Semakin Dekat dengan Pembaca

Cerita Sardianto Pertahankan Warisan Pusaka Keluarga Generasi Ke Empat, Jamasi Setiap Bulan Maulud

Trenggalek – Malam itu Sardi sedang bertamu ke rumah sahabatnya di Desa Ngadirenggo, Kecamatan Pogalan. Di rumah itu, dia memperlihatkan sejumlah keris dengan ukuran yang berbeda-beda. Mulai dari 10 sentimeter (cm) hingga 30 cm.

Sardi bukan seorang yang mengetahui filosofi keris secara mendetail. Misal, jenis-jenis keris, pakem, dan sebagainya. Dia hanya mengetahui kepingan-kepingan dari warisan asli budaya Jawa tersebut.

Pria ramah itu menghormati keris layaknya orang-orang Jawa tempo dulu. Cara Sardi menghormati itu tampak saat mengeluarkan keris dari Warangka. Tata krama yang dia pelajari yakni dengan menempelkan keris tepat di dahinya.

Di meja tamu itu, Sardi sempat menampilkan keahlian membuat keris-keris itu berdiri, dengan ujung keris berada di bawah. Proses itu berlansung cukup singkat, sekitar hitungan detik.

Keahlian itu menjadi sesuatu yang membuat Sardi merasa puas dalam batinnya. Kepuasan batin itu yang membuatnya tak menyerah untuk mempertahankan warisan keris turun-temurun dari keluarganya. “Orang tua dulu pesannya agar dirawat, begitu saja,” kata warga Desa Rejowinangun, Kecamatan Trenggalek ini.

Sardianto kini diwarisi 13 keris. Dari sisi fungsi, keris-keris itu terbagi dua jenis. Pertama adalah keris yang berguna sebagai senjata. Kedua, keris yang berfungsi sebagai hiasan.

Bagi pria berkulit sawo matang itu, tidak ada di antara keris warisan keluarganya yang paling mencolok atau yang paling dia sukai. Menurutnya, semua keris warisan keluarga adalah sama. “Bagi saya sama saja,” ucapnya, sambil mengamati pamor pada salah satu keris.

Cara pandang itu membuat Sardianto tak membeda-bedakan perlakuannya terhadap masing-masing keris. Cara perawatan dan pemeliharannya sama.

Selama 20 tahun belakang, perawatan keris warisan keluarga Sardi jatuh pada momen Maulid Nabi. Di momen itu, Sardi biasa memandikan 13 keris tersebut. “Ada yang memandikannya itu saat Sura, tapi saya saat Maulid Nabi,” ujarnya.

Bertahun-tahun menjalankan budaya keluarga, Sardi mengaku beberapa kali mendapat pengalaman tidak logis, meskipun pihaknya enggan menceritakan bagaimana detail dari pengalaman tersebut.

Di luar itu, Sardi menilai keris adalah warisan asli budaya Jawa. Sebagai generasi penerus, ada tata cara yang perlu ditaati dalam memperlakukan keris. “Jangan sampai memiliki niat buruk meskipun dalam hati. Karena itu bisa menjadi karma bagi diri sendiri,” tuturnya. (*/c1/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.