Semakin Dekat dengan Pembaca

Ekspresikan Nasionalisme Wahyudi Produksi Patung Garuda Pancasila, bagikan Secara Gratis ke Warga

Tulungagung – Bahkan ketika dihampiri Wahyudi, 35, warga terlihat sibuk memproduksi patung ukurannya 40 sentimeter (cm). Namun sangat mudah untuk menemukan rumahnya, lantaran di Desa Tawing hanya huniannya yang terdapat patung garuda di pagar rumahnya.

Untuk patung garuda lambang negara tersebut biasa di temui di kantor dinas pemerintahan, salah satunya di Kantor Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Tulungagung. Bahkan beberapa kantor desa di Kota Marmer ini terlihat patung tersebut. Tidak banyak orang tahu bila warga Tulungagung yang memproduksi benda berwarna keemasan itu.

“Saya buat patung garuda ini sejak tahun 2010 dan dibagikan ke orang-orang secara cuma-cuma. Namun banyak orang yang mengira kalau kegiatan saya ini diperjualbelikan. Apalagi saya produksinya banyak,” ujar Wahyudi ketika ditemui di rumahnya kemarin (17/1).

Namun sebelum membuat patung garuda lambang negara ini, tentu Wahyudi harus melalui riset terlebih dahulu. Dia mengaku harus merenung mencari filosofi tiap sila Pancasila yang lambangnya terdapat di patung garuda.
Dia sering mempertanyakan kepada dirinya sendiri terkait adanya Pancasila di lambang garuda. Itu bisa memperkuat spiritualnya.

Dia juga mengulik sejarah pemerintah Indonesia memilih burung garuda menjadi lambang negara. Hingga mengetahui bila riwayat adanya garuda itu dari suatu legenda Ramayana yang didapat sebuah literatur. Dari cerita itu, didapatkan kesimpulan hingga akhirnya dia yakin untuk dapat membuat patung garuda yang terdapat 5 sila di dadanya.

“Ternyata dari cerita legenda Ramayana Garuda itu merupakan kendaraan dari Wisnu atau dewa. Maka kisah itu menjadi dasar dan alasan saya memproduksi patung lambang negara secara cuma-cuma,” ungkapnya.
Bahkan atas rasa cintanya terhadap Pancasila yang cukup tinggi, Wahyudi pernah ikut tergabung dalam Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Jawa Timur (Jatim). Namun tidak lama kemudian dia keluar dari organisasi tersebut hingga kembali ke Tulungagung. Dia menemukan ideologi Pancasila tersendiri dengan membuat patung garuda itu.

Sejak 2010 itu, Wahyudi memberikan patung garuda secara gratis kepada gratis kepada orang-orang yang datang langsung ke rumahnya. Dari kepala daerah, anggota kedinasan, sekolah dan instansi pemerintah yang lain, hingga anak kecil tertarik dengan kerajinan tangan yang dibuatnya. Apalagi diberikan secara gratis, padahal bila membeli di toko, harganya lebih dari Rp 100 ribu.

“Ada banyak orang luar kota yang saya kasih patung garuda ini. Bahka BPIP saya kasih lebih dari 150 biji dan banyak yang menanyakan alasan melakoni hal ini. Terjauh membawa patung garuda ini orang Kalimantan,” tandasnya.
Mereka banyak yang mengetahui karya yang dibuat Wahyudi sejak dia bergabung di BPIP dulu. Dari organisasi itu, banyak temannya getok tular terkait aktivitasnya yang memiliki kemampuan membuat patung garuda. Bahkan, dia sampai memiliki julukan Wahyu Garuda, karena memiliki kegiatan kerajinan tangan tersebut.

Rumahnya dipenuhi patung garuda berwarna keemasan yang ukurannya dari 40 cm hingga 70 cm. Dia dibantu oleh lebih dari 15 orang dalam produksi, termasuk ayahnya juga terkadang membantu mengemasi patung garuda. Apalagi juga ditemui mahasiswa asal Surabaya yang sengaja datang ke rumahnya untuk belajar kebangsaan dan membuat patung garuda itu.

Dia menunjukkan ruang produksi yang berada di bagian depan rumahnya, terlihat ratusan patung garuda yang terbuat dari fiber glass, beserta alat cetaknya. Namun yang diperlihatkan patung dengan warna dasar merah, sebelum akhirnya diwarnai dengan keemasan.

“Produksinya selain di Tulungagung, juga ada di Kediri, Blitar, Trenggalek, Ponorogo dan Surabaya. Saya hanya mengirim bahan saja dan ada orang tersendiri di luar kota yang membuatnya. Selain itu, bahan fiber glass juga awet,” terangnya.
Tentu niat Wahyudi yang membagikan patung garuda secara gratis banyak dipertanyakan orang, lantaran modalnya tentu tidak sedikit. Namun dia menanggapi karena hal itu merupakan rasa kecintaanya terhadap Pancasila dan bangsa Indonesia. Kegiatan itu bukan pekerjaan utamanya, dia juga peternak jangkrik, sehingga sebagian penghasilannya untuk modal produksi patung itu.

Bahkan dalam waktu dekat Wahyudi berencana untuk membagikan secara gratis patung garuda Pancasila itu kepada setiap instansi pemerintah di Tulungagung. Namun tidak hanya itu, dia juga sedang proses menulis buku tentang kebangsaan untuk mendampingi diberikannya patung garuda ke pemerintahan. Maka dari itu, tidak sekedar patung saja yang diberikan, namun juga filosofi yang ada di lambang negara berserta pansila yang dipahaminya.

“Saya masih menyelesaikan buku dulu, setelah itu akan membagikan patung secara gartis ke intansi pemerintahan bahkan tiap kantor desa di Tulungagung harus ada. Bahkan siapun yang meminta patung garuda Pancasila akan saya beri gratis,” pungkasnya. (*/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.