Semakin Dekat dengan Pembaca

Cerita Climber IBEX, Berjibaku Menantang Maut di Tebing Lingga Trenggalek

TRENGGALEK – REKOR Tebing Lingga pertahankan virgin-nya akhirnya terpecahkan. Terbukti dari pembentangan sang merah putih saat peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-77 RI pada 17 Agustus. Ada lima climber yang melangsungkan proses membentangkan bendera berukuran 30 x 20 meter (m) waktu itu. Mereka memiliki tugas kolektif, yakni mengatur bendera raksasa terbentang dengan baik.

Bukan hanya lima climber saja yang bertugas saat pembentangan bendera raksasa saat itu. Ada juga satu tim yang memiliki fungsi krusial, dia berada di bawah dan mengatur ritme para climber agar turun seirama. Proses menurunkan bagian bawah bendera itu lebih dari lima menit. Suatu hal yang menyita waktu adalah obstacle (rintangan) yang menjadi pesona Tebing Lingga.

Tebing Lingga memiliki cirri khas, yang membedakannya dengan tebing-tebing lain. Tingkat kemiringan jalur pendakian ini mencapai 45 derajat, memiliki banyak batuan jatuh, dan pergantian cuaca yang cepat. Salah satu tim climber IBEX Mohammad Riyan menceritakan pengalamannya saat memanjat Tebing Lingga pada HUT ke-77 RI.

Dia terkesan dengan Tebing Lingga yang memiliki medan pemanjatan yang menantang. Utamanya pada batuan jatuh dan kokoh memiliki perbandingan 50 : 50. Para climber harus jeli dalam memilih batuan untuk dijadikan tumpuan memanjat, sebab kalau sampai salah, batuan itu bisa jatuh dan membahayakan climber. “Dari segi jalur cukup menantang. Tebing ini punya batuan yang cepat jatuh, itu perbedaannya (dengan tebing lain, Red), yang ditandai dari tekstur retak pada tebing. Tekstur itu berpotensi tinggi batuan jatuh,” ungkapnya.

Pembentangan bendera raksasa saat itu berada di ketinggian 250 meter dari atas tanah. Pemilihan spot itu lebih tinggi dari rencana awal, karena spot sebelumnya bertekstur tidak merata. Riyan mengatakan, butuh waktu lima hari lima malam masa persiapan pembentangan bedera di Tebing Lingga. Butuh waktu cukup lama mengingat tebing itu memiliki jalur baru. “Pada 12 Agustus itu mulai persiapan, pada 17 Agustus pembentangan bendera yang sesungguhnya,” ujarnya.

Selain obstacle yang dimiliki Tebing Lingga, faktor eksternal yang menjadi penghambat adalah cuaca. Menurut Riyan, pergantian cuaca di Tebing Lingga cukup cepat, tiba-tiba turun hujan kemudian berkabut. Tentu pergantian cuaca itu menjadi hambatan tersendiri bagi climber, karena hal itu mempengaruhi medan pemanjatan menjadi lebih licin. “Dari cuaca juga kadang hujan, kadang berkabut,” tambahnya.

Namun begitu, pengalaman pertama pemanjatan di Tebing Lingga ini dapat menjadi pementik para climber lain untuk ikut memanjat. Apalagi dengan adanya jalur pemanjatan, maka para climber lain bisa lebih aman untuk memanjat di Tebing Lingga. “Jalur pemanjatannya sudah, maka akan dikunjungi climber se-Indonesia,” ujarnya.(*/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.