Semakin Dekat dengan Pembaca

Cerita Yusuf Mahardika dan Vany Arumsari yang Sukses Budi Daya Rumput Pakchong dan Odot Super

TRENGGALEK – Rumput, pastinya sebagian petani menganggapnya sebagai gulma yang mengganggu tanaman utamanya. Namun, hal tersebut mungkin ditampik oleh Yusuf Mahardika dan Vany Arumsari. Saat ini kakak beradik tersebut justru mendapat penghasilan jutaan rupiah setiap bulan karena membudi daya rumput jenis pakchong dan odot super.

Bertani, jika serius ditekuni pastinya akan mendapatkan hasil, termasuk itu bertani tanaman tidak lazim seperti rumput. Sebab, dengan serius menekuni budi daya rumput pakchong dan odot super, kakak beradik asal Desa Panggungsari, Kecamatan Durenan, mendapat penghasilan yang lumayan fantastis. Tak tanggung-tanggung, saat ini lahan yang mereka garap ada di beberapa lokasi. Mereka adalah Yusuf Mahardika dan Vany Arumsari.

Ini terlihat ketika Jawa Pos Radar Trenggalek menemui mereka di lahan persawahan di wilayah Desa Gondang, Kecamatan Tugu. Saat itu mereka terlihat sedang melihat lahannya yang diperkirakan luasnya sekitar 200 ru dengan mayoritas tanaman rumput pakchong. Di sela-sela kegiatan itu, mereka menebar pupuk kompos yang telah disiapkan dan memanen rumput yang sudah dewasa untuk pakan hewan ternaknya. “Di lahan ini belum cukup umur untuk panen, makanya kami memotongnya hanya untuk pakan ternak sendiri. Sedangkan yang sudah umur ada di pekarangan belakang rumah,” ungkap Vany Arumsari kepada koran ini.

Ya, itu dilakukan karena awal mula mereka membudi daya rumput untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak. Meski semula tidak punya lahan yang luas, tetapi mereka tetap semangat dan berusaha dengan menyewa lahan orang hingga saat ini ada di beberapa lokasi. Sebab, mereka sepakat untuk menciptakan swasembada pakan hijauan untuk ternaknya. Itu lantaran sekitar dua tahun lalu, mereka merasakan sulitnya memenuhi kebutuhan pakan ternak. “Karena sulitnya mencari pakan ternak itu, kami sempat mencarinya hingga ke luar kota seperti Blitar, dan melihat rumput jenis ini (pakchong, Red),” katanya.

Hal yang tidak jauh berbeda diungkapkan Yusuf Mahardika. Setelah itu, dia ingin menekuni budi daya rumput tersebut. Langkah pertama yang dilakukan adalah mencari bibit rumput tersebut. Sebab, jika bibit sembarangan, hasilnya pasti tidak seperti yang diharapkan. Apalagi, secara kasat mata, bibit rumput tersebut sama dengan bibit rumput besar yang kerap disebut gajahan. Karena itu, ketika memesan, dirinya kerap beberapa kali mendapatkan rumput gajahan tersebut. Namun, hal tersebut tidak membuatnya patah semangat dan terus mencari bibit yang berkualitas. “Dengan pengalaman itu, saya lebih berhati-hati dalam mencari bibit, hingga berhasil mendapatkannya dari petani di daerah Jawa Tengah,” imbuhnya.

Rumput jenis tersebut dipilih karena proses budi dayanya sangat mudah, juga proses tumbuhnya cepat dan panennya banyak. Apalagi, kebanyakan lahan yang disewa mereka merupakan lahan tidak produktif. Lahan yang sudah lama tidak diolah dan banyak ditumbuhi ilalang. Setelah mendapatkan lahan tersebut, kemudian diolah dengan diberi pupuk, irigasinya diatur, baru ditanami dua jenis rumput tersebut.

Itu dilakukan agar proses tanamannya menjadi lebih mudah dan bisa menghasilkan panen yang banyak. Langkah-langkah yang dilakukan saat membudi daya rumput yakni dengan pemupukan, penyemprotan, proses panen, dan pascapanen. “Kalau mau hasilnya baik, panen 25-30 kilo per meter persegi, tidak boleh telat untuk memupuk dan menyiram. Kalau telat, hasil panennya kurang maksimal,” tutur pria yang akrab disapa Dika ini.

Untuk pupuk sendiri tidak terlalu sulit, sebab dirinya hanya mengandalkan pupuk kompos dari kotoran hewan ternak. Karena itu, tidak jarang peternak yang menjadi langganan memberikan kotoran hewannya sebagai pupuk. Kemudian, untuk proses sesudah dipanen, rumput harus dilayukan dulu beberapa jam sebelum diberikan ke hewan ternak. Kedua jenis rumput tersebut sangat disukai peternak dari luar daerah. Itu dibuktikan saat ini dia memiliki langganan para peternak di daerah tetangga seperti Ponorogo, Kediri, Tulungagung, bahkan Blitar. Dari situ, setiap bulannya rata-rata dia bisa mendapatkan penghasilan bersih sekitar Rp 5 juta. “Rumput ini sangat mudah ditanam dan perawatannya tidak banyak, karena tidak terlalu banyak air dan hanya mengandalkan pupuk kandang. Dengan proses tersebut bisa ikut menyukseskan konsep pertanian terpadu yang saat ini digalakkan pemerintah,” jelas Dika.(*/c1/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.