Semakin Dekat dengan Pembaca

Dua Mahasiswa STKIP PGRI Trenggalek Cetak Prestasi di Olimpiade Tingkat Nasional Presmanesa

TRENGGALEK- Suasana kampus STKIP PGRI Trenggalek di Desa Ngares, Kecamatan Trenggalek, terlihat sejuk. Wajar saja, karena matahari masih sepenggalah tingginya dan sesekali angin sepoi-sepoi bertiup.
Setelah menunggu beberapa saat, Koran ini pun akhirnya bisa bertemu dengan Rahma Hanifa, mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI).

Raut wajahnya masih belum bisa menghilangkan kebahagiaan bisa berbicara lantang di kancah nasional. Apalagi, beberapa waktu lalu dia menyabet juara satu lomba baca puisi tingkat nasional di Universitas Ahmad Dahlan, Jogjakarta. “Apa yang saya raih ini tidak lepas dari bimbingan Pak Widi Suharto selaku dosen saya,” katanya memulai obrolan.

Cewek yang berdomisili di Desa Sambirejo, Kecamatan Trenggalek, ini mengaku cukup keteteran dalam mempersiapkan materi lomba. Mengingat, di saat bersamaan dia harus mengerjakan penelitian di luar kampus dengan mengajar di Kecamatan Pule. Padahal, mereka yang diterjunkan ke lomba harus dilatih di kediaman sang dosen untuk beberapa hari. “Makanya sampai kini saya masih belum percaya bisa menjadi yang terbaik. Karena di saat bersamaan harus mengerjakan banyak tugas dari kampus. Alhasil, dua hari sebelum latihan ditutup, saya baru bisa bergabung,” tambahnya.

Untuk mengikuti lomba ini, dia harus take video bersama rekan-rekannya yang lain. Bahkan, prosesnya cukup panjang dari pagi sampai sore. Setelah melakukan take video bersama, masing-masing meng-upload video lomba baca puisi mereka ke akun YouTube masing-masing sesuai peraturan lomba untuk diseleksi menuju final. “Saya kaget saat pengumuman, nama saya tercantum untuk masuk babak final dan mendapat juara satu. Akhirnya, saya pun diundang untuk mengikuti acara penutupan Milad Ke-41 PBSI FKIP UAD,” tuturnya.

Sekadar diketahui, sebelum kejuaraan ini, Rahma juga sering memenangkan beberapa kompetisi bertaraf internasional. Seperti, lomba simulasi mengajar yang dilaksanakan di Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung, Jawa Barat, pada Oktober 2022. Serta beberapa lainnya seperti juara 2 voice over tingkat nasional dan juara 2 lomba cipta puisi tingkat nasional. Hal ini tentunya menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri bagi mahasiswa semester 6 yang baru saja mengikuti program Kampus Mengajar angkatan 4 di Pule ini. “Saya masih jauh dari kata sempurna dan masih dangkal akan ilmu sehingga harus belajar lebih dalam lagi. Saya berharap prestasi ini bisa menginspirasi mahasiwa lainnya khususnya di STKIP PGRI Trenggalek. Mumpung masih muda, kita habisin jatah gagal kita. Toh bisa dicoba lagi,” paparnya lantas tertawa.

Dia pun mengucapkan terima kasih atas dukungan dari teman-temannya, khusunya sahabat dekat yang ia sebut “Sobat Prengki” dan “Tim Repot” yang selalu membantu dan mendukungnya sampai sekarang.
Hal yang kurang lebih sama juga dialami Anisa Listia Wardani. Ternyata sebelum terjun ke Pekan Sains dan Olimpiade Nasional 2023 yang diselenggarakan Yayasan Prestasi Maju Indonesia (Presmanesia), perasaan ragu sempat menyergap benaknya. “Akhirnya tetap ikut, karena saya berniat untuk menuntut ilmu dan keinginan meraih pengalaman serta pengembangan diri,” jelasnya.

Bagi dia, kompetisi adalah sebuah media atau tempat untuk menguji kemampuan dan belajar. Karena dengan mengikuti kompetisi, seseorang dapat termotivasi untuk mempelajari banyak hal. “Saya tetap upgrade dalam kemampuan saya untuk mengikuti kompetisi dalam bidang lainnya,” imbuhnya.

Pelaksanaan olimpiade nasional itu dilangsungkan secara daring, yang diberikan waktu selama 1 jam 40 menit. Anisa berhasil membuktikan diri di olimpiade nasional yang diikuti 2.700 lebih mahasiswa se-Indonesia.
Usut punya usut, cewek ramah ini memiliki minat tinggi dalam bidang akademik untuk mengembangkan potensi diri. Sejauh ini, dia sudah menemukan kendali yang dihadapinya. Namun, dia tetap berusaha untuk memerangi kemalasan yang mengurungnya dari zona nyaman. Bahkan, sampai hari ini, minat tersebut tetap ada dan selalu ingin diasah melalui berbagai cara. Salah satunya melalui kompetisi olimpiade nasional yang diikutinya ini. “Mengikuti kompetisi dalam olimpiade menjadi salah satu cara untuk mengasah minat dalam bidang akademik. Kalau perlu, kita pun harus menggeluti bidang lain dengan mencoba hal baru,” ungkapnya.

Di dalam dan luar kampus, dia bahkan menyukai bidang nonakademik dengan mengikuti organisasi atau himpunan mahasiswa. Hal ini bisa membuat dirinya mengeksplorasi tentang dunia sekitar, berjiwa kepemimpinan, melatih kedisiplinan, keberanian, bernegoisasi, dan berdiskusi dengan orang lain. “Jangan cuma terpaku dalam satu hal, berlarilah ke arah mana pun untuk keluar dari zona nyaman. Karena upgrade diri tidak bisa dilakukan secara diam, tetapi bergerak, belajar, dan terus berkarya,” tandasnya.(*/c1/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.