik guru maupun wali murid bisa memberikan bimbingan kepada peserta didik untuk bisa membagi waktu antara belajar dengan bermain. “Sebenarnya bermain lato-lato bukan hal yang baru, sebab itu merupakan hasil kreatif budaya peradaban manusia. Selain itu juga melatih kecerdasan keterampilan anak. Makanya harus dilakukan dengan pengawasan untuk meminimalkan dampak negatifnya,” jelas mantan kepala dinas koperasi, usaha mikro, dan perdagangan tersebut.(jaz/c1/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.