Semakin Dekat dengan Pembaca

Cerita Para Pedagang Pasar Kesamben Pascarelokasi, Sehari Hanya Laku Dua Baju, Keamanan Kios Masih Minim

KOTA BLITAR – Ratusan pedagang Pasar Kesamben kembali melapak. Meski menempati kios nonpermanen, setidaknya bisa menghidupkan aktivitas jual beli yang sebelumnya sempat mati suri. Sayangnya, relokasi tersebut masih belum berdampak maksimal, terutama pada aspek pendapatan.

Setelah berjibaku mencari modal usaha dan menunggu hingga beberapa pekan, ratusan pedagang Pasar Kesamben akhirnya bisa kembali beraktivitas. Itu setelah mereka mendapat lahan relokasi untuk menjemput cuan. Pemandangan transaksi khas pasar pun kembali tampak dalam balutan nuansa yang sedikit berbeda.

Perbedaan itu terasa jelas kala mereka menghuni deretan kios berbahan dasar galvalum. Bukan di dalam pasar yang biasa menjadi ladang mata pencaharian. Kios-kios yang masih terlihat anyar itu berdiri di Jalan Jaksa Agung Suprapto. Persisnya di ruas jalan timur pasar yang kini rata karena terbakar. Dipilihnya lokasi tersebut tak lepas dari faktor strategis dan tak terlalu berdampak pada arus lalu lintas.

Faedah relokasi sejatinya cukup apik. Pemerintah memfasilitasi para pedagang yang sebelumnya sempat terancam gulung tikar untuk bangkit melapak. Sayangnya, para pengais rezeki itu masih tampak kesulitan mendapatkan pelanggan. Pun, luasan kios yang ditempati dinilai cupet sehingga dagangan tak bisa dipajang secara menyeluruh.

“Alhamdulillah, relokasi ini bisa dapat tempat. Tapi yang harus ada solusinya adalah bagaimana cara membangkitkan omzet dengan ukuran kios yang sangat terbatas ini?,” ujar Dewi Masithoh, pedagang busana di Pasar Kesamben, kemarin (11/1).

Perempuan berkacamata ini bercerita bahwa kali pertama menempati kios tersebut pada Kamis (5/1) lalu. Dia paham betul susahnya menjalankan usaha dengan ukuran kios yang superminimalis itu. Namun, bisa kembali menjajakan dagangannya sudah membuatnya bersyukur, meski sering kali kerepotan dalam display pakaian. Diduga, hal ini pula penyebab sedikitnya pembeli yang berbelanja di tempatnya.

Bahkan, setelah sepekan berjualan di kios baru tersebut, Dewi -sapaan akrabnya- masih ingat berapa potong pakaian yang laku. Yakni, sekitar 10 potong busana. Artinya, dalam sehari, dia menjual rerata dua pakaian saja. Angka ini jelas berbanding terbalik saat masih berjualan di dalam pasar. Bahkan, dalam sehari, dia mampu menjual puluhan pakaian. “Sampai bisa dihitung berapa yang terjual, saking sepinya,” ungkapnya.

Ironisnya, kelamnya insiden kebakaran pasar akhir tahun lalu membuat tiga kiosnya rata dengan. Estimasi kerugiannya mencapai Rp 1 miliar.

Dia menilai tempat barunya untuk melapak itu sejatinya strategis. Namun, saat siang hari, terik matahari membuat pembeli yang singgah terus menurun. Selain itu, lokasi tersebut juga belum sepenuhnya untuk pejalan kaki. “Padahal dulu kabarnya motor dilarang lewat sini. Sampai sekarang juga tidak ditutup, penjualan tidak merata,” terang warga Kesamben ini.

Keluhan juga datang dari pedagang lainnya, Tri Yuni, 50. Bukan hanya mengeluhkan fasilitas relokasi, pihaknya juga dibuat ketar ketir dengan sistem keamanan. Lapak tak dilengkapi dengan penutup sehingga rentan jadi korban pencurian. Akibatnya, mengangkut dagangan berulang kali terpaksa dilakukan saat buka maupun tutup lapak. Ini menjadi kebiasaan baru yang dia lakukan di tempat relokasi ini.

“Sangat berisiko kalau dagangan dibiarkan di sini. Angkut dagangan pakai jasa orang juga tidak gratis. Harus keluar biaya di tengah ekonomi yang surut,” sambungnya.

Kios miliknya kemarin tampak berbeda dengan kios pedagang lain. Ada penutup berbahan dasar aluminium pada bagian depan dan samping, serta dilengkapi gembok. Untuk sistem pengamanan itu, dia harus rela merogoh kocek sekitar Rp 2 juta. Lalu untuk penerangan, tiap kios hanya ada satu fitting lampu. “Bila perlu disediakan stopkontak untuk mendukung transaksi. Kalau penutup itu, saya terpaksa pinjam (bank) demi keamanan,” bebernya.

Disinggung soal omzet penjualan, dia mengaku animo pembeli mulai naik. Sayur-mayur mulai disasar pembeli. Sepekan berjualan, total sekitar 10 kilogram yang sudah terjual. Sayangnya, ini terlampau jauh dari kondisi pasar sebelum dilanda kebakaran. “Dulu setiap hari hampir 75-80 kilogram sayuran macam-macam terjual per hari atau tiap dua hari,” tandasnya.

Mendekati momen Ramadan nanti, dia berharap situasi di pasar bisa kembali normal. Itu karena Ramadan jadi yang paling dinanti pedagang untuk mendongkrak omzet. Dia juga berharap agar pemerintah segera turun tangan membangun pasar agar laik untuk ditempati lagi. (*/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.