Semakin Dekat dengan Pembaca

Yustinanda, Guru di Salah Satu SMKN di Blitar Geluti Budidaya Anggrek

KOTA BLITAR – Sebagai guru di era pendidikan modern, Yustinanda Rahma Dewi juga tertantang untuk memberi keilmuan lebih bagi anak didiknya. Berbekal keahlian di bidang agrobisnis, tenaga pendidik di SMKN 1 Kademangan ini memprakarsai budi daya tanaman anggrek di lingkup sekolah. Hasilnya, hasil produksi bisa dibanderol ratusan juta dalam sekali masa panen.

Budi daya anggrek memang bukan perkara mudah. Butuh ketelitian, keuletan, dan kesabaran tingkat tinggi bagi seseorang agar bisa menikmati hasilnya. Namun, bagi Yustinanda Prakarsai, hal itu justru menjadi peluang. Karena itu pula, dia nekat mengajukan pengadaan rumah hijau untuk budi daya anggrek di lingkungan sekolahnya. “Saya mulai sejak 2019 lalu. Alhamdulillah ada lampu hijau dari sekolah dan itu dijadikan salah satu mata pelajaran bidang pertanian,” ujarnya, kemarin(18/12).

Mulanya, dia hanya mengembangkan sekitar 100 bibit anggrek. Dalam kurun waktu tiga tahun, Nanda dan muridnya-muridnya berhasil mengawinsilangkan berbagai varietas. Kini, tak kurang sekitar 5.000 tanaman anggrek mejeng di rumah hijau sekolah.

“Sekarang varietasnya lebih banyak. Total ada lima. Yaitu, spesies dendrobium, phalaenopsis, vanda, cattleya, dan oncidium. Tapi, itu masih bisa disilang-silangkan lagi,” kata Kepala Jurusan Pertanian SMKN 1 Kademangan ini.

Nah, berbagai ilmu terkait budi daya anggrek dia tularkan kepada anak didiknya. Dalam kurun waktu tiga tahun, para murid banyak belajar secara mandiri. Namun, wanita berjilbab ini tetap bertugas untuk memastikan muridnya melakukan perawatan, pengembangbiakan, dan pemasaran bungan anggrek secara benar. “Anak-anak sudah bisa. Bahkan, ada satu alumnus yang bisa menyilangkan dua varietas unggulan. Kabarnya, varietas baru itu sudah dia patenkan di Singapura,” jelas Nanda bangga.

Bicara soal pemasaran, harus diakui jika penikmat bunga anggrek lebih tersegmen atau tidak seperti bunga hias pada umumnya. Namun, justru di sana letak peluang budi daya anggrek. Wanita yang tinggal di Kelurahan Bendo, Kecamatan Kepanjenkidul ini mengungkapkan, para kolektor anggrek tak akan segan merogoh kocek dalam demi menambah koleksi.

“Karena penggemar anggrek itu tahu kalau bunga ini sulit dibudidayakan. Tidak seperti bunga hias lain. Jadi, walaupun penggemarnya hanya orang tertentu, mereka rela membeli sampai ratusan juta untuk satu tanaman (anggrek, Red),” bebernya.

Benar saja. satu jenis anggrek butuh waktu 1,5 hingga 2 tahun untuk siap dipanen dan dipasarkan. Dalam kurun waktu itu, pembudi daya tidak boleh salah langkah dalam melakukan perawatan. Mulai dari media, pupuk, hingga proses pengawinan itu harus detail. “Karena itu pula harga anggrek mahal,” sambungnya.

Selama ini, produk internal sekolah ini dipasarkan ke berbagai wilayah di Jatim. Tidak hanya memanfaatkan media sosial, Nanda dan muridnya juga rajin mengikuti pameran anggrek tingkat provinsi. Nah, dari situ banyak konsumen bisa dijaring. “Kebanyakan yang beli itu dari kalangan umum. Tapi, ada juga beberapa pejabat di tingkat daerah maupun provinsi,” ujar wanita 38 tahun ini.

 

Capaian ini tidak membuat Nanda dan para anak didiknya berpuas diri. Pasar nasional dan internasional menjadi bidikan selanjutnya. Menurutnya, hal ini sekaliguis membuat para muridnya lebih banyak belajar. Bukan hanya soal perawatan, melainkan juga pemasaran bunga anggrek ke pasar yang lebih luas. “Kita harus pastikan murid kita bisa memanfaatkan kesempatan untuk berhasil di bidang pertanian. Salah satunya melalui budi daya anggrek. Sekarang tugasnya adalah untuk mempelajari pasar ke level yang lebih tinggi,” pungkasnya. (*/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.