Semakin Dekat dengan Pembaca

Diduga Jadi Tempat Munculnya Api, Empat Kios di Pasar Kesamben Masih Dipasang Garis Polisi

KABUPATEN BLITAR – Pemicu kebakaran Pasar Kesamben yang melumat 359 kios pada Minggu (27/11) lalu masih misterius. Meski kuat dugaan insiden itu lantaran korsleting listrik, polisi tak lantas membenarkannya. Hasil penyelidikan Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Timur tetap menjadi acuan guna menungkap penyebab kebakaran.

Kasat Reskrim Polres Blitar AKP Tika Pusvitasari mengaku, awalnya pihaknya belum mengetahui proses penyelidikan membutuhkan waktu berapa lama. Data terbaru dari Polda Jatim, ternyata butuh sekitar dua pekan pascakejadian. Artinya, pekan depan polisi sudah mengantongi hasil penelitian tersebut.

“Hasilnya kurang lebih dua mingguan, tapi tergantung bagaimana alur labfor. Karena dengan barang bukti kemarin, bisa jadi tidak mudah dan harus teliti. Dugaan awal korsleting,” ujarnya, kemarin (6/12).

Sebelumnya, terdapat sejumlah barang bukti yang diamankan labfor dari tempat kejadian perkara (TKP). Yakni, piting lampu, kabel, serta beberapa benda lain yang diduga berkaitan dengan kebakaran tersebut. Tika -sapaan akrabnya- memastikan, mayoritas barang yang diamankan itu berasal dari empat kios yang dicurigai sebagai titik awal insiden.

Sementara menunggu hasil laboratorium, pihaknya mensterilisasi satu petak lahan pasar yang ditengarai bersinggungan dengan insiden itu. Sedikitnya terdapat empat kios khusus yang dipasang garis polisi. Dia melarang warga memasuki area tersebut selama proses penyelidikan belum tuntas.

“Karena titik awal api munculnya dari lokasi tersebut. Guna antisipasi, dari labfor masih memerlukan bukti-bukti lain yang mungkin masih ada di TKP,” jelasnya.

Kondisi di lapangan, tak ada lagi warga yang berjualan di area dalam pasar. Namun, lebih dari 20 pedagang tetap memilih berjualan di pelataran pasar. Tak hanya itu, ruas jalan di sisi timur pasar mulai dipadati pedagang. Lokasi tersebut rencananya memang digunakan sebagai relokasi. Lalu, sebagian pedagang baju hingga sayur-mayur juga memanfaatkan separo pasar hewan. Lokasinya persis di selatan Pasar Kesamben.

Salah seorang pedagang, Bina mengaku, sejak sterilisasi pasar, pihaknya dan rekan sejawat lainnya memilih berjualan di pasar hewan. Meski harus numpang sementara, tetapi itu tetap dia lakukan agar ekonomi tetap berjalan. Sayangnya, kebakaran tersebut turut menurunkan omzet penjualan.

“Otomatis turun. Kami juga ikut menunggu hasil penelitian polisi dan berharap semoga cepat dibangun lagi,” tandasnya.

Untuk diketahui, dampak insiden kebakaran Pasar Kesamben bulan lalu memicu kerugian ditaksir mencapai Rp 25 miliar. Meski nihil korban jiwa, tetapi seluruh kios rata tanah. Hingga kemarin, pemkab masih melakukan perencanaan relokasi. Hasil sementara, sekitar 330 lapak bakal disediakan untuk masing-masing pedagang. (luk/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.