Semakin Dekat dengan Pembaca

Dana Alokasi Khusus Buat Lembaga Pendidikan Jenjang SD dan SMP, Belum Terserap 100 Persen

KOTA, Radar Tulungagung – Serapan dana alokasi khusus (DAK) pada lembaga pendidikan jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) belum 100 persen. Kurangnya serapan DAK tersebut terjadi pada pengalokasian non fisik. Sebab adanya sisa penawaran dari penganggaran DAK non fisik tersebut.

Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dispendikpora) Tulungagung Syaifudin Juhri mengatakan, serapan DAK SD dan SMP tahun 2022 tidak mencapai 100 persen. Sebab, adanya sisa penawaran pada penganggaran DAK non fisik di tahun tersebut. Menurutnya meski belum mencapai 100 persen, DAK non fisik telah terpenuhi. “Pencairan keuangannya tidak mencapai 100 persen, tapi sudah terpenuhi. Jadi misalkan yang non fisik itu sisa dari penawaran, tapi sudah bisa dibilang terpenuhi. Kalau yang fisiknya sudah 100 persen. Tidak ada yang melompat ditahun anggaran baru,” jelasnya kemarin (4/01).

Kurangnya serapan DAK tersebut tidak mempengaruhi pendapatan DAK ditahun selanjutnya. Hal tersebut tergantung pada pencairan terakhir dari DAK itu sendiri. Menurutnya setelah pencairan terdapat renggang waktu selama satu bulan guna persiapan. “Jadi ketika pencairan terakhir, di situ ada klausul satu bulan setelah dana masuk ke rekening pokmas. Jadi diberi waktu satu bulan, ada waktu untuk persiapkan diri. Belum akhir tahun sudah selesai,” ucapnya.

Disinggung perihal nominal perolehan DAK jenjang SD dan SMP, dia mengaku bahwasannya tidak hafal akan jumlah nominal DAK tersebut. Kemudian banyaknya bencana alam mengakibatkan bangunan sekolah hancur belakangan ini, dia mengaku, bahwasannya tidak banyak bangunan sekolah hancur akibat terdampak bencana alam di Tulungagung. Pemulihan dampak akibat bencana alam tersebut sangat terbantu dengan adanya kerjasama dari pokmas. “Misalnya di SMPN 1 Besuki, kami waswas ini bisa melanjutkan apa tidak. Alhamdulillah dengan kemampuan pokmasnya akhirnya bisa menyelesaikan dengan baik,” ucapnya.
Kemudian untuk DAK non fisik telah dipergunakan untuk melengkapi sarana pembelajaran, seperti perangkat komputer. Untuk pembelanjaan DAK non fisik sendiri telah menggunakan elektronik katalog (e-katalog). “Kalau di e-katalog itu selagi penyedianya sudah siap ya bisa dibelanjakan,” tutupnya. (mg2/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.