Semakin Dekat dengan Pembaca

Cerita Pedagang Pasar Kesamben Pascakebakaran

KABUPATEN BLITAR – Pasar Kesamben telah rata dengan tanah. Bangunan-bangunan kios ”tua” di dalamnya sudah hangus tinggal puing-puing. Sisa-sisa besi bekas yang terbakar dijual ke rongsokan.

“Pak, niki sampun barange. Sampean ndelok (Pak, ini sudah barangnya. Anda lihat),” seru seorang pedagang Pasar Kesamben kepada tukang rongsok, Selasa (29/11) lalu. Pedagang perempuan itu mengumpulkan sisa-sisa barang bekas berbahan besi yang masih bisa dijual di kiosnya yang terbakar habis.

Pedagang terdampak itu mengaku bernama Damiri. Dua kios miliknya yang menjual berbagai barang kebutuhan rumah tangga ludes dilalap api. Tak ada barang dagangan yang tersisa dan bisa diselamatakan.

Perempuan berusia lebih dari setengah abad itu hanya bisa pasrah dengan musibah kebakaran yang terjadi pada Minggu (27/11) malam. Saat itu, dia sempat menyaksikan bagaimana api dari tengah pasar berkobar hingga merembet ke kiosnya. Berdiri termenung di depan pasar. “Inginnya menyelamatkan barang dagangan, tapi sudah tidak bisa. Tidak diperbolehkan,” ungkapnya sembari sibuk mengais barang-barang bekas di kiosnya.

Selasa (29/11) pagi itu, dia tidak sendiri. Ada dua putrinya yang turut membantu mengais barang-barang bekas yang masih bisa dijual ke rongsokan. Satu demi satu barang berbahan besi dikumpulkan untuk diuangkan. “Daripada terbuang sia-sia, lebih baik dijual. Lumayan dapat uang,” ujar perempuan berjilbab itu.

 

BERTAHAN: Darmini menunjukkan koran bekas Jawa Pos Edisi 2010 yang juga menjadi salah satu barang dagangannya. (MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH/RADAR BLITAR)

 

Darmini menjadi salah satu pedagang terdampak. Kiosnya yang berada di sisi barat ikut terbakar. Nasibnya sama seperti ratusan pedagang lainnya. Dia pun harus merugi puluhan juta.

Selama ini, berdagang menjadi mata pencaharian utama. Sehari-hari berjualan di pasar dengan dibantu kedua putrinya. “Satu putri saya sudah tidak melanjutkan kuliah karena terkendala biaya. Daripada nganggur, saya ajak bantu jualan di pasar,” katanya.

Sejak suami jatuh sakit, dia harus bekerja keras mencari penghasilan dari jualan di pasar. Sebab, suaminya sudah sulit beraktivitas. “Suami terkena stroke. Ditambah musibah kebakaran ini. Ya Allah,” ungkapnya, berusaha sabar dan kuat.

Di lokasi, seorang polisi tengah sibuk menyeru beberapa pedagang agar mengumpulkan barang bekas untuk dijual ke rongsokan. Dia berupaya mendata siapa saja pedagang yang ingin menjual barang bekasnya. “Ayo, ayo Bu, monggo siapa lagi. Saya masukkan data, biar mudah nanti. Lumayan bisa dapat uang,” ujar polisi yang bertugas sebagai bhabinkabtimas itu.

Seperti Darmini, Teguh Mujiono, pedagang lain juga mengais barang-barang bekas miliknya yang masih tersisa untuk dijual ke rongsokan. Kios yang berada di deretan sebelah barat ikut ludes terbakar. Tak ada barang dagangan yang bisa diselematkan.

Barang dagangannya berupa sandal hingga sepatu berubah jadi arang. Dia hanya bisa pasrah. Kerugian akibat kebakaran ditaksir mencapai Rp 50 juta. “Ada yang lebih merugi lagi. Itu yang sebelah sana jual produk sandal dan sepatu bermerek, juga ludes semua,” ujar pria berambung gondrong ini.

Sebagian pedagang mengaku belum mengetahui pasti bagaimana nasib selanjutnya pascakebakaran. Entah nanti dibuatkan lapak relokasi sementara untuk berjualan atau tidak. “Tetapi ini tadi (Selasa, 29/11) sudah diminta untuk kumpulkan KTP seluruh pedagang yang menempati kios. Mungkin untuk keperluan relokasi,” ungkap Heni, pedagang pakaian yang terdampak kebakaran.

Dia dan pedagang lain berharap segera ada penanganan lebih lanjut. Terutama menyiapkan tempat relokasi sementara bagi pedagang agar bisa segera kembali berjualan. “Untuk pasarnya juga segera dibangun kembali. Kalau harus menunggu lama, kasihan pedagang. Kalau bisa secepatnya,” pinta perempuan berjilbab ini. (*/c1/wen)

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.