Semakin Dekat dengan Pembaca

Ekonomi Picu Kasus ODGJ

KOTA BLITAR – Kasus penyakit orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Bumi Penataran belum sepenuhnya tuntas. Justru, tahun ini jumlahnya kian meningkat. Faktor ekonomi dan persoalan keluarga paling banyak jadi pemicunya.

Subko Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Kesehatan Jiwa (Keswa), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar dr Hyndra Satria Cahyono membenarkan hal tersebut. Menurutnya, dua poin itu kerap jadi penyebab munculnya gangguan jiwa. Hal ini diketahui saat observasi dengan pihak keluarga pasien.

“Ada masalah keluarga yang terus dipikir akhirnya tertekan dan menderita gangguan tersebut. Ini yang kerap terjadi di samping impitan ekonomi,” ujarnya.

Hyndra enggan berkomentar apakah pandemi jadi pemicu kasus ODGJ. Namun, itu bisa saja dikaitkan dengan perekonomian warga yang sempat merosot. Tak menutup kemungkinan jika situasi pagebluk turut berdampak pada kesehatan mental.

Catatan dinkes, kasus ODGJ berat di Kabupaten Blitar tahun ini sebanyak 2.146 penderita. Dari jumlah itu, 1.794 penderita melakoni pengobatan rutin. Data ini sedikit meningkat jika dibandingkan tahun lalu yang jumlahnya sekitar 2.127 kasus. Hyndra menilai, kenaikan itu bukan tanpa sebab. Selain pasien yang masih bisa kambuh, penambahan juga terjadi dari luar kota atau perpindahan penduduk.

“Penambahan kasus bisa dari luar kota. Dulu warga lokal, dan saat pulang ke sini justru kondisi seperti itu. Lalu masuk data kami,” imbuh pria tinggi semampai ini.

Pengobatan pasien ODGJ, lanjut dia, bisa diakses di puskesmas atau rumah sakit daerah secara cuma-cuma. Pasien juga bisa mendapat layanan pemulihan di posyandu jiwa di 22 kecamatan yang tersebar di Bumi Penataran. Namun, kunjungan psikiatri hanya terdapat di tiga titik. Yakni, di Puskesmas Srengat, Kademangan, dan Kesamben. “Psikiatri itu layanan sebulan sekali dan bergantian,” sambungnya.

Pemulihan kondisi kejiwaan ini tak cuma dari pengobatan di faskes. Namun, itu juga melibatkan keluarga yang notabene memiliki peran penting dan paling memahami kondisi pasien. Untuk itu, pihaknya meminta pasien ODGJ tetap mendapat perhatian dari keluarga dan tidak menjadikannya beban. Sebab, penderita tetap bisa disembuhkan.

“Bisa sembuh, tapi melibatkan banyak sektor untuk pemulihan kondisi. Yang inti adalah dari keluarga dan lingkungan masyarakat,” tandasnya.

Sebelumnya, Kabupaten Blitar urung maksimal dalam program zero pasung. Buktinya, 18 penderita ODGJ tahun ini masih dikurung pihak keluarga. Dinkes bersama lintas sektor belum bisa melakukan pembebasan lantaran keluarga khawatir pasien mengganggu kondusivitas lingkungan. (luk/ c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.