Semakin Dekat dengan Pembaca

Butuh Fisik dan Mental Kuat Menjadi Ibu, Mengapa?

Sungguh hebat perjuanganmu, ibu. Kalimat itulah yang memang benar-benar menggambarkan sosok ibu. Sejak mengandung hingga persalinan, banyak hal yang harus dikorbankan. Bahkan, nyawa menjadi taruhan. Namun, itu semua dilalui demi buah hati.

Persalinan menjadi momen penting bagi perempuan. Sebab, setelah proses ini berhasil, mereka akan menyandang gelar baru, yakni ibu. Namun, untuk itu tidak hanya butuh kekuatan fisik, mental juga harus dipersiapan.

Ada banyak faktor risiko yang memengaruhi keberhasilan persalinan. Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan RSUD Mardi Waluyo Blitar, Musrah Muzakkar mengatakan, pendarahan dan tekanan darah tinggi pada ibu hamil (pre-eklampsia) menjadi hal paling diperhatikan. Sebab, ini dapat menimbulkan risiko tinggi pada ibu atau anak. “Bahkan bisa berisiko meninggal dunia untuk ibu dan anak,” ujarnya.

Musrah melanjutkan, ibu hamil dengan risiko tinggi terjadi pada ibu yang memiliki tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, obesitas, anemia, hingga jantung. Jika tidak ditangani secara tepat, dampaknya fatal. Yakni, menyebabkan kematian pada ibu. “Jika kondisi ibu tidak optimal, maka tingkat risiko melahirkan semakin besar. Bisa pendarahan hingga kematian,” bebernya.

Dia mengatakan, semua usia kehamilan masuk kategori rawan. Karena itulah, calon ibu harus memberikan perhatian di setiap usia kehamilan. Pada trisemester pertama, idealnya dilakukan skrining untuk mengetahui kondisi kehamilan. Pada trisemester berikutnya, pemeriksaan menggunakan ultrasonografi (USG) perlu dilakukan untuk mengetahui kehamilan tersebut. Seperti umur kehamilan dan posisi janin. “Pada pemeriksaan ini bisa mengetahui kelainan bawaan yang terlihat (mayor), seperti tidak ada batok kepala, hernia, anggota tubuh tidak lengkap, ataupun kembar siam,” paparnya.

Ada beberapa tantangan yang acapkali terjadi dalam proses persalinan. Seperti kembar siam, kepala bayi besar, dan posisi sungsang. Jika posisi sungsang, ibu bisa mengupayakan agar posisi bayi mantap dengan melakukan olahraga ibu hamil. “Jika bayi kepala besar dan dipaksa lahir normal, maka ibu bisa mengalami trauma dan terjadi pendarahan, bahkan berisiko meninggal dunia,” jelasnya.

Menurut dia, pada usia kehamilan menginjak trisemester ketiga, idealnya USG dilakukan minimal dua kali. Sebab, masa tersebut adalah masa kesejahteraan janin dan kondisi ibu. Pada masa tersebut, USG dilakukan untuk mengetahui letak plasenta, jumlah air ketuban, serta pemeriksaan denyut jantung janin. “USG dilakukan untuk memastikan kondisi ibu dan janin sehat menjelang persalinan,” ujar dokter ramah itu.

Kehamilan adalah suatu proses yang harus dipersiapkan. Calon ibu harus membuat rencana kehamilan yang dilakukan saat sebelum menikah dan sebelum hamil. Hal ini bertujuan untuk mengetahui status kesehatan ibu sebelum hamil. “Saat ini banyak ibu hamil tanpa persiapan dan mengabaikan risiko kehamilan,” terangnya.

Musrah menyebut, volume air ketuban pada rahim bisa kurang, cukup, ataupun banyak. Kelainan pada ketuban dapat menyebabkan kelainan pada bayi. Jika volume air ketuban banyak, maka bisa jadi ada kelainan pada ginjal bayi atau gangguan pencernaan pada bayi. “Sementara jika ketuban habis, maka bisa dimungkinkan bocor atau kelainan pada bayi sehingga bayi tidak dapat memproduksi air ketuban. Bisa juga karena kehamilan sudah lewat waktu,” bebernya.

Selama masa kehamilan, calon ibu juga harus memperhatikan pola hidup sehat. Istirahat cukup dan menghindari aktivitas yang membahayakan kehamilan. Tanggung jawab lain bagi perempuan adalah memastikan kecukupan nurtrisi. Sebab, nutrisi yang didapatkan oleh bayi berasal dari konsumsi sang ibu. “Selain itu, ibu juga tidak boleh kekurangan darah, karena darah yang mengantarkan makanan ke janin,” lanjutnya. (mg1/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.