Semakin Dekat dengan Pembaca

Enam Orang Penderita TB Kebal Obat

KOTA BLITAR – Selain Covid-19, masyarakat tak boleh lengah dengan tuberkulosis (TB). Sebab, penyakit yang menyerang paru-paru itu berpotensi menimbulkan kematian bagi penderitanya. Sebagian pasien di Bumi Penataran harus menjalani perawatan lebih lama lantaran bergejala TB kebal obat alias multidrug resistance (MDR).

Subko Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P3M) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, Eko Wahyudi mengatakan, selama periode Januari hingga Agustus ditemukan pasien TB kebal obat sebanyak enam orang. Mereka masih dalam perawatan di fasilitas layanan kesehatan (fasyankes).

“Ada satu pasien yang sebelumnya TB kebal obat, tapi meninggal dunia, karena memang sudah berat. Sisanya masih pengobatan,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Disinggung bagaimana deteksi awal, Eko mengaku, masyarakat dapat melakukan pemeriksaan di rumah sakit daerah menggunakan alat tes cepat molekuler (TCM). Hasil dari deteksi awal itu bisa langsung diketahui. Alat tersebut juga bisa membedakan gejala TB biasa ataupun kebal obat. Dengan begitu, bisa segera dilakukan penanganan medis.

“Yang pasti, awalnya pasien memiliki gejala mengarah TB. Pemeriksaan itu dilakukan lewat TCM, kemudian bisa dibedakan,” jelasnya.

Gejala kebal obat ini memang membutuhkan tahap penyembuhan yang lebih lama. Yakni, sekitar sembilan hingga delapan belas bulan pengobatan. Itu lebih lama jika dibandingkan dengan TB reguler. Sebab, hanya membutuhkan penyembuhan selama enam hingga delapan bulan saja.

Eko menambahkan, jumlah dan dosis obat untuk pasien TB kebal obat lebih banyak. Tujuannya agar kerja obat dapat diterima tubuh. Dinkes meminta pasien mengonsumsi obat sesuai resep dan menjaga pola makan. Sebab, penyakit tersebut turut dipengaruhi dari tingkat kebersihan lingkungan.

“Pemeriksaan ini harus rutin. Karena, daerah kami faskes satelit. Pengobatan awal di rumah sakit Malang dan Tulungagung. Tapi kalau pengobatan berikutnya, berlanjut di faskes domisili rumah pasien,” tandasnya.

Untuk diketahui, selama periode yang sama, terdapat 418 kasus TB yang tersebar di 22 kecamatan. Dari data tersebut, 18 orang meninggal dunia lantaran terlambat berobat ke fasyankes. (luk/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.