Semakin Dekat dengan Pembaca

Debit Sumber Mata Air Tulungagung, Setiap Tahun Turun

Tulungagung – Kondisi air baku atau sumber mata air di Tulungagung mengalami penurunan debit air. Diketahui, penurunan tersebut berada di angka 3 hingga 5 persen setiap tahun. Perlu penambahan cadangan air baku dari bawah tanah dan penambahan pipa transmisi untuk memenuhi kebutuhan distribusi air bersih di Tulungagung.

Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Cahya Agung Kabupaten Tulungagung, Joko Purnomo mengatakan, kondisi air baku atau sumber mata air di Tulungagung setiap tahun mengalami penurunan debit air. Sebab, kondisi sumber mata air sangat tergantung dengan kondisi hutan di Tulungagung. “Kita sudah berkoordinasi dengan pihak kedinasan terkait untuk melakukan penanaman ulang atau reboisasi. Kalau hutannya gundul, sumber airnya pasti turun drastis,” jelasnya kemarin (23/1).

Diketahui, beberapa air baku yang diperoleh untuk didistribusikan meliputi wilayah Kecamatan Tulungagung dari hulu Sungai Song, Kecamatan Rejotangan dari Sumber Kandung, Kecamatan Campurdarat dari Sumber Udel dan Sumber Gamping, Kecamatan Sendang dari tiga sumber yang berbeda, Kecamatan Ngunut dan Kecamatan Bandung dari air bawah tanah. “Debit air itu penurunannya 3 hingga 5 persen setiap tahunnya di seluruh sumber itu,” ucapnya.

Pihaknya juga menyediakan cadangan sumur di wilayah Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru.

Menurut dia, apabila debit air turun, maka akan menggunakan cadangan sumur atau air bawah tanah tersebut. “Kalau ada penurunan debit air pada sumber-sumber tersebut, ya dibantu dengan cadangan sumur atau air bawah tanah itu lewat pompa,” paparnya.

Kemudian, pada tahun 2023 ini, pihaknya akan mengadakan penambahan jaringan pipa transmisi untuk air baku. Sebab, ada penambahan pelanggan secara signifikan. Berdasarkan ukuran ideal, air dengan debit 1 liter per detik didistribusikan untuk 89 rumah. Diketahui, jumlah keseluruhan pelanggan ada sebanyak 17 ribu lebih, meliputi Kecamatan Kauman, Gondang, Karangrejo, Tulungagung, Kedungwaru, Boyolangu, dan Sumbergempol. “Kalau kita punya pipa pengolahan sebanyak 190 pipa. Itu seharusnya mampu melayani 15.200 pelanggan. Tapi, jumlah keseluruhan pelanggan kita ada 17 ribu lebih hampir 18 ribu. Kita tekor sekitar 2 ribuan itu,” tutupnya. (mg2/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.