Semakin Dekat dengan Pembaca

Cerita Yaning Tri Retno, Milenial Asli Blitar Jadi Juru Bahasa Isyarat, Berikut Suka Dukanya

KABUPATEN BLITAR – Menjadi Juru Bahasa Isyarat (JIB) memang tak semudah mengedipkan mata. Seperti yang dilakukan Yaning Tri Retno, warga Kelurahan/Kecamatan Sutojayan. Baginya, banyak materi yang mesti dikuasai agar pesan bisa dipahami oleh penyandang tuna rungu dan wicara. Suka dan duka pun dirasakan memasuki tahun ketiganya sebagai JIB.

Jemari, mimik wajah, dan gerak bibir hampir setiap hari jadi kunci komunikasi dengan para penyandang tuna rungu dan tuna wicara. Tak mudah berhadapan dengan mereka. Dibutuhkan dedikasi tinggi agar maksud dari setiap gerakan dapat dipahami. Meski profesi JIB kerap dipandang sebelah mata, namun punya tujuan mulia untuk memanusiakan manusia. Terutama mereka yang berkebutuhan khusus.

Setidaknya, perempuan yang karib disapa Yaning ini jadi satu dari sekian banyak milenial inspiratif. Tahun ini di usianya yang memasuki 25 tahun, dia dengan telaten menyalurkan semangat untuk para penyandang tuna rungu. Salah satunya menjadi guru di salah satu sekolah luar biasa (SLB) di daerahnya dan kerap terlibat di rangkaian acara penting sebagai JIB.

Meski kini asyik bergumul dengan para difabel, namun perempuan berkaca mata ini mengungkap suka duka menjadi JIB. Hal yang paling membekas di benaknya yakni saat memeragakan bahasa isyarat di setiap kegiatan. Dia mengaku, selalu ada target yang dia tanamkan di dalam benaknya. Yakni, gerakan harus selaras dengan suara pembicara dan pantang keliru.

“Ini sebenarnya tidak mudah, karena keliru satu gerakan saja akan mengubah maksud. Karena ibaratnya satu gerakan punya banyak arti,” ungkapnya.

Satu hal yang membuat dirinya tersenyum lebar, yakni saat penyandang disabilitas tuna rungu memahami apa yang dia sampaikan. Walaupun bahasa tersebut memiliki tingkat kesulitan yang bervariasi, namun dia bangga menjadi dirinya sendiri. Pendalaman materi yang dia teladani sejak 2018 lalu membuahkan manfaat arif bagi khalayak.

Proses penempaan diri untuk memperkaya isyarat terus dilakukan tiap waktu. Perempuan lulusan S1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Malang ini mengaku, itu karena ada dua model bahasa isyarat yang saat ini digunakan. Yakni, Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Di lingkup sekolah, SIBI legal wajib digunakan.

Untuk diketahui, SIBI memiliki struktur yang sama dengan tata bahasa lisan Indonesia. Misalnya, terdapat awalan dan akhiran. Sementara BISINDO merupakan bahasa isyarat yang muncul secara alami dalam budaya Indonesia dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Kalau bisindo, biasanya dipakai di komunitas mereka, semacam bahasa daerah. Saya sedikit-dikit bisa, tapi masih perlu belajar lagi,” terangnya.

Yaning menyebut, profesi yang dia lakoni ini sempat membuatnya patah arang. Dulu perempuan ramah ini kerap merasa bahwa pesan yang dia sampaikan kurang maksimal. Dia takut tidak semua penyandang tuna rungu memahami isyarat yang dia peragakan. Terlebih, dalam memberikan isyarat yang memuat edukasi.

“Di depan khalayak, merasa belum mampu menyampaikan informasi ke mereka. Rasanya sangat menyesal. Tapi di satu sisi ternyata mereka paham-paham saja. Mungkin karena faktor grogi. Juga sempat mersa belum puas dengan diri sendiri,” sambungnya.

Meski sempat berada di titik kehilangan percaya diri, namun dukungan dari rekan dan keluarga kembali membuatnya bangkit. Dia menyadari bahwa bahasa isyarat ini memiliki peran penting untuk mencerdaskan siswa berkebutuhan khusus. Sebab, lanjut dia, bahasa isyarat merupakan jembatan komunikasi paling efektif untuk penyandang tuna rungu.

Faktor lain yang membuatnya teguh dengan profesi ini yakni susahnya mencari sosok JIB. Kondisi ini membuatnya sadar bahwa kemampuan yang dia miliki sekarang sangat dibutuhkan siswa dan masyarakat berkebutuhan khusus untuk mengetahui ilmu serta peristiwa apa yang tengah terjadi.

“Peran JIB penting, karena cuma ini jembatan mereka berkomunikasi. Ibaratnya itu bahasanya mereka, buat memahami dan mengerti satu sama lain. Selain oral, isyarat tidak bisa dipisahkan dari mereka,” tandasnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.