Semakin Dekat dengan Pembaca

Depresi, Warga Blitar Tewas Gandir di Pohon

KABUPATEN BLITAR – Prayogo, pria asal Kelurahan Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi, mendadak membuat warga heboh. Sosok yang dikenal tertutup itu ditemukan tewas menggantung pada seutas tali di pekarangan belakang rumahnya kemarin (22/10).

Kasi Humas Polres Blitar Iptu Udiyono mengatakan, korban berusia 36 tahun itu ditemukan dalam kondisi gantung diri (gandir) di salah satu pohon. Setelah ditelusuri, beberapa waktu lalu korban pernah melakukan aksi percobaan bunuh diri dengan menyilet area tangan. Namun, usaha itu gagal setelah diketahui oleh keluarga.

“Saat ditemukan, korban masih pakai baju lengkap. Sebelumnya pernah mau bunuh diri, tapi posisi diketahui keluarga korban,” ujarnya.

Peristiwa gantung diri itu bermula pada Jumat (21/10) pukul 19.30. Saat itu, korban diketahui keluar dari rumah tanpa alasan yang jelas. Setelah ditunggu hingga semalaman, korban tidak kunjung pulang. Hal itu membuat keluarga curiga, tetapi bingung hendak mencari ke mana.

Kakak korban, Supraminto mengatakan, malam itu dia sempat mencari di lingkungan sekitar. Namun, hasilnya nihil. Pencarian itu berlanjut kemarin pagi. Sekitar pukul 05.30, pria berusia 41 tahun itu coba mencari ke pekarangan di belakang rumah. Dari kejauhan, dia melihat sesosok jasad menggantung di sebuah pohon.

“Setelah saya dekati, ternyata itu adik saya. Saya teriaki sudah tidak jawab, ternyata sudah meninggal,” ungkapnya.

Saat ditemukan, korban gantung diri dengan seutas tambang biru yang dikaitkan di pohon rambutan. Korban masih menggunakan busana lengkap. Yakni, kaus abu-abu dan celana olahraga hitam. Suparminto lantas meminta pertolongan warga dan melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Wlingi.

Untuk diketahui, korban sebelumnya sempat mengalami depresi. Sosoknya juga tertutup dan jarang berkomunikasi dengan tetangga dan keluarga. Karena itu, keluarga tidak terlalu paham dengan persoalan yang dialami korban. Suparminto membenarkan, sekitar enam bulan lalu, korban pernah akan mengakhiri hidupnya.

“Pernah mau bunuh diri, mau disilet sendiri tangannya. Tapi akhirnya ketahuan dan diselamatkan keluarga,” imbuhnya.

Setelah dilakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi tidak menemukan luka akibat kekerasan di tubuh korban. Hanya, leher korban tampak luka akibat kuatnya cengkeraman tambang. Selain itu, petugas kesehatan mendapati keluarnya air mani dari kelamin korban, dan dubur mengeluarkan feses.

Udhiyono menambahkan, atas kejadian tersebut pihak keluarga menolak untuk dilakukan otopsi, dibuktikan melalui surat pernyataan. Keluarga meyakini kematian korban juga murni karena bunuh diri. “Setelah dicek kondisi tubuh, korban lalu dibawa ke rumah duka dan dimakamkan,” tandas Udiyono. (luk/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.