Semakin Dekat dengan Pembaca

Di Balik Kesuksesan Puspita Setyo Palupi dari Durenan Raih Juara I GCC Jatim

TULUNGAGUNG – Inovasi mengubah sampah daun menjadi briket yang diajarkan Puspita Setyo Palupi pada anak didiknya berbuah manis. Inovasi tersebut mengantarkannya meraih juara I kategori Lomba Daur Ulang SMA pada acara Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Creative Camp (GCC) yang dilaksanakan oleh Pemprov Jawa Timur (Jatim). Tak ayal, perolehan tersebut membuatnya untuk lebih meningkatkan inovasinya lagi.

Lingkungan di sekitar SMAN 2 Trenggalek banyak terdapat pepohonan rindang yang setiap harinya banyak menghasilkan sampah dedaunan kering. Mungkin hal tersebut yang pertama kali melintas dalam benak Puspita Setyo Palupi, di sela-sela tugasnya mengajar di SMAN 2 Trenggalek tersebut. Betapa tidak, karena banyaknya tumpukan sampah tersebut, dia memikirkan inovasi tentang bagaimana cara memanfaatkan sampah dedaunan kering tersebut agar tidak terbuang begitu saja. “Ketika melihat banyaknya tumpukan sampah daun kering tersebut, saya berpikir bagaimana cara mendaur ulangnya. Sayang jika terbuang sia-sia,” ungkap Puspita Setyo Palupi kepada Radartulungagung.co.id.

Dari situ, lahirlah ide untuk memanfaatkan sampah daun kering yang ada di sekolah sebagai bahan untuk membuat briket arang. Briket merupakan bahan bakar padat. Apalagi dipastikan pada dedaunan kering yang berjatuhan di halaman sekolah, kadar air yang dimiliki jauh berkurang. Dari situ akan lebih mudah untuk dijadikan arang dengan cara dibakar. “Dari situlah akan dihasilkan briket yang nantinya bisa digunakan sebagai bahan bakar alternatif,” katanya.

Untuk proses pembuatan, semua dilakukan dengan bahan alami. Itu terlihat setelah dipastikan sampah daun benar-benar kering, lalu sampah tersebut dimasukkan ke tong untuk proses pembakaran. Dalam pembakaran sendiri, tong tersebut ditutup rapat untuk memastikan agar tidak ada udara baik yang masuk atau keluar. Sebab jika itu terjadi, maka proses pembakaran yang dilakukan akan menghasilkan abu, bukan arang.

Setelah proses pembakaran selesai, arang tersebut dihaluskan dengan cara ditumbuk sampai halus, hingga dilakukan dua kali penyaringan. Jika dipastikan benar-benar halus, barulah masuk tahap perekatan. Dalam tahap ini yang digunakan sebagai perekat adalah campuran antara air dengan tepung tapioka, dengan perbandingan 300 mi liliter air untuk 200 gram tepung tapioka. Pencampuran tersebut dilakukan dengan cara mengaduk dan dipanaskan dengan api kecil. Setelah itu selesai, barulah pada proses pembuatan briket dengan peralatan pengepresan sederhana. Setelah proses itu, briket bisa digunakan masyarakat sebagai bahan bakar energi alternatif.

Apalagi tidak bisa dimungkiri, energi merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat dipisah kan dari kehidupan, dan salah satu bentuk energi tersebut adalah bahan bakar. “Sejauh ini sebagian besar masyarakat masih sangat tergantung dengan bahan bakar minyak dan gas elpiji, yang setiap tahun harganya akan terus mengalami kenaikan. Karena itu, ini bisa jadi energi pilihan yang harganya lebih murah dan tentu ramah lingkungan,” imbuh warga Desa Ngadisuko, Kecamatan Durenan ini.

Leave A Reply

Your email address will not be published.