Semakin Dekat dengan Pembaca

Butuh Wadah Berekpresi, Bukan Dikasihani

KABUPATEN BLITAR – Disabilitas masih menjadi pekerjaan rumah di Bumi Penataran. Karena kendala fisik, para pemerlu pelayanan kesejahteraan sosial (PPKS) ini kesulitan mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan karya.

“Jumlahnya (disabilitas di Kabupaten Blitar, Red) ada ribuan. Kami terus melakukan pendataan,” ujar Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Blitar Bambang Dwi Purwanto, kepada Koran ini beberapa waktu lalu.

Informasi yang berhasil dihimpun, jumlah disabilitas di Kabupaten Blitar hampir menyentuh angka 8.000 orang. Mereka tersebar di 22 kecamatan. Terdiri atas cacat tubuh, tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita, disabilitas mental, disabilitas ganda, dan gangguan lainnya, seperti stroke dan lumpuh. Namun, yang paling banyak atau mendominasi adalah disabilitas mental. Jumlahnya telah mencapai angka 3.000 orang.

Data tersebut relatif dinamis karena ada beberapa faktor pemicu penambahan sekaligus pengurangan disabilitas. Misalnya, karena meninggal, atau karena ada peristiwa baru yang mengakibatkan kecacatan fisik.

Bambang menyebut perhatian pemerintah cukup besar untuk kelompok tersebut. Misalnya, dengan memasukkan mereka dalam program-progam sosial yang dilaksanakan pemerintah daerah. “Tidak hanya sebagai sasaran atau penerima manfaat bantuan program, pemerintah juga sebisanya memfasilitasi pemasaran produk atau karya mereka (penyandang disabilitas, Red)” ungkapnya.

Menurut dia, karya yang dihasilkan para difabel juga cukup baik. Sayangnya, sebagian orang masih belum percaya, bahkan belum berani mencoba untuk menggunakan produk tersebut. “Banyak lho produk mereka, selain batik, ada juga produk kriya. Mereka ini tidak mau dikasihani, hanya butuh kesempatan dan peluang untuk berekspresi saja,” terangnya.

Karena alasan ini, tegas Bambang, tahun ini pemerintah menyediakan panggung karya dengan konsep karnaval untuk para difabel. Dengan begitu, karya atau produk difabel bisa tersebar luas atau bisa diketahui oleh khalayak ramai.

Founder Rumah Kinasih, Edy Cahyono membenarkan bahwa orang dengan keterhambatan fisik memang cukup banyak. Begitu juga untuk mereka yang memiliki masalah dengan mental. “Orang dengan gangguan kejiwaan (ODGJ)itu sebutan, di dalam kelompok ini ada beberapa kriteria. Misalnya depresi, bipolar, autis, dan lainnya,” jelas Edy.

Dia mengungkapkan, masyarakat kini mulai care alias bisa menerima kelompok berkubutuhan khusus tersebut. Meskipun motivasi dibalik kesempatan ini juga bervariatif.

Menurutnya, pemerintah juga sudah memberikan perhatian yang cukup besar. Meski porsinya masih sangat jauh jika dibandingkan dengan bidang atau kepentingan lainnya. “Yang kini juga dibutuhkan adalah kontrol. Karena orang beli produk difabel itu macem-macem, ada karena kasihan atau memang mengakui kualitas produk,”katanya.

Edy menegaskan, peduli tidak hanya dengan membeli produk. Namun juga memberikan evaluasi dan arahan agar kualitas yang dihasilkan oleh kelompok tersebut mampu bersaing dengan produk pasar lainnya.(hai/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.