Semakin Dekat dengan Pembaca

Dewi Wahyurini, Sediakan Ruang Ekslusif untuk Tumbuh Kembang Tanaman

KOTA BLITAR – Menjadi guru harus sabar dan telaten. Itulah yang dirasakan Dewi Wahyurini. Guru Matematika SMP Negeri 2 Wlingi itu tak hanya sekadar mengajar anak didiknya. Dia juga telaten merawat berbagai jenis tanaman di rumah. Salah satunya anggrek.

Gemercik suara air mengenai permukaan daun tiap pagi. Ragam kembang tampak berjejer di teras hunian asri di Kelurahan Tangkil, Kecamatan Wlingi. Tak boleh mengulur waktu, sebab tiap pukul 06.15, Dewi Wahyurini ini harus bersiap menuju sekolah untuk mengajar. Dia hobi merawat bunga sejak remaja.

Warga asli Bumi Penataran itu kali pertama menjadi seorang guru pada era 1987. Selanjutnya, sekitar 1989 bergeser mengabdi di Pasuruan. Kerinduan dengan keluarga di tanah kelahiran membuatnya mengajukan surat pindah. Alhasil, sejak 1991, dia pulang ke Wlingi dan mengajar di sekolah yang tak jauh dari rumahnya.

Tidak mudah menjadi guru, apalagi di era milenium yang penuh tantangan. Murid yang tak lepas dari pengaruh buruk penggunaan gadget memaksa guru harus memiliki strategi termutakhir. Tujuannya agar konsistensi pelajar dalam menuntut ilmu tidak meredup. Agaknya, ini jadi dambaan tiap tenaga pendidik.

“Selain itu, dengan kemajuan teknologi, guru seusia saya mulai keteteran mengikuti kecanggihan teknologi. Tapi harus terus beradaptasi,” ujar lulusan D3 IKIP Malang 1988 itu.

Dia tak memungkiri, profesinya sebagai seorang guru terkadang mengundang rasa penat. Dewi pun harus cerdik menumbuhkan motivasi untuk membina generasi muda. Pagi hingga siang menjadi guru, saat sore tiba giliran memanjakan diri bersama sejumlah bunga di depan rumahnya. Ini hobi yang sudah dipupuk sejak belia.

Meski sudah berkeluarga, kegemaran itu tetap bertahan. Maklum, semua itu didasari rasa cinta. Tanaman pun, kata dia, bisa tumbuh subur apabila dirawat dengan baik. Nah, waktu yang paling tepat yakni di sore hari. Dia memanfaatkan momentum itu untuk membersihkan teras dan menyirami bunga kesayangan. Mulai dari aglonema, janda bolong, hingga black velvet.

“Pulang mengajar, sore siram-siram tanaman. Namanya senang, mau bagaimana? Tapi tidak ada perawatan khusus, kalau bongkar tanaman tiap Minggu. Lumayan, kadang cuan,” jelasnya.

Sedari awal menempati hunian bergaya minimalis itu, Dewi memang menyiapkan ruang ekslusif untuk tumbuh kembang tanaman. Dia menyadari bahwa tanaman berfungsi penting untuk manusia. Yakni, menyerap gas karbondioksida dan menyuplai oksigen. Selain itu, rumah tampak lebih asri, ditambah kolam ikan koi.

Meski lima hari dalam sepekan sibuk menjadi guru, ditambah hobinya berkebun, tapi perempuan ramah itu tak lupa akan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Jauh sebelum berangkat bekerja, keperluan keluarga sudah dia penuhi bahkan sebelum menunaikkan ibadah salat Subuh. Lalu, disambung dengan beragam pekerjaan rumah lainnya hingga malam tiba.

“Mau bagaimanapun, keluarga tetap yang utama. Persentasenya jelas lebih ke suami dan anak. Mereka juga yang menguatkan saya setiap hari,” lanjut perempuan berkacamata itu.

Dia menambahkan, profesi guru bukan batasan untuk menyalurkan hobi, selama masih dalam konteks positif. Pun, kewajiban mencerdaskan tunas bangsa dan mengurus keluarga tetap menjadi poin mutlak, tak bisa dikompromi. Asalkan mampu membagi waktu sesuai dengan kesibukan tanpa meninggalkan keluarga. (*/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.