Semakin Dekat dengan Pembaca

Dampak Positif-Negatif Lato-Lato, Ini Kata Psikolog : Redam Kecanduan Gadget, Waspada Bisa Lukai Diri

KOTA BLITAR – Di tengah kecanggihan teknologi, permainan tradisional justru mulai dilirik masyarakat. Misalnya, lato-lato yang belakangan ini kembali eksis. Tren permainan itu pun turut diamati psikolog. Terutama mengenai dampak psikis bagi anak-anak.

“Tek tek tek,”. Pagi, siang, bahkan hingga malam, suara “berisik” itu terus saja menggema. Tidak di sekitar rumah, di berbagai tempat umum pun selalu terdengar. Mulai di tempat wisata hingga sekolah.

Itulah suara lato-lato. Yakni, sejenis mainan yang dibentur-benturkan. Permainan ini sejatinya sudah digandrungi sejak lama. Dan, kini kembali naik daun. Gaya bermainnya menjadi daya tarik tersendiri.

Dari bentuknya, lato-lato merupakan mainan dengan dua buah pemberat berbentuk bola kecil yang terbuat dari plastik. Ujung dua bola ini dikaitkan dengan tali. Lalu, di ujung bandulan tersebut diikat. Cara bermainnya cukup sederhana. Pemain hanya mengayunkan tali lato-lato ke atas dan ke bawah, hingga bola pemberat itu saling terbentur.

Nah, populernya mainan ini rupanya membawa dampak positif. Terutama dari segi kesehatan. Sebab, bisa melatih syaraf motorik anak atau pemainnya. Bahkan, secara tidak langsung, mainan ini menjadi alternatif peredam candu bermain ponsel. Efeknya, mental dan psikis bisa bekerja optimal.

Seperti yang diungkapkan oleh Psikolog RSUD Ngudi Waluyo, Yeni Rofiqoh. Dia membenarkan bahwa salah satu sisi positif bermain lato-lato adalah mengurangi rasa ketergantungan anak bermain gadget. Sebab, sebaran konten di media sosial (medsos) belum sepenuhnya cocok untuk diserap anak.

“Apalagi, anak sekarang itu main HP canggih-canggih. Nah, sebenarnya dengan lato-lato yang lagi booming, membantu ortu mengatasi anak yang kecanduan main HP,” ungkapnya.

Dampak posistif lainnya, kata Yeni, memungkinkan anak lebih aktif bergerak dan besosialisasi dengan lingkungan. Sebab, secara umum, mainan tradisional memang membutuhkan gerak anggota tubuh tangan, mata untuk mengamati, dan pikiran yang turut merespons.

Namun, lanjut dia, lato-lato hanya mengandalkan gerakan tangan dan sensor motorik di otak. Padahal, ada beberapa permainan tradisional lainnya yang juga lebih bermanfaat dan memungkinkan pemainnya saling bekerja sama. Misalnya, gobak sodor, egrang, hingga petak umpet. ”Rata-rata permainan tradisional ini merangsang kepekaan pemainnya. Terutama pada usia anak yang memang sedang tahap tumbuh kembang,” jelas perempuan berhijab ini.

Tak hanya merangsang kepekaan otak, lato-lato yang notabene permainan klasik ini juga dapat memantik emosi positif pada anak-anak. Seperti emosi senang lantaran merasa berhasil dan bangga mampu memainkannya.

Meski memiliki banyak sisi positif, jelas dia, orang tua tetap harus memantau anak-anak ketika bermain lato-lato. Bisa jadi, saat bermain bersama teman-temannya, sesuatu yang tidak ingin diharapkan terjadi. “Seperti saling melukai lantaran emosi tidak bisa memainkannya dengan benar. Alih-alih gelak tawa, justru anak bisa menangis akibat bertengkar,” tutur perempuan ramah ini.

Yeni mengaku terus mengikuti perkembangan informasi di media massa terkait dampak negatif lato-lato. Menurutnya, tak sedikit anak yang mengalami luka lebam akibat terkena bola mainan ini. Seperti di sekitar mata, wajah, hingga kepala. “Cara mainnya pun ternyata juga tidak mudah. Makanya untuk balita jangan dulu diberi mainan ini. Minimal usia 8 tahun ke atas lebih bisa mengontrol,” tuturnya.

Sisi negatif permainan ini pun lebih terasa jika dimainkan saat anak bersekolah. Menurutnya, permainan ini bisa saja dimainkan sewaktu sekolah ketika kegiatan belajar mengajar (KBM). Namun, jika memang tidak ada korelasinya, guru dan ortu diminta lebih bijak dan tegas dalam menegur siswa yang bermain lato-lato.

Pihaknya menilai, suara lato-lato yang cukup keras justru bisa menimbulkan kegaduhan. Ketika menerima materi pelajaran, anak tak bisa berkonsentrasi dengan baik. “Apalagi kalau main bareng. Guru perlu memberikan aturan tegas agar sebaiknya tidak dimainkan saat di sekolah,” terang perempuan asal Kecamatan Sanankulon ini.

Pendampingan tetap perlu dilakukan secara masif. Ortu pun harus paham kapan anak bermain dan belajar. Dia tak melarang anak memainkan lato-lato, tetapi lebih baik jika dilakukan secara tidak berlebihan. “Anak usia berapa sih yang mampu bermain untuk bisa mengontrol? Ortu wajib mengerti. Permainan tradisional banyak juga yang lebih aman dan bermanfaat,” tandasnya. (*/c1/sub)

Leave A Reply

Your email address will not be published.